DASAR-DASAR TEORI DARI METODE
PEMULIAAN TANAMAN
Strategi Dasar Pemuliaan Tanaman.
3 strategi dasar pemuliaan tanaman antara lain:
1. Koleksi Plasma
Nuftah
Plasma nutfah adalah bahan baku dasar pemuliaan karena di
sini tersimpan berbagai keanekaragaman sifat yang dimiliki oleh masing-masing
nomor koleksi (aksesi). Tanpa keanekaragaman, perbaikan sifat tidak mungkin
dilakukan. Usaha pencarian plasma nutfah baru berarti eksplorasi ke
tempat-tempat yang secara tradisional menjadi pusat keanekaragaman hayati (atau
hutan) atau dengan melakukan pertukaran koleksi. Lembaga-lembaga publik seperti
IRRI dan CIMMYT menyediakan koleksi plasma nutfah bagi publik secara bebas bea,
namun untuk kepentingan bisnis diatur oleh perjanjian antara pihak-pihak yang
terkait.
2. Peningkatan
keragaman (variabilitas) genetik.
Apabila aksesi tidak ada satu pun yang memiliki suatu sifat
yang diinginkan, pemulia tanaman melakukan beberapa cara untuk merakit individu
yang memiliki sifat ini. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah introduksi
bahan koleksi, persilangan, manipulasi kromosom, mutasi dengan paparan
radioaktif atau bahan kimia tertentu, penggabungan (fusi) protoplas/inti sel, manipulasi
urutan gen, transfer gen, dan manipulasi regulasi gen.
Empat cara yang disebut terakhir kerap dianggap sebagai
bagian dari bioteknologi pertanian (green biotechnology). Tiga cara yang
terakhir adalah bagian dari rekayasa genetika dan dianggap sebagai
"pemuliaan tanaman molekular" karena menggunakan metode-metode
biologi molekular.
Peningkatan keragaman (variabilitas) genetik antara lain:
1. Introduksi
Intoduksi adalah mendatangkan bahan tanam dari tempat lain
(introduksi) merupakan cara paling sederhana untuk meningkatkan keragaman
(variabilitas) genetik. Seleksi penyaringan (screening) dilakukan terhadap
koleksi plasma nutfah yang didatangkan dari berbagai tempat dengan kondisi
lingkungan yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang pusat keanekaragaman
(diversitas) tumbuhan penting untuk penerapan cara ini. Contoh pemuliaan yang
dilakukan dengan cara ini adalah pemuliaan untuk berbagai jenis tanaman buah
asli Indonesia, seperti durian dan rambutan, atau tanaman pohon lain yang mudah
diperbanyak secara vegetatif, seperti ketela pohon dan jarak pagar. Introduksi
dapat dikombinasi dengan persilangan. Introduksi tanaman selain menambah
keragaman tanaman mempunyai manfaat lain yaitu :
a. memajukan
bidang industri,dengan mendatangkan tanaman-tanaman industri seperti tanaman
kehutanan, tanaman obat-obatan dan tanaman industri lainnya.
b. Memenuhi
kebutuhan aestetik dengan mendatangkan tanaman-tanaman ornamental untuk
melengkapi koleksi kebun-kebun, taman-taman, gedung-gedung sehingga menciptakan
keindahan tersendiri.
c. Untuk
mempelajari asal, distribusi, klasifikasi dan evolusi dari tanaman dengan jalan
memelihara tanaman yang diintroduksi di tempat tertentu kenmudian dipelejari
data-datanya secara mendetail. Untuk peningkatan mutu tanaman.
2. Persilangan
Persilangan merupakan cara yang paling populer untuk
meningkatkan variabilitas genetik, bahkan sampai sekarang karena murah,
efektif, dan relatif mudah dilakukan. Walaupun secara teknis relatif mudah,
keberhasilan persilangan perlu mempertimbangkan ketepatan waktu berbunga
(sinkronisasi), keadaan lingkungan yang mendukung, kemungkinan
inkompatibilitas, dan sterilitas keturunan. Keterampilan teknis dari petugas
persilangan juga dapat berpengaruh pada keberhasilan persilangan. Pada sejumlah
tanaman, seperti jagung, padi, dan Brassica napus (rapa), penggunaan teknologi
mandul jantan dapat membantu mengurangi hambatan teknis karena persilangan
dapat dilakukan tanpa bantuan manusia.
Sesuai dengan hubungan kekeluargaan tanaman yang akan disilangkan
ada beberapa macam persilangan :
a. Intravarietal
: persilangan antara tanaman-tanaman yang varietasnya sama.
b. Intervarietal
: persilangan antara tanaman-tanaman yang berasala dari varietas yang berbeda
tetapi masih dalam spesies yang sama. Juga disebut persilangan Intraspesifik
c. Interspesifik
: persilangan dari tanaman-tanaman yang berbeda spesies tetapi masih dalam
genus yang sama. Juga disebut persilangan Intragenerik. Persilangan ini
dilakukan untuk maksud memindahkan daya ressistensi terhadap hama, penyakit dan
kekeringan dari suatu spesies ke lain spesies. Misal : tomat, tebu
d. Intergenerik:
persilangan antara tanaman-tanaman dari genera yang berbeda. Persilangan ini
dilakukan untuk menstransfer daya resisten hama,penyakit dan kekeringan dari
genera-genera yang masih liar ke genera-genera yang sudah dibudidayakan. Misal
tebu dan glagah lobak dan kubis.
e. Introgresive:
pada tipe persilangan ini salah satu spesies seolah-olah sifatnya mendominir
sifat-sifat spesies yang lain sehingga populasi hybrid yang terbentuk
seolah-olah hanya terdiri atas satu jenis spesies yang mendominir tersebut.
3. Pemuliaan
dengan bantuan mutasi
Pemuliaan tanaman dengan bantuan mutasi (dikenal pula
sebagai pemuliaan tanaman mutasi) adalah teknik yang pernah cukup populer untuk
menghasilkan variasi-variasi sifat baru. Teknik ini pertama kali diterapkan oleh
Stadler pada tahun 1924 tetapi prinsip-prinsip pemanfaatannya untuk pemuliaan
tanaman diletakkan oleh Åke Gustafsson dari Swedia. Tanaman dipaparkan pada
sinar radioaktif dari isotop tertentu (biasanya kobal-60) dengan dosis rendah
sehingga tidak mematikan tetapi mengubah sejumlah basa DNA-nya. Mutasi pada gen
akan dapat mengubah penampilan tanaman. Pada tanaman yang dapat diperbanyak
secara vegetatif, induksi jaringan kimera sudah cukup untuk menghasilkan
kultivar baru. Pada tanaman yang diperbanyak dengan biji, mutasi harus terbawa
oleh sel-sel reproduktif, dan generasi selanjutnya (biasa disebut M2, M3, dan
seterusnya) diseleksi.
Macam-macam Mutasi :
a. Mutasi gen :
Dapat terjadi baik pada jaringan vegetatif maupun generatif
dari tanaman. Gen letaknya teratur dalam kromosom, dengan pengaruh fisis/khemis
maka letak gen dalam kromosom secara spontan dapat berubah, sehingga menghadapi
mutasi gen. Mutasi gen bukan saja menyebabkan perubahan phenotype saja tetapi
juga menyebabkan terpengaruhnya pertumbuhan, pertukaran zat dan proses-proses
fisiologis lainnya.
b. Mutasi genom :
Pada peristiwa ini jumlah genome individu mengalami
perubahan dan mutasi genome selalu mengakibatkan gejala heteroploid/
amphidiploid/aneuploid yaitu gejala terbentuknya individu poliploid dimana
jumlah kromosomnya bukan merupakan kelipatan yang sempurna dari
genom/haploidnya.
Pada tanaman diploid normal mempunyai
formula.anggota-anggota heteroploidnya sebagai berikut :
Nama
Simbul Formula
Ø Nullisomic 2x – 2 (AB) (AB)
Ø Monososic 2x – 1 (ABC) (AB)
Ø Double
Monosomic 2x – 1 – 1 (AB) (AC)
Ø Trisomic 2x + 1 (ABC) (ABC)(C)
Ø Double
Trisomic 2x +1 + 1 (ABC) (ABC) (A) (B)
Ø Monosomic
trisomic 2x – 1 + 1 (ABC) (AB) (A)
c. Mutasi
Kromosom
Ada beberapa macam Mutasi Kromosom
1.
Fragmentasi : peristiwa
terpecahnya kromosom
2.
Translokasi :
pertukaran segmen / potongan kromosom
yang tidak
Homolog
3. Inversi : terputusnya bagian
kromosom & tersusun
kembali dengan arah
terbalik
4.
Defisiensi :
hilangnya bagian kromosom yang terletak
pada ujung
ujungnya
5. Delesi : hilangnya bagian kromosom
yang ditengah
6. Duplikasi : penggandaan bagian kromosom
d. Mutasi Plasmon
Dan Plastidom
Pada persilangan resiprok, hybrid yang terjadi seringkali
berbeda-beda. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa plasma dan plastida mengambil
bagian juga dalam proses keturunan. Suatu varietas tanaman apabila terjadi
mutasi plasmon, plasmanya akan berlainan>Warna blontang-blontang pada daun
disebabkan karena mutasi plastidom. Mutasi plasmon dan plastidom mempunyai
prospek yang menarik dalam bidang hortikultura, terutama tanaman hias yang
dikomersiilkan.
4. Transfer Gen
Dalam transfer gen, fragmen DNA dari organisme lain (baik
mikroba, hewan, atau tanaman), atau dapat pula gen sintetik, disisipkan ke
dalam tanaman penerima dengan harapan gen "baru" ini akan terekspresi
dan meningkatkan keunggulan tanaman tersebut. Strategi pemuliaan ini banyak
mendapat penentangan dari kelompok-kelompok lingkungan karena kultivar yang
dihasilkan dianggap membahayakan lingkungan jika dibudidayakan.
5. Manipulasi
kromosom
Yang termasuk dalam cara ini adalah semua manipulasi ploidi,
baikpoliploidisasi (penggandaan genom) maupun pengubahan jumlah kromosom.Gandum
roti dikembangkan dari penggabungan tiga genom spesies yang berbeda-beda.
Semangka tanpa biji dikembangkan dari persilangan semangka tetraploiddengan
semangka diploid. Pengubahan jumlah kromosom (seperti pembuatan galur trisomik
atau monosomik) biasanya dilakukan sebagai alat analisis genetik untuk
menentukan posisi gen-gen yang mengatur sifat tertentu. Galur dengan jumlah
kromosom yang tidak berimbang seperti itu mengalami hambatan dalam
pertumbuhannya. Teknik pemuliaan ini sebenarnya juga mengandalkan persilangan
dalam praktiknya.
6. Manipulasi gen
dan ekspresinya
Metode-metode yang melibatkan penerapan genetika molekular
masuk dalam kelompok ini, seperti teknologi antisense, peredaman gen
(termasukinterferensi RNA), rekayasa gen, dan overexpression. Meskipun
teknik-teknik ini telah diketahui berhasil diterapkan dalam skala percobaan,
belum ada kultivar komersial yang dirilis dengan cara-cara ini.
3. Identifikasi
dan Seleksi Terhadap Bahan Pemuliaan
Bahan atau materi pemuliaan dengan keanekaragaman yang luas
selanjutnya perlu diidentifikasi sifat-sifat khas yang dibawanya, diseleksi
berdasarkan hasil identifikasi sesuai dengan tujuan program pemuliaan, dan
dievaluasi kestabilan sifatnya sebelum dinyatakan layak dilepas kepada publik.
Dalam proses ini penguasaan berbagai metode percobaan, metode seleksi, dan juga
"naluri" oleh seorang pemulia sangat diperlukan.
a. Identifikasi
Keunggulan
Usaha perluasan keanekaragaman akan menghasilkan banyak
bahan yang harus diidentifikasi. Pertimbangan sumber daya menjadi faktor
pembatas dalam menguji banyak bahan pemuliaan. Di masa lalu identifikasi
dilakukan dengan pengamatan yang mengandalkan naluri seorang pemulia dalam
memilih beberapa individu unggulan. Program pemuliaan modern mengandalkan
rancangan percobaan yang diusahakan seekonomis tetapi seakurat mungkin.
Percobaan dapat dilakukan di laboratorium untuk pengujian genotipe/penanda
genetik atau biokimia, di rumah kaca untuk penyaringan ketahanan terhadap hama
atau penyakit, atau lingkungan di bawah optimal, serta di lapangan terbuka.
Tahap identifikasi dapat dilakukan terpisah maupun terintegrasi dengan tahap
seleksi.
b. Seleksi
Banyak metode seleksi yang dapat diterapkan, penggunaan
masing-masing ditentukan oleh berbagai hal, seperti moda reproduksi (klonal,
berpenyerbukan sendiri, atau silang), heritabilitas sifat yang menjadi target
pemuliaan, serta ketersediaan biaya dan fasilitas, serta jenis kultivar yang
akan dibuat. Tanaman yang dapat diperbanyak secara klonal merupakan tanaman
yang relatif mudah proses seleksinya. Keturunan pertama hasil persilangan dapat
langsung diseleksi dan dipilih yang menunjukkan sifa-sifat terbaik sesuai yang
diinginkan.
Penggunaan penanda genetik sangat membantu dalam mempercepat
proses seleksi. Apabila dalam pemuliaan konvensional seleksi dilakukan
berdasarkan pengamatan langsung terhadap sifat yang diamati, aplikasi pemuliaan
tanaman dengan penanda (genetik) dilakukan dengan melihat hubungan antara alel
penanda dan sifat yang diamati. Agar supaya teknik ini dapat dilakukan,
hubungan antara alel/genotipe penanda dengan sifat yang diamati harus
ditegakkan terlebih dahulu.
c. Evaluasi
Bahan-bahan pemuliaan yang telah terpilih harus dievaluasi
atau diuji terlebih dahulu dalam kondisi lapangan karena proses seleksi pada
umumnya dilakukan pada lingkungan terbatas dan dengan ukuran populasi kecil.
Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah keunggulan yang ditunjukkan sewaktu
seleksi juga dipertahankan dalam kondisi lahan pertanian terbuka dan dalam
populasi besar. Selain itu, bahan pemuliaan terpilih juga akan dibandingkan
dengan kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis. Calon kultivar yang tidak
mampu mengungguli kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis akan dicoret dalam
proses ini. Apabila bahan pemuliaan lolos tahap evaluasi, ia akan dipersiapkan
untuk dirilis sebagai kultivar baru.
Dalam praktek, biasanya ada tiga jenis evaluasi atau
pengujian yang diterapkan sebelum suatu kultivar dilepas, yaitu uji pendahuluan
(melibatkan 20-50 bahan pemuliaan terseleksi), uji daya hasil pendahuluan
(maksimum 20), dan uji multilingkungan/multilokasi (atau uji daya hasil
lanjutan, biasanya kurang dari 10). Semakin lanjut tahap pengujian, ukuran plot
percobaan semakin besar. Setiap negara memiliki aturan tersendiri mengenai
bakuan untuk masing-masing jenis pengujian dan jenis tanaman.
Calon kultivar yang akan dirilis/dilepas ke publik diajukan
kepada badan pencatat (registrasi) perbenihan untuk disetujui pelepasannya
setelah pihak yang akan merilis memberi informasi mengenai ketersediaan benih
yang akan diperdagangkan.
REPRODUKSI DAN PEMBIAKAN TANAMAN
A. Pengertian
Perkembangbiakan/ Reproduksi
Perkembangbiakan atau Reproduksi adalah suatu proses
biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara
dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap
individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh
pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis yaitu
reproduksi generatif (seksual) dan reproduksi vegetatif (aseksual).
B. Jenis-Jenis
Perkembangbiakan/Reproduksi Tanaman
1. Reproduksi Generatif
(seksual).
Reproduksi generatif (seksual) adalah
reproduksi/perkembangbiakan yang didahului peleburan antara sel kelamin jantan
dan sel kelamin betina. Peristiwa ini disebut pembuahan. Pembuahan
(fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses
penyerbukan (persarian/polenasi). Alat pembiakan generatif pada tumbuhan yaitu
bunga sebagai tempat terjadinya penyerbukan.
Sistem penyerbukan tanaman dapat ditentukan dengan
mempelajari struktur bunga, waktu masak putik atau benang sari, ada tidaknya
sterilitas dan kompatibilitas antara putik dan benang sari.
Berdasarkan strukturnya bunga dapat dikelompokkan menjadi:
- Bunga Lengkap
: bunga yang memiliki 2 organ seks(benang sari & putik) dan 2 perhiasan
bunga(klopak dan mahkota). Contoh tanaman yang memiliki bunga lengkapantara
lain: ubi jalar, Kacang tanah, Singkong karet, Cabai, Kembang sepatu,
Mangga,Jambu biji dan Kapas.
- Bunga Tidak
Lengkap: bunga yang tidak memiliki 1 dari bagian keempat bagian bunga lengkap.
Contoh tanaman yang memiliki bungan tidak lengkap antara lain: Padi,Sorgum dan
Pepaya betina.
Sedangkan berdasarkan kelengkapan organ seksualnya, bunga
dapat dikelompokkan menjadi:
- Bunga
Sempurna: bunga yang memiliki organ seksual lengkap(benang sari dan putik),
disebut juga bunga hermaprodit. Contoh tanaman yang memiliki bunga
sempurnaantara lain: Padi, Ubi jalar, Kacang tanah, Singkong karet, Cabai,
Kembang sepatu,Mangga, Jambu biji dan Kapas.
- Bunga Tidak
Sempurna: bunga yang tidak memiliki salah satu dari organ seksual.Contoh
tanaman yang memiliki bunga tidak sempurna yaitu Pepaya betina.
Tahap-tahap perkembangbiakan atau reproduksi tanaman yaitu :
Penyerbukan
Penyerbukan adalah sampainya serbuk sari pada tempat tujuan.
Pada tumbuhan Gymnospermae, tujuan serbuk sari adalah tetes penyerbukan,
sedangkan pada tumbuhan Angiospermae, tujuan serbuk sari adalah kepala putik.
a. Macam-Macam
Penyerbukan
1) Berdasarkan
penyebab sampainya serbuk sari pada tujuan
a) Anemogami:
penyerbukan yang disebabkan oleh angin.
Ciri-ciri tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh angin
ialah:
ü bunganya tidak bermahkota
ü serbuk sarinya bergantungan kedudukannya
ü serbuk sarinya banyak dan ringan
ü kepala putiknya besar.
ü Contohnya: rumput, tebu, dan alang-alang.
b) Zoidiogami:
penyerbukan yang dibantu oleh hewan.
Berdasarkan jenis hewannya dapat dibedakan lagi menjadi:
· Entomogami:
penyebabnya adalah serangga. Tumbuhan yang penyerbukannya memerlukan bantuan
serangga umumnya mempunyai ciri-ciri:
ü mahkota bunga berwarna mencolok
ü mengeluarkan bau yang khas.
ü mempunyai kelenjar madu
· Ornitogami:
penyerbukan karena bantuan burung, terjadi pada tumbuhan yang bunganya
mengandung madu atau air.
· Kiropterogami:
penyerbukan karena bantuan kelelawar, terjadi pada tumbuhan yang bunganya mekar
pada malam hari.
· Malakogami:
penyerbukan karena bantuan siput, terjadi pada tumbuhan yang banyak dilekati
siput.
c) Hidrogami:
penyerbukan karena bantuan air. Ini pada umumnya terjadi pada tumbuhan yang
hidup di dalam air, misalnya Hydrilla.
d) Antropogami:
disebut juga penyerbukan buatan atau sengaja, yaitu penyerbukan karena bantuan
manusia. Hal ini dilakukan oleh manusia karena tidak terdapatnya vektor yang
dapat membantu penyerbukan. Contohnya, tumbuhan vanili.
2) Berdasarkan asal
serbuk sari
a) Autogami atau
penyerbukan sendiri. Autogami dapat terjadi bila serbuk sari berasal dari bunga
yang sama. Autogami sering terjadi pada saat bunga belum mekar disebut
kleistogami. Contoh tanaman menyerbuk sendiri antara lain: Padi,Kacang tanah,
Sorgum, Jambu biji, Kapas dan Cabai.
b) Geitonogami atau
penyerbukan tetangga, yaitu penyerbukan di mana serbuk sari berasal dari bunga
yang berlainan tetapi masih dalam satu individu.
c) Alogami atau
penyerbukan silang, yaitu penyerbukan di mana serbuk sari berasal dari bunga
individu lain tetapi masih dalam satu species/jenis. Contoh tanaman menyerbuk
silang antara lain : Ubi jalar, Singkong
karet, Kembang sepatu, Mangga dan Papaya betina.
d) Bastar yaitu
penyerbukan di mana serbuk sari dan putik berasal dari spesies lain.
Terjadinya penyerbukan belum memberi jaminan akan terjadinya
pembuahan, karena buluh serbuk sari yang berasal dari serbuk sari dalam
perkembangan selanjutnya belum tentu dapat mencapai sel telur, yang letaknya di
dalam bakal buah jauh dari kepala putik. Pada beberapa jenis tumbuhan
penyerbukannyatidak mungkin terjadi secara autogami (penyerbukan mandiri). Hal
ini antara lain disebabkan oleh:
ü Dioseus (berumah dua), artinya alat kelamin jantan dan
alat kelamin betina terdapat pada individu yang berbeda. Misalnya: melinjo dan
salak.
ü Dikogami, bila putik dan serbuk sari suatu bunga masaknya
tidak bersamaan. Dikogami dapat dibedakan atas:
- Protandri,
bila serbuk sari suatu bunga masak lebih dulu dari pada putiknya. Contohnya:
bunga jagung, seledri, dan bawang Bombay.
- Protogini,
bila putik suatu bunga masak lebih dulu dari serbuk sarinya. Contohnya: bunga
kubis, bunga coklat, dan alpukat.
- Herkogami,
ialah bentuk bunga yang sedemikian rupa, sehingga serbuk sari dari bunga
tersebut tidak dapat jatuh pada kepala putiknya, kecuali dengan bantuan manusia
atau hewan. Contoh: Anggrek, Vanili, dan lain sebagainya.
- Heterostili,
ialah bunga yang mempunyai benang sari dan tangkai putik tidak sama panjang.
Contoh: tumbuhan familia Rubiaceae (kopi, kina, kaca piring, dan lain
sebagainya).
Pembuahan
Penyerbukan akan menghasilkan individu baru apabila diikuti
oleh pembuahan, yaitu peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin
betina. Pada tumbuhan berbiji dikenal ada dua macam pembuahan, yaitu pembuahan
tunggal pada Gymnospermae, dan pembuahan ganda pada Angiospermae.
1. Pembuahan
Tunggal
Terjadi pada tumbuhan Gymnospermae atau tumbuhan berbiji
terbuka. Serbuk sari akan sampai pada tetes penyerbukan, kemudian dengan
mengeringnya tetes penyerbukan, serbuk sari yang telah jatuh di dalamnya akan
diserap masuk ke ruang serbuk sari melalui mikrofil. Serbuk sari ini
sesungguhnya terdiri atas dua sel, yaitu sel generatif atau yang kecil dan sel
vegetatif yang besar, hampir menyelubungi sel generatif. Serbuk sari ini
kemudian tumbuh membentuk buluh serbuk sari, yang kemudian bergerak ke ruang
arkegonium. Karena pembentukan buluh serbuk sari maka sel-sel yang terdapat di
antara ruang serbuk sari dan ruang arkegonium terdesak ke samping akan
terlarut. Sementara itu di dalam buluh ini sel generatif membelah menjadi dua
dan menghasilkan sel dinding atau sel dislokator, dan sel spermatogen atau
calon spermatozoid. Sel spermatogen kemudian membelah menjadi dua sel
permatozoid. Setelah sampai di ruang arkegonium, sel vegetatif lenyap, dan
kedua sel spermatozoid lepas ke dalam ruang arkegonium yang berisi cairan,
sehingga spermatozoid dapat berenang di dalamnya. Pada ruang arkegonium
terdapat sejumlah sel telur yang besar. Tiap sel telur bersatu dengan satu
spermatozoid, sehingga pembuahan pada Gymnospermae selalu mengasilkan zigot
yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi embrio. Pembuahan tunggal seperti
ini misalnya terjadi pada pohon Pinus.
2. Pembuahan Ganda
a. Perkembangan
serbuk sari
Serbuk sari yang jatuh di kepala putih terdiri atas satu sel
dengan dua dinding pembungkus, yaitu: eksin (selaput luar) dan intin (selaput
dalam). Eksin pecah, kemudian intin tumbuh memanjang membuat buluh serbuk sari.
Buluh serbuk sari ini akan tumbuh menuju ke ruang bakal biji. Bersamaan dengan
ini inti sel serbuk sari membelah menjadi 2, yang besar didepan adalah inti
vegetatif sebagai penunjuk jalan, dan yang kecil di belakang adalah inti
generatif. Inti generatif membelah lagi menjadi dua inti generatif atau
spermatozoid.
b. Pembentukan sel
telur
Bersamaan dengan perkembangan serbuk sari dalam buluh serbuk
sari, di dalam ruang bakal biji sel nuselus membelah menjadi 4 sel baru. Tiga
di antaranya mereduksi dan yang satu tumbuh menjadi calon inti kandung lembaga
primer. Inti calon kandung lembaga primer membelah menjadi dua, yang
selanjutnya masing-masing menuju ke kutub yang berlawanan, yang satu bergerak
ke kalaza yang lain mendekati mikrofil. Kemudian masing-masing membelah lagi
dua kali, sehingga terbentuklah 8 inti. Yang dekat kalaza 3 inti menempatkan
diri berdekatan disebut antipoda. Yang satu lagi bergerak ke tengah. Yang dekat
mikrofil 3 inti menempatkan diri berdekatan. Yang tengah adalah ovum, sedang
mengapitnya adalah sinergid, yang satu lagi juga menuju ke tengah. Dua inti
yang bergerak ke tengah bersatu membentuk inti kandung lembaga sekunder yang
diploid. Kemudian spermatozoid yang satu membuah ovum membentuk zigot, sedang
spermatozoid yang satu lagi membuahi inti kandung lembaga sekunder menghasilkan
calon endosperm yang triploid. Inilah yang dinamakan pembuahan ganda. Masuknya
inti generatif ke dalam ruang bakal biji ada beberapa cara, yaitu:
ü Porogami : bila dalam pembuahan masuknya spermatozoid
melalui mikrofil.
ü Aporogami : bila masuknya spermatozoid tidak melalui
mikrofil. Bila masuknya spermatozoid melalui kalaza, maka disebut kalazogami.
Embrio pada tumbuhan berbiji dapat terjadi karena:
· Amfiksis
(amfmiksis), yaitu terjadinya embrio melalui peleburan antara ovum dan sel
spermatozoid.
·
Apomiksis,embrio terjadi bukan dari peleburan sel telur dengan sel
spermatozoid. Apomiksis dapat terjadi karena:
-
Partenogenesis, yaitu pembentukan embrio dari sel telur tanpa adanya
pembuahan.
- Apogami, yaitu
embrio yang terjadi dari bagian lain dari kandung lembaga tanpa adanya
pembuahan, misalnya dari sinergid atau antipoda.
- Embrioni
adventif, yaitu embrio yang terjadi dari selain kandung lembaga. Misalnya, dari
sel nuselus.
Terjadinya amfimiksis dan apomiksis secara bersama-sama
menyebabkan terdapatnya lebih dari satu embrio dalam satu biji. Peristiwa ini
disebutpoliembrioni. Poliembrioni sering dijumpai pada jeruk, mangga, nangka,
dan sebagainya.
2. Reproduksi
Vegetatif (aseksual)
Reproduksi vegetatif (aseksual) adalah terjadinya individu
baru tanpa didahului peleburan dua sel gamet. Perkembangbiakan atau reproduksi
vegetative dibedakan atas dua, antara lain:
a. Reproduksi
Vegetatif Alami
Vegetatif alami Yaitu terjadi individu baru tanpa adanya
campur tangan manusia. Reproduksi seperti ini terjadi dengan beberapa cara,
yaitu:
1) Dengan
pembelahan sel, terjadi pada tumbuhan bersel satu, misalnya alga bersel satu
Chlorella,Chlamydomonas, dll.
2) Dengan
menghasilkan spora vegetatif, misalnya pada tumbuhan paku, fungi, dan ganggang
3) Dengan
rhizoma atau akar tinggal: pada irut, bunga tasbih, lengkuas, temulawak, dan
kunyit.
4) Dengan
stolon atau geragih, misalnya pada pegagan (Sentela asiatica), rumput teki
(Cyperus rotundus), arbei, dan lain sebagainya.
5) Dengan umbi
batang, misalnya pada kentang (Solanum tuberosum).
6) Dengan umbi
lapis, misalnya pada bawang merah (Allium cepa).
7) Dengan umbi
akar, misalnya pada ketela pohon
8) Dengan
tunas, misalnya pada bambu (Gigantochloa sp).
9) Dengan tunas
adventif, misalnya pada cocor bebek
b. Reproduksi Vegetatif
Buatan
Selain itu tumbuhan dapat juga berkembang biak dengan cara
tak kawin dan dengan bantuan manusia, biasa disebut reproduksi secara vegetatif
buatan, misalnya: mencangkok, stek, okulasi, mengenten, dan merunduk.
a) Stek
Stek adalah perbanyakan tanaman dengan cara pemisahan atau
pemotongan bagian tanaman seperti batang, daun, pucuk, dan akar. Jenis tanaman
yang dapat diperbanyak dengan cara ini adalah
tanaman berkayu dan beberapa tanaman stek tak berkayu.Contohnya
:kedondong, jambu air, markisa, delima, cermai, anggur ,bugenvil, mawar, melati
dan soka.
Cara menyetek:
· Memilih jenis
tanaman yang tahan hama dan penyakit, umur batang kurang lebih satu tahun,
batang dan akar sehat, serta tidak kekurangan gizi.
· Batang yang
cukup tua atau batabg yang memiliki mata tunas dipotong kira-kira 10-30 cm.
Batang tersebut dapat ditanam dan akan
menjadi individu baru.
b) Mencangkok
Jenis tanaman yang dapat dicangkok misalnya pohon
mangga.Berbagai jenis jeruk, berbagai jenis jambu, belimbing, serta kelengkeng.
Kelompok tanaman hias yang dapat dicangkok antara lain soka, bugenvil, dan
puring.
Cara mencangkok:
· Terlebih dahulu
memilih pohon induk yang cukup umurnya, tidak
terlalu tua juga tidak terlalu muda, telah berbuah sebanyak tiga kali, pohon tumbuh subur, kuat dan serial,
serta percabangannya cukup banyak.
· Membungkus
bagian-bagian batang yang telah diikuti
dengan tanah yang mengandung hormone dan pupuk NPK. Kemudian dibungkus
dengan plastic bening atau sabut dan selanjutnya diikat dengan tali
· Akar akan mulai
tumbuh setelah 1-3 bulan sejak batang dicangkok, kemudian dilakukan pemotongan
pertumbuhan akar cangkokan dan hasilnya dapat ditanam.
c) Merunduk
Merunduk dapat dilakukan pada batang beberapa jenis tanaman
yang secara normal berdiri tegak kemudian dibengkokkan hingga menyentuh tanah
sehingga akan segera berakar pada mawar .
· Merunduk biasa
Cabang tanaman dirundukkan dan ditimbun dengan tanah, kecuali ujung cabangnya. Setelah membentuk akar,
cabang atau batangnya dipotong, sehingga diperoleh tanaman baru.. Cara ini
dapat dikerjakan pada mawar, jambu air,
dan arbel
· Merunduk
majemuk
Seluruh batang dirundukkan kemudian ditimbuni tanah pada
beberapa tempat atau seluruh tempat.
Cara ini dapat dikerjakan pada tanaman soka dan anggur.
d) Mengenten
(menyambung/kopulasi)
Pada dasarnya menyambung sama dengan menempel. Cara ini
banyak dilakukan pada singkong dan buah-buahan. Mula-mula biji disemaikan.
Setelah tumbuh lalu disambung dengan ranting/cabang dari pohon sejenis yang
buahnya baik. Kemiringan potongan ± 45°. Diameter batang atas harus sesuai
dengan diameter batang bawah. Kedua sambungan itu diikat dengan kuat.
Diusahakan agar tidak terjadi infeksi. Buah yang dihasilkannya akan sama dengan
buah yang dihasilkan pohon asalnya.
Keuntungan dan kerugian reproduksi vegetatif buatan
Banyak petani yang mengembangkan cara reproduksi pada
tanaman buah-buah, tanaman liar, dan lain-lain dengan cara mencangkok, stek,
merunduk, okulasi, mengenten dan lain-lain. Cara ini memberikan beberapa
keuntungan antara lain:
· Sifat tanaman
baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.
· Cepat
menghasilkan buah.
Disamping itu ada pula beberapa kerugian, antara lain:
· Tanaman yang
berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang
kurang kuat.
·
Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.
· Bila tanaman
hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan
menurun pertumbuhannya.
EFEKTIFITAS DARI BERBAGAI CARA
PROGRAM SELEKSI
Seleksi
Seleksi sangat penting artinya dalam pemuliaan, baik untuk
membuat/membentuk galur-galur yang akan menjadi varietas atau calon varietas
atau untuk mempertahankan suatu varietas.
Dalam perbenihan dikenal istilah roguing, yang tidak lain
adalah seleksi negatif, yaitu membuang tanaman-tanaman yang menyimpang.
Tanaman-tanaman yang menyimpang (off type) menunjukkan ciri-ciri dari apa yang
seharusnya dipunyai oleh suatu varietas yang kita maksudkan. Hal ini dilakukan
untuk menjga kemurnian dari varietas tersebut dapat dipertahankan.
Varietas-varietas lokal pada umumnya merupakan populasi
campuran yang memerlukan pemurnian yang hanya dapat dilaksanakan dengan
seleksi, minimal seleksi negatif, tergantung dari besarnya populasi campuran.
Oleh karena itu cara pemurnian untuk memantapkan dapat juga dengan seleksi
positif, dalam hal ini diambil/dipungut tanaman-tanaman yang ciri-cirinya sesuai
dengan yang dicantumkan dalan deskripsi disamping memperhatikan pula potensi
hasilnya. Tanaman tersebut kemudian dibulk(disatukan) untuk benih sumber
pertanaman selanjutnya.
Banyak metode seleksi yang dapat diterapkan, penggunaan
masing-masing ditentukan oleh berbagai hal, seperti moda reproduksi (klonal,
berpenyerbukan sendiri, atau silang), heritabilitas sifat yang menjadi target
pemuliaan, serta ketersediaan biaya dan fasilitas, serta jenis kultivar yang
akan dibuat.
Tanaman yang dapat diperbanyak secara klonal merupakan
tanaman yang relatif mudah proses seleksinya. Keturunan pertama hasil
persilangan dapat langsung diseleksi dan dipilih yang menunjukkan sifa-sifat
terbaik sesuai yang diinginkan.
Seleksi massa dan seleksi galur murni dapat diterapkan
terhadap tanaman dengan semua moda reproduksi. Hasil persilangan tanaman
berpenyerbukan sendiri yang tidak menunjukkan depresi silang-dalam seperti padi
dan gandum dapat pula diseleksi secara curah (bulk). Teknik modifikasi seleksi
galur murni yang sekarang banyak dipakai adalah keturunan biji tunggal (single
seed descent, SSD) karena dapat menghemat tempat dan tenaga kerja.
Terhadap tanaman berpenyerbukan silang atau mudah bersilang,
seleksi berbasis nilai pemuliaan (breeding value) dianggap yang paling efektif.
Berbagai metode, seperti seleksi "tongkol-ke-baris" (beserta
modifikasinya), seleksi saudara tiri, seleksi saudara kandung, dan seleksi
saudara kandung timbal-balik (reciprocal selection), diterapkan apabila tanaman
memenuhi syarat perbanyakan seperti ini. Metode seleksi timbal-balik yang
berulang (recurrent reciprocal selection) adalah program seleksi jangka panjang
yang banyak diterapkan perusahaan-perusahaan besar benih untuk memperbaiki lungkang
gen (gene pool) yang mereka miliki. Dua atau lebih lungkang gen perlu dimiliki
dalam suatu program pembuatan varietas hibrida.
Penggunaan penanda genetik sangat membantu dalam mempercepat
proses seleksi. Apabila dalam pemuliaan konvensional seleksi dilakukan
berdasarkan pengamatan langsung terhadap sifat yang diamati, aplikasi pemuliaan
tanaman dengan penanda (genetik) dilakukan dengan melihat hubungan antara alel
penanda dan sifat yang diamati. Agar supaya teknik ini dapat dilakukan,
hubungan antara alel/genotipe penanda dengan sifat yang diamati harus
ditegakkan terlebih dahulu.
Dalam pemuliaan tanaman dikenal ada dua seleksi menurut cara
penyerbukannya, antara lain:
1. Seleksi Untuk
Pemuliaan Tanaman Menyerbuk Sendiri
a. Seleksi lini
murni
b. Seleksi massa
c. Seleksi bulk
d. Seleksi Single
Seed Descent
e. Seleksi
pedigri/silsilah
Seleksi Lini Murni
Kebaikan dari seleksi lini murni
· Untuk
memperoleh individu homosigot.
· Bahan
seleksi adalah populasi yang mempunyai tanaman homosigot
· Sehingga
pekerjaan seleksi memilih individu yang homosigot tadi.
· Pemilihan
berdasar Fenotipe tanaman.
Kekurangan dari seleksi lini murni.
1. Seleksi lini
murni dapat untuk mendapatkan varietas baru untuk tanaman SPC dan tidak CPC
sebab :
· Untuk
tanaman CPC perlu banyak tenaga dalam pelaksanaan penyerbukan sendiri.
· Menghasilkan
lini – lini murni bersifat inbred yaitu bersifat lemah antara lain tanaman
albino, kerdil, produksi rendah.
2. Tak ada
kemungkinan memperbaharui sifat karakteristik yang baru secara genetis.
3. Varietas yang
dihasilkan bersifat homosigot, oleh karena itu kurang beradaptasi diberbagai
macam kondisi ( sifat adaptasinya tak begitu luas ).
Populasi campuran sebagai bahan seleksi berupa :
· Varietas
lokal / land race : varietas yang telah beradaptasi baik pada suatu daerah dan
merupakan campuran berbagai galur.
· Populasi
tanaman bersegregasi : keturunan dari persilangan yang melakukan penyerbukan
sendiri beberapa generasi.
Keuntungan / kebaikan campuran berbagai galur :
· >
Adaptasi pada lingkungan beragam / perubahan lingkungan yang cukup besar
sehingga produksi > baik.
· Produksi
> stabil bila lingkungan berubah / beragam.
· Ketahanan
> baik terutama penyakit.
Kekurangan campuran berbagai galur :
· Kurang
menarik, pertumbuhan tanaman tak seragam.
· > sulit
diidentifikasi benih dalam pembuatan sertifikasi benih.
· Produksi
> rendah dibanding produksi galur terbaik dari campuran tersebut.
Populasi homosigot
Varetas yang dihasilkan :
· Tidak
seseragam varietas hasil seleksi galur murni.
· Mempunyai
ketahanan terhadap perubahan lingkungan / lingkungan ekstrimperubahan genotipe.
Seleksi Massa
Tujuan Seleksi Massa :
Memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan
mencampur genotipe – genotipe superior.
Kelemahan :
· Tanaman yang
dipilih mungkin tidak homosigot dan akan segregrasi pada generasi berikutnya.
· Hanya
berguna untuk sifat – sifat dengan hertabilitas tinggi. Umumnya tidak efisien
apabila “ ALELE “ yang akan dihilangkan frekuensinya rendah.
· Lebih
efektif untuk sifat – sifat yang terlihat sebelum pembuangan dari sifat – sifat
yang terlihat setelah pembuangan. Contoh tanaman kedelai, gandum, tembakau
telah berhasil dengan menggunakan seleksi massa.
Kebaikan Seleksi Massa :
a. Sederhana,
mudah pelaksanaannya dan cepat untuk memperbaiki mutu tanaman, oleh karena :
· Tanpa ada
pengujian untuk generasi berikutnya.
· Tanpa ada
pengawasan persilangan untuk produksi keturunan selanjutnya.
· Lebih
bersifat ART dari pada SCIENC
b. Merupakan cara
untuk memperbaiki mutu varietas lokal dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan
petani dan merupakan langkah pertama dalam memperbaiki mutu tanaman.
Seleksi Massa Sering Digunakan Untuk Memurnikan Suatu Varietas Campuran.
Seleksi Massa dapat dibedakan menjadi 2 :
1. Seleksi Massa
Positif
Dilakukan dengan jalan memilih tanaman yang baik fenotipenya
dari suatu populasi tanaman yang ada. Biji tanaman terpilih untuk ditanam pada
generasi / tahun berikutnya. Tanaman yang tidak terpilih biasanya dipanen untuk
konsumsi.
2. Seleksi Massa
Negatif
Dilakukan dengan menghilangkan semua tanaman yang tipenya
menyimpang dari tujuan seleksi.
Misal : -
Tanaman sakit
- Tanaman rebah
Apabila Seleksi Massa digunakan sebagai metode seleksi untuk
tanaman penyerbuk sendiri maka mempunyai kelemahan antara lain :
a. Tidak
meungkin dapat mengetahui apakah tanaman yang dikelompokkan homosigot /
heterosigot untuk suatu karakter dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus
dilanjutkan untuk generasi berikut.
b. Lingkungan
luar mempengaruhi penampilan tanaman sehingga sulit untuk mengetahui apakah
tanaman yang superior menurut fenotipenya disebabkan faktor genetik atau
lingkungan.
Perbedaan Antara Seleksi
Massa Dan Seleksi Lini Murni.
SELEKSI MASSA
SELEKSI GALUR MURNI
· Sudah sangat
tua atau dapat dikatakan setua orang mulai bercocok tanam.
· Selalu
dipraktekan oleh petani walaupun tak disadarinya.
· Biasa
dilakukan pada tanaman C. P. C (allogam).
· Jumlah
tanaman yang terpilih banyak.
· Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi yang luas.
· Seleksi Massa
mudah dilakukan dan amat sederhana.
· Tidak perlu
tenaga, biaya dan waktu yang banyak.
· Hasil yang
diperoleh heterodigot / tidak uniform.
· Tidak
dilakukan pengujian keturunan.
· Tidak perlu
adanya control persilangan.
· Pemilihan
hasil panen tercampur
· Belum begitu
tua.
· Tak pernah
dilakukan oleh petani pada tanaman mereka.
· Dilakukan pada
tanaman S. P. C (autogam )
· Jumlah tanaman
yang terpilih sediki.
· Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi tidak begitu luas dan hanya dapat beradaptasi pada
kondisi / tanaman tertentu saja.
· Sulit dilakukan
karena perlu ketrampilan khusus.
· Butuh tenaga,
biaya dan waktu yang banyak.
· Hasil yang
diperoleh homosigot (uniform)
· Perludilakukan
pengujian keturunan dan masing – masing perbedaan kenampakan secara individu
diuji kemurnian.
· Persarian selalu
diawasi
· Terpisah
Seleksi Bulk (penggabungan)
· Keturunan F2
sampai F5 tidak mengalami seleksi. Baru pada F6 dilakukan seleksi.
· Pemilihan
secara bulk lebih sederhana, mudah, tidak mahal.
· Perlu areal yg
luas
Seleksi SSD
Seleksi Single Seed Descent, yaitu satu keturunan satu biji.
Pada prinsipnya, individu tanaman terpilih dari hasil suatu persilangan pada F2
dan selanjutnya ditanam cukup satu biji satu keturunan. Cara ini dilakukan sampai
generasi yang ke-5 atau ke-6 (F5 atau F6). Bila pada generasi tersebut sudah
diperoleh tingkat keseragaman yang diinginkan maka pada generasi berikutnya
pertanaman tidak dilakukan satu biji satu keturunan tetapi ditingkatkan menjadi
satu baris satu populasi keturunan, kemudian meningkat lagi menjadi satu plot
satu populasi keturunan.
Prosedur Single Seed Descent (SSD) mempunyai tujuan
mempertahankan keturunan dari sejumlah
besar tanaman F2, dengan mengurangi hilangnya genotip selama generasi segregasi.
Hanya satu biji yang dipanen dari masing-masing tanaman, perkembangan tanaman
optimum dari generasi F2 sampai dengan F4.. Metode seleksi Single Seed Descent
(SSD) banyak dilakukan dalam pemuliaan tanaman kedelai di Amerika Serikat
(Fehr, 1978). Metode SSD Descent mempunyai beberapakeuntungan, sebagi berikut :
- karena yang
ditanam setiap generasi satu biji satu keturunan, dengan sendirinya luas lahan
yang diperlukan jauh lebih sempit.
- waktu dan
tenaga yang diperlukan pada saat panen lebih sedikit, karena populasinya lebih
kecil.
- pencatatan dan
pengamatan lebih mudah dan sederhana.
- seleksi untuk
karakter-karakter yang heritabilitasnya tinggi, misalnya tinggi tanaman, umur,
penyakit dan beberapa aspek kualitas dapat dikerjakan dengan efektif
berdasarkan satu tanaman tunggal.
- tiap tahun
dapat ditanam beberapa generasi, bila keadaan lingkungan dapat dikuasai.
- hanya
diperlukan sedikit usaha dalam memperoleh tipe homozigot untuk
karakter-karakter yang pewarisannya sederhana. Keadaan homozigot cepat
tercapai.
- penanganan
persilangan dapat lebih banyak.
Adapun kekurangan dari metode SSD, yaitu pada generasi F2
kemungkinan lebih banyak tanaman yang superior tidak teramati atau hilang,
karena setiap genotip disini hanya mewakili satu tanaman pada F3 sehingga tidak
diketahui identitasnya. Pada metode SSD, setiap tanaman mulai generasi F2
sampai generasi F6. diambil satu biji dari satu tanaman pada setiap generasi
untuk ditanam pada generasi selanjutnya. Jumlah tanaman dalam populasi F2
sampai F6 akan tetap atau bisa berkurang karena adanya daya tumbuh benih yang
kurang baik. Ciri lain dari metode SSD, adalah adanya kemungkinan untuk
menghasilkan sejumlah besar galur murni pada areal yang sempit dan tenaga kerja
yang terbatas (Fehr, 1987, dikutip dari Ai Komariah).Dengan cara ini, ia dapat
mencapai generasi F6 2 tahun, sebagai lawan 5 tahun sebagai dengan metode
silsilah. Setelah tingkat yang diinginkan homozigositas dicapai, garis kemudian
bisa diuji untuk karakteristik yang diinginkan. Benih tunggal Prosedur Ini
adalah prosedur klasik memiliki benih tunggal dari setiap tanaman, bulking
benih individu, dan penanaman keluar generasi berikutnya.
- Musim 1: F 2
tanaman tumbuh. Satu F 3 biji per tanaman dipanen dan semua benih bulked.
Kumpulkan sampel cadangan 1 benih / tanaman. Penuh disarankan panen kedelai pod
2-3 seeded dan menggunakan 1 benih untuk masa tanam dan 1-2 untuk cadangan.
- Musim 2:
Massal dari F 3 biji ditanam. Satu F 4 biji per tanaman dipanen dan semua benih
bulked. Kumpulkan sampel cadangan 1 benih / tanaman.
- Musim 3:
Ulangi.
- Musim 4:
Tumbuh besar dari F 5 benih dan panen tanaman individu secara terpisah.
- Musim 5:
Tumbuh F 5: 6 baris dalam baris, pilih baris antara baris dan panen yang
dipilih secara massal.
- Musim 6:
Mulailah pengujian ekstensif dari F 5 baris berasal.
Seleksi Pedigri/Silsilah
Penggunaan
metode seleksi silsilah
massa (mass pedigree selection)
pada Generasi Seleksi
F3 dan F4 (Dasumiati, 2003)
ternyata belum dapat
mereduksi keragaman genetik non
aditif, khususnya gen overdominansi, dari
dalam keragaman fenotipe. Akibatnya adalah
seleksi yang dilakukan
cenderung mempertahankan
famili-famili dengan keragaan
terbaik yang didominasi oleh
genotipe-genotipe heterozigot
pada lokus-lokus yang
mengendalikan keragaman itu.
Oleh sebab itu,
dikembangkan metode seleksi silsilah berbasis informasi
kekerabatan (information from relatives), yaitu
informasi mengenai gugus
individu yang berasal dari suatu
ansestor tunggal, untuk kegiatan seleksi
pada Generasi Seleksi
F5 (Jambormias et
al., 2004). Harapannya
adalah dapat dihasilkannya
famili-famili dengan keragaan
tinggi dan keragaman
genetik yang rendah untuk
sifat produksi biji
dan ukuran biji pada Generasi Seleksi F6.
Penggunaan
rancangan genetik yang
tepat untuk menguraikan keragaman
fenotipe suatu sifat
tanaman atas komponen keragaman
genotipe dan keragaman lingkungan dalam
suatu struktur hierarkis
kekerabatan famili-famili, diharapkan dapat
memaksimumkan pemanfaatan
informasi kekerabatan dalam
seleksi. Analisis berbasis informasi
kekerabatan ini dapat menguraikan keragaman
fenotipe atas komponen keragaman antarfamili
dan intrafamili, dan
dengan menggunakan korelasi nilai pemuliaan sebesar 1 untuk hasil kawin sendiri
(selfing), dapat diduga ragam aditif antarfamili dan
intrafamili (Jain, 1982;
Falconer dan Mackay, 1996).
Berpadanan dengan metode pendugaan ragam
antarfamili dan ragam
intrafamili, analisis
berbasis informasi kekerabatan juga dapat memberikan informasi nilai
heritabilitas antarfamili dan
intrafamili (Falconer dan
Mackay, 1996). Kontribusi
heritabilitas antarfamili
yang tinggi dapat
meningkatkan keragaan sifat
kuantitatif yang diatur oleh gen aditif.
2. Seleksi Untuk
Pemuliaan Tanaman Menyerbuk Silang
Seleksi dengan intensitas tertentu akan lebih efektif bila
sifat yang diseleksi banyak terdapat dalam populasi dan tidak efektif bila
sifat tersebut jarang. Sering dikatakan bahwa kemajuan seleksi mula – mula
tepat tetapi kemudian menurun pada generasi yang lebih lanjut. Ternyata hal ini
tidak demikian. Apabila suatu sikap yang disukai jarang terdapat dalam populasi
(frekuensi rendah), kemudian diseleksi dengan intensitas yang tetap dari
generasi ke generasi maka generasi permulaan kemajuan seleksi amat lambat.
Tetapi pada generasi yang lebih lanjut frekuensi gen yang diseleksi dalam
populasi bertambah sehingga kemajuan seleksi dalam populasi bertambah sehingga
kemajuan seleksi makin cepat sampai mencapai maksimum kemudian menurun lagi.
Metode Seleksi Tanaman Menyerbuk Silang
Dasar–dasar yang dapat membedakan diantara metode :
a. Cara
pemotongan populasi dasar
b. Ada tidaknya
kontrol terhadap persilangan
c. Model
perangen pada populasi bersangkutan
d. Tipe uji
keturunan
e. Macam dari
varietas komersiil yang akan dibentuk.
Seleksi tanaman menyerbuk silang, antara lain:
1. Seleksi Massa
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Tanpa kontrol
persilangan atau sebagian
c. Peran gen
aditif
d. Tanpa uji
keturunan
e. Varietas
berserbuk bebas
2. Seleksi
Berulang Fenotopik
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Kontrol penuh
atas persilangannya
c. Peran gen
aditif
d. Tanpa uji
keturunan
e. Varietas
berserbuk terbuka
3. Seleksi
Tongkol ke Baris
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Tanpa atau
sebagian control
c. Peran gen
aditif
d. Uji keturunan
berserbuk terbuka
e. Varietas
berserbuk terbuka
4. Seleksi
Berulang untuk Daya Gabung Umum
a. Berdasarkan
keturunan dari tanaman
b. Kontrol penuh
terhadap persilangan
c. Terutama
aditif
d. Uji daya
gabung umum
e. Varietas
sintetik, dsb
5. Seleksi
Berulang untuk Daya Gabung Khusus
a. Berdasarkan
keturunan dari tanaman
b. Kontrol penuh
terhadap persilangannya
c. Dominan dan
aditif
d. Uji daya
gabung khusus
e. Hibrida
tunggal/ganda
6. Seleksi
Berulang Timbal Balik
a. Keturunan
dari tanaman
b. Kontrol penuh
atas persilangan
c. Lewat
dominan, dominan, aditif
d. Uji daya gabung
umum, daya gabung khusus
e. Perbaikan
hibrida (populasi hasil persilangan)
Pemuliaan tanaman adalah usaha manusia untuk mengubah susunan genetik tanaman. Pemuliaan
tanaman mengubah susunan genetik tanaman secara tetap sehingga sifat ataupun morfologinya
sesuai dengan keinginan manusia. Orang yang melakukan pemuliaan tanaman disebut pemulia tanaman. Ilmu
Pemuliaan Tanaman disebut Ilmu Penjenisan/Ilmu Seleksi.
Ilmu terpakai yang bertujuan untuk mendapatkan jenis–jenis
baru yang bersifat unggul yang mempunyai sifat ekonomis yang lebih berharga.
Bertugas memelihara jenis–jenis unggul yang telah ada serta
mempertahankan sifat–sifat keunggulan yang dimiliki
Tujuan akhir setiap program pemuliaan tanaman adalah untuk
mendapatkan tanaman dengan sifat yang lebih baik (lebih unggul) dalam hal ini
adalah sifat – sifat tertentu yang diinginkan.
Sasaran yang hendak dicapai pada Pemuliaan Tanaman Menyerbuk
Sendiri yaitu sifat unggul pada homosigot.
PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI
A. Pemuliaan Tanaman
Menyerbuk Sendiri
Sasaran yang hendak dicapai : sifat unggul pada homosigot.
Ciri khusus varietas tanaman menyerbuk sendiri yang
dikembangkan melalui biji adalah susunan genetiknya homosigot, kecuali varietas
hibrida. Untuk memperoleh tanaman homosigot dari hasil hibridisasi atau dari
populasi heterogen, peranan seleksi amat penting artinya.
Hibridisasi :
Penyerbukan antara tanaman homosigot
Crossing :
Penyerbukan antara tanaman homosigot dengan heterosigot atau
heterosigot dengan heterosigot
Selfing :
penyerbukan pada tanaman berumah satu.
Autogami
· Butuh pengujian
dibanyak lingkungan
· Pada tranaman
homosigot (peka terhadap kondisi lingkungan dibanding heterosigot). Makin
heterosigot makin bagus, selfing seringkali menyebabkan degenerasi.
Dasar Genetik
Tanaman menyerbuk sendiri yang disilangkan heterosigot makin
kurang keragaman genetiknya terjadi penyerbukan sendiri terus menerus,
perubahan susunan genetika pada masing–masing pasangan. Alel mengarah ke
homosigositas, sehingga susunan genetik dalam tanaman semua / sebagian besar
homosigot.
B. Metode Pemuliaan
Tanaman Menyerbuk Sendiri
· Pasangan gen
homosigot akan tetap homosigot dengan adanya penyerbukan sendiri.
· Pasangan gen –
gen heterosigot akan terjadi segresi apabila diserbuki sendiri dan menghasilkan
genotipe homosigot dan heterosigot dengan perbandingan yang sama.
Apabila terjadi penyerbukan sendiri secara terus menerus
maka genotipe yang terbentuk adalah cenderung homosigot atau genotip homosigot
makin lama makin besar proporsinya.
Macam Varietas Menyerbuk Sendiri :
1. Bersari bebas
Hasil seleksi massa, cirinya :
Tidak selalu diketahui induk jantan dan betinanya. Jika
ingin meningkatkan hasil harus tahu peranan gen aditif sehingga perlu tahu
salah satu tetuanya.
2. Komposit
Populasi dasar merupakan
: campuran varietas unggul, hibrida dan galur (untuk galur boleh ada
boleh tidak) Setiap dicampur terjadi persilangan terbuka kemudian diseleksi
melalui seleksi massa.
3. Hibrida
Masalah : persilangan dan saat mencari galur penghasil
benihnya.
Benih yang dihasilkan sedikit, usaha – usaha persilangan
galur dengan varietas.
4. Sintetis (Ideal
Type)
Sama dengan campuran galur merupakan peluang dengan
melakukan penyerbukan silang galur dicampur terjadi persilangan biji berubah seleksi
massa varietas sintetis.
C. Prosedur Pemuliaan
Tanaman Menyerbuk Sendiri
1. Introduksi
Masalah yang dihadapi pada tanaman introduksi baik sebagai
sumber keragaman maupun sebagai calon varietas baru adalah penanganan dalam
mempertahankan sebagai koleksi dan evaluasinya.
Koleksi tanaman introduksi dibagi 3 kelompok :
a. tanaman yang
telah dimuliakan.
b. Tanaman asli.
c. Tanaman liar.
Masing – masing kelompok mempunyai manfaat khusus pada
program pemuliaan.
Tanaman introduksi dibutuhkan untuk memperbaiki sifat
varietas unggul yang ada dengan melengkapi sifat yang dianggap kurang melalui
hibridisasi / silang baik.
2. Seleksi
f. Seleksi galur
murni
g. Seleksi massa
Seleksi Galur Murni
· Untuk
memperoleh individu homosigot.
· Bahan seleksi
adalah populasi yang mempunyai tanaman homosigot
· Sehingga
pekerjaan seleksi memilih individu yang homosigot tadi.
· Pemilihan
berdasar Fenotipe tanaman.
Kekurangan dari seleksi lini murni:
4. Seleksi lini
murni dapat untuk mendapatkan varietas baru untuk tanaman SPC dan tidak CPC
sebab :
· Untuk tanaman
CPC perlu banyak tenaga dalam pelaksanaan penyerbukan sendiri.
· Menghasilkan
lini – lini murni bersifat inbred yaitu bersifat lemah antara lain tanaman
albino, kerdil, produksi rendah.
5. Tak ada
kemungkinan memperbaharui sifat karakteristik yang baru secara genetis.
6. Varietas yang
dihasilkan bersifat homosigot, oleh karena itu kurang beradaptasi diberbagai
macam kondisi (sifat adaptasinya tak begitu luas ).
Galur Murni
Populasi campuran sebagai bahan seleksi berupa :
· Varietas lokal
/ land race : varietas yang telah beradaptasi baik pada suatu daerah dan
merupakan campuran berbagai galur.
· Populasi
tanaman bersegregasi : keturunan dari persilangan yang melakukan penyerbukan
sendiri beberapa generasi.
Keuntungan / kebaikan campuran berbagai galur :
· > Adaptasi
pada lingkungan beragam / perubahan lingkungan yang cukup besar sehingga
produksi > baik.
· Produksi >
stabil bila lingkungan berubah / beragam.
· Ketahanan >
baik terutama penyakit.
Kekurangan campuran berbagai galur :
· Kurang menarik,
pertumbuhan tanaman tak seragam.
· > sulit
diidentifikasi benih dalam pembuatan sertifikasi benih.
· Produksi >
rendah dibanding produksi galur terbaik dari campuran tersebut.
Populasi homosigot
Varetas yang dihasilkan :
· Tidak seseragam
varietas hasil seleksi galur murni.
· Mempunyai
ketahanan terhadap perubahan lingkungan / lingkungan ekstrim terjadi perubahan
genotipe.
Seleksi Massa
Tujuan Seleksi Massa :
Memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan
mencampur genotipe – genotipe superior.
Kelemahan :
· Tanaman yang dipilih mungkin tidak homosigot
dan akan segregrasi pada generasi berikutnya.
· Hanya berguna
untuk sifat – sifat dengan hertabilitas tinggi. Umumnya tidak efisien apabila “
ALELE “ yang akan dihilangkan frekuensinya rendah.
· Lebih efektif
untuk sifat – sifat yang terlihat sebelum pembuangan dari sifat – sifat yang
terlihat setelah pembuangan. Contoh tanaman kedelai, gandum, tembakau telah
berhasil dengan menggunakan seleksi massa.
Kebaikan Seleksi Massa :
c. Sederhana, mudah
pelaksanaannya dan cepat untuk memperbaiki mutu tanaman, oleh karena :
· Tanpa ada
pengujian untuk generasi berikutnya.
· Tanpa ada
pengawasan persilangan untuk produksi keturunan selanjutnya.
· Lebih bersifat
ART dari pada SCIENC.
d. Merupakan cara
untuk memperbaiki mutu varietas lokal dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan
petani dan merupakan langkah pertama dalam memperbaiki mutu tanaman.
Seleksi Massa Sering Digunakan Untuk Memurnikan Suatu Varietas Campuran.
SELEKSI MASSA dapat dibedakan menjadi 2 :
3. Seleksi Massa
Positif
Dilakukan dengan jalan memilih tanaman yang baik fenotipenya
dari suatu populasi tanaman yang ada. Biji tanaman terpilih untuk ditanam pada
generasi / tahun berikutnya. Tanaman yang tidak terpilih biasanya dipanen untuk
konsumsi.
4. Seleksi Massa
Negatip
Dilakukan dengan menghilangkan semua tanaman yang tipenya
menyimpang dari tujuan seleksi.
Misal : - Tanaman sakit
-
Tanaman rebah
Apabila Seleksi Massa digunakan sebagai metode seleksi untuk
tanaman penyerbuk sendiri maka mempunyai kelemahan antara lain :
1. Tidak meungkin
dapat mengetahui apakah tanaman yang dikelompokkan homosigot / heterosigot
untuk suatu karakter dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus dilanjutkan
untuk generasi berikut.
2. Lingkungan luar
mempengaruhi penampilan tanaman sehingga sulit untuk mengetahui apakah tanaman
yang superior menurut fenotipenya disebabkan faktor genetik atau lingkungan.
Perbedaan Antara Seleksi
Massa Dan Seleksi Lini Murni.
SELEKSI MASSA
SELEKSI LINI MURNI
1. Sudah
sangat tua atau dapat dikatakan setua orang mulai bercocok tanam.
2. Selalu
dipraktekan oleh petani walaupun tak disadarinya.
3. Biasa
dilakukan pada tanaman C. P. C (allogam).
4. Jumlah tanaman yang terpilih banyak.
5. Tanaman
yang terpilih mempunyai adaptasi yang luas.
6. Seleksi
Massa mudah dilakukan dan amat sederhana.
7. Tidak
perlu tenaga, biaya dan waktu yang
banyak.
8. Hasil yang diperoleh heterodigot / tidak
uniform.
9. Tidak
dilakukan pengujian keturunan .
10. Tidak
perlu adanya control persilangan.
11. Pemilihan
hasil panen tercampur
1. Belum begitu
tua.
2. Tak pernah
dilakukan oleh petani pada tanaman mereka.
3. Dilakukan
pada tanaman S. P. C (autogam )
4. Jumlah
tanaman yang terpilih sediki.
5. Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi tidak begitu luas dan hanya dapat beradaptasi pada
kondisi / tanaman tertentu saja.
6. Sulit
dilakukan karena perlu ketrampilan khusus.
7. Butuh
tenaga, biaya dan waktu yang banyak.
8. Hasil yang
diperoleh homosigot (uniform)
9.
Perludilakukan pengujian keturunan dan masing – masing perbedaan
kenampakan secara individu diuji
kemurnian.
10. Persarian
selalu diawasi
11. Terpisah
D. Hibridisasi Dan
Seleksi Setelah Hibridisasi
Setelah dilakukan persilangan (hibridisasi) maka hibrid yang
diperoleh yang diperkirakan memiliki sifat–sifat superior (unggul) dari tetua
yang dipersilangkan diuji keturunannya sehingga diperoleh keturunan yang
mantap.
Pengujian dapat dilakukan dengan cara PEDIGREE atau BULK.
1. Seleksi PEDIGREE
2. Seleksi BULK
3. Seleksi BACK
CROSS
PERBANYAKAN DAN PENYEBARAN VARIETAS BARU
A. Perbanyakan
Varietas Baru
Jenis unggul yang baik harus memiliki keunggulan sesara
genetis maupun physik.Keunggulan genetis meliputi antara lain :
1. Produksi
tinggi
2. Daya adaptasi
luas
3. Masak secara
normal pada waktu yang tepat
4. Resisten
terhadap hama dan penyakit
5. Respon tinggi
pada pemupukan
6. Nilai nutrisi
tinggi dengan rasa enak
Keunggulan phisik antara lain :
1. Jenisnya murni
2. Daya kecambah
tinggi
3. Kadar air
optimum
4. Bentuknya
uniform
5. Bebas hama dan
penyakit
Jenis baru yang bersifat unggul yang ditemukan seleksionis
sebelum disebarluaskan kepada para petani masih perlu diperbanyak sambil diuji
kemantapannya secara ber-Tingkat.Biji yang masih sedikit yang dihasilkan
breeder/Seleksionis ini disebut NUCLEUS SEED.
Biji-biji nucleus seed masih murni baik secara genetis
maupun physic,jumlahnya sangat terbatas dihasilkan di stasiun percobaan dimana
seleksionis berada. Bila nucleus seed ditanam menghasilkan benih yang disebut
BREEDER’S STOCK SEED
BREEDER’S STOCK SEED di produksi dibawah pengamatan dan
pengawasan seleksionis di stasiun percobaan dimana dihasilkan, mempunyai
kemurnian yang tinggi dan bersifat unggul baik secara genetic maupun
physic.BREEDER’S STOCK SEED biasanya disebarkan kedinas-dinas pertanian untuk
diperbanyak. Biji yang dihasilkan dari tanaman Breeder Stock Seed disebut :
FOUNDATION SEED atau
BENIH DASAR.
Benih dasar selain yang dihasilkan dinas-dinas pertanian
juga balai penelitian yang menanam BREEDER’S STOCK SEED dan NUCLEUS
SEED.Kemurnian benih dasar bermutu tinggi. Hasilnya disebut REGISTERED SEED.
Registeret Seed biji
dihasilkan dari tiga biji terdahulu ditangkarkan oleh para petani penagkar
benih,petani maju yang dipercaya untuk
memperbanyak.Mereka menanam dan memperbanyak dibawah
petunjuk dan supervisi dari staf ahli perbenihan yang telah ditunjuk oleh
pemerintah/dinas tertentu yang bergerak dibidang perbenihan.Jika peraturan
pertanaman memenuhi syarat, biji-biji dibeli pemerintah di registrasi/dicatat
sebagai benih yang memenuhi persyaratan Sebagai benih bermutu untuk dijual
kepada petani umum.
CERTIFIED SEED yaitu benih yang dihasilkan oleh badan-badan
tertentu untuk diperdagangkan dan tidak perlu berasal dari Nucleus seed maupun
Breeder’s Seed,tetapi cukup memnuhi syarat genetis maupun pyisik. Certified
seed dapat diproduksi oleh petani sendiri tetapi harus dengan rekomendasi dari
dinas tertentu untuk disebut certified seed yang diperdagangkan.
Dibeberapa negara dan negara maju benih yang dijual adalah
benih-benih yang telah mengalami “penangkaran” seperti diatas,dan diberi label
yang memberi keterangan singkat tentang benih tersebut.Dalam label disebtkan
tentang: jenis, varietas, klas (misal Foundation seed atau yang lain),sumber
(pemerintah/ badan tertentu), alamat, % perkecambahan, kemurnian,kadar air dan
berat 1000 biji.
Di Indonesia penanganan sertifikasi benih dilakukan oleh
Balai Pengawasan dan Serifikasi Benih yang mempunyai tugas dibidang penilaian
kultivar,pengujian benih laboratories dan pengawasan pemasaran benih untuk
menunjang Dinas Pertanian Tanaman Pangan dalam pembinaan produksi dan pemasaran
benih guna memenuhi kebutuhan intensifikasi.
Sertifikasi benih yang dilakukan BPSB bertujuan untuk
menjamin kemurnian genetik dengan cara menilai kemurnian pertanaman di lapangan
maupun kemurnian benih hasil pengujian benih labortories.
Sertifikasi benih dilaksanakan dengan urutan prioritas
sebagai berikut:
a. Serifikasi
Benih Dasar (F.S.) biasa dilakukan di LPP Sukamandi.
b. Sertifikasi
Benih Pokok (S.S.) dilakukan oleh Balai Benih Induk.
c. Sertifikasi
Benih Sebar (E.S.) dengan label biru (produsen) oleh BAP.
Bila benih yang diuji tidak memenuhi standar untuk kelas
benih yang ditentukan tetapi masih memenuhi standar untuk kelas benih yang
lebih rendah,maka kelas benihnya dapat disesuaikan dengan standar yang tercapai
dengan syarat:
a. Benih
tersebut benar-benar dibutuhkan
b. Produsen benih
mengajukan permohonan penyesuaian kelas benih
c. Disetujui
oleh bagian sertifikasi
Biasanya permohonan sertifikasi pemeriksaan lapangan,
pengambilan contoh benih dan permintaan label disampaikan kepada BPSB .
Dalam pelaksanaan sertifikasi benih jagung dan palawija
umumnya ada suatu pedoman khusus yang harus diikuti.
B. Penyebaran
Varietas Baru
Konsumsi bahan pangan setiap tahun cenderung meningkat.
Keadaan ini disebabkan antara lain karena bertambahnya jumlah penduduk dan
makin meningkatnya pendapatan masyarakat. Untuk mengantisipasi kebutuhan
tersebut salah satu usaha di bidang tanaman adalah mengoptimalkan teknologi
budidaya tanaman pertanian, khususnya dengan pemakaian varietas unggul.
Penggunaan varietas merupakan teknologi yang dapat diandalkan, tidak hanya
dalam hal meningkatkan produksi pertanian, tetapi dampaknya juga meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu varietas unggul yang
memiliki berbagai sifat yang diinginkan memegang peranan penting untuk tujuan
dimaksud. Varietas unggul pada umumnya memiliki sifat-sifat yang menonjol dalam
hal potensi hasil tinggi. Tahan terhadap organisme pengganggu tertentu dan
memiliki keunggulan pada ekolokasi tertentu serta mempunyai sifat-sifat
agronomis penting lainnya. Dengan menggunakan varietas unggul tahan hama dan
penyakit adalah merupakan cara paling murah untuk menekan pengganggu tanaman
tanpa adanya kekhawatiran akan dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam upaya
untuk terus meningkatkan produksi pertanian, para pemulia tanaman senantiasa
berusaha menciptakan varietas unggul modern yang memiliki sifat-sifat yang
dinginkan dan cocok untuk kondisi lingkungan tertentu. Penelitian di bidang
pemuliaan tanaman dikatakan berhasil, apabila diperoleh produk akhir, yaitu
adanya pelepasan varietas unggul baru. Sejak tahun 1971 Pemerintah telah
mengambil kebijaksanaan mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
masalah perbenihan yakni dengan dibentuknya Badan Benih Nasional atau BBN yang
berada dalam lingkup Departemen Pertanian dan bertanggung jawab kepada Menteri
Pertanian. Dalam susunan organisasi BBN ini antara lain dibentuk Tim Penilai
dan Pelepas Varietas. Dalam kaitan ini pada tahun 1992 diberlakukan Undang
Undang Nomor 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman di mana pengaturan
pelaksanaannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995. Di sini
antara lain ditegaskan bahwa dalam pelepasan varietas diperlukan berbagai
kebutuhan kelembagaan, syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam
tulisan ini akan disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur
dan syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam tulisan ini akan
disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur dan syarat-syarat
pelepasan varietas untuk dapat dipenuhi pada waktu pengajuan usulan dan
pembahasan oleh Tim Penilai dan Pelepas Varietas, sehingga apa yang menjadi
tujuan dapat berjalan lancar.
Syarat-Syarat Pelepasan Varietas
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 476/Kpts/Um 8/1977
menetapkan syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas:
1. Untuk
Varietas yang akan dilepas harus diberikan silsilah bahan asal dan cara
mendapatkannnya.
2. Metode
seleksi yang digunakan harus disebutkan
3. Untuk
varietas yang akan dilepas harus diadakan percobaan adaptasi, dibandingkan
dengan varietas baku, di beberapa tempat yang mewakili daerah, di mana varietas
tersebut akan dianjurkan.
4. Percobaan
adaptasi dilaksanakan sedemikian rupa sehingga data yang diperoleh dapat
dipercaya.
5. Rancangan
percobaan dan cara analisa data percobaan harus memenuhi kaidah statistik.
6. Untuk
varietas yang akan dilepas harus tersedia cukup benih.
Prosedur Pelepasan Varietas
1. Permohonan
pelepasan varietas diajukan secara tertulis kepada Menteri Pertanian melalui
Ketua Badan Benih Nasional.
2. Permohonan
pelepasan varietas tersebut harus dilampiri keterangan-keterangan mengenai
hal-hal yang disebutkan dalam syarat-syarat pelepasan varietas, hasil percobaan
dan deskripsi varietas.
3. Deskripsi
varietas meliputi sifat-sifat morfologi, fisiologi, agronomi daya adaptasi,
ketahanan terhadap hama/penyakit dan sifat-sifat yang dianggap perlu.
4. Setelah
mendengarkan pendapat Ketua BBN, Menteri Pertanian dapat menyetujui atau
menolak permohonan pelepasan varietas tersebut.
5. Keputusan
tentang pelepasan varietas ditetapkan oleh Menteri Pertanian dengan Surat
Keputusan.
6. Penyimpangan
dari ketentuan-ketentuan dimaksud dalam Surat Keputusan ini dapat
dipertimbangkan oleh Menteri Pertanian atas saran Ketua Badan Benih Nasional.
Pengaturan pelaksanaan pengujian didasarkan dan dikembangkan
berdasarkankebijaksanaan yang ditentukan oleh Badan Litbang Pertanian dan
Ditjentan yang kemudian diperkuat oleh Surat Sekjen Deptan No. LB
110/1279/B/VII/1987 tentang Tata Laksana dan Pengujian Adaptasi.
Dalam rangka mempercepat proses komunikasi hasil penelitian dan
alih teknologi varietas unggul baru, hendaknya evaluasi daya hasil dan
pengujian adaptasi pada berbagai agroekosistem dilaksanakan berjalan paralel
yang saling mendukung dan terkait satu sama lain.
Evaluasi/Pengujian : Informasi Tentang Varietas
Pemerintah, penangkar benih dan petani perlu mengetahui
penampilan potensi varietas, baik yang dihasilkan di dalam negeri, maupun
introduksi dari luar.
Langkah pertama dalam evaluasi dimulai oleh para ahli
pemulia tanaman atau peneliti. Selain dari percobaan/evaluasi yang dilakukan
oleh peneliti untuk mengidentifikasikasi calon varietas unggul, pengujian
dilakukan juga oleh unit kerja Direktorat Jenderal untuk mengethui calon
varietas yang cocok untuk dilepas. Prosedur dan mekanisme kerja evaluasi dan
pengujian varietas perlu disusun untuk menghindari konflik kepentingan
disamping untuk mempercepat prose alih teknologi.
Assessemen yang paling umum dilakukan dalam evaluasi dan
pengujian varietas mencakup daya hasil, ketahanan terhadap serangan hama dan
penyakit, umur, sifat yang diinginkan dan ketahanan terhadap cekaman
lingkungan.
Evaluasi terhadap penampilan dapat dilakukan berbagai cara
namun tiga prinsip dasar perlu diperhatikan ,yaitu:
1. Agroekosistem
di mana evaluasi/pengujian dilakukan perlu dikarakterisasi secara tepat.
2. Calon varietas
tanaman yang paling sesuai dialokasikan pada setiap agroekosistem dan
3. Pengelompokan
varietas mempunyai umur dan sifat tumbuh hampir sama.
Tata Cara Memberikan Nama Varietas
1. Usulan nama
diajukan oleh peneliti/pemulia tanaman bersamaan dengan usulan pelepasan
varietas.
2. Penetapan
pemberian nama suatu varietas adalah wewenang Menteri Pertanian atas dasar
usulan dari Badan Benih Nasional cq Tim Penilai dan Pelepas Varietas.
3. Nomenklatur
nama-nama varietas unggul ditetapkan atas dasar sebagai berikut:
Padi:
· Padi sawah:
nama sungai di Indonesia
· Padi gogo:
nama danau di Indonesia
· Padi sawah
pasang surut; nama sungai di daerah pasang surut.
· Padi gogo
rancah: nama sungai di daerah potensi gogo rancah.
Palawija:
· Jagung :
nama wayang
· Kedelai :
nama gunung di Indonesia.
· Kacang hijau
: nama burung di Indonesia.
· Kacang tanah
: nama binatang di Indosia.
· Sorgum :
nama senjata tradisional daerah di Indonesia.
· Ubi jalar,
nama candi di Indonesia.
· Ubi kayu :
Adira:-rasa pahit untuk pabrik dengan nomor ganjil.
· Rasa manis
untuk dikonsumsi dengan nomor genap.
Hortikultura :
Khusus untuk varietas/klon hortikultura yang dilepas, baik
melalui cara pemuliaan maupun pemutihan. Sampai saat ini pada umumnya
menggunakan nama asli dari asal varietas lokal tersebut (untuk
pemutihan).Sedangkan varietas klon dari hasil pemuliaan, pemberian nama
berdasarkan kode-kode penelitian atau nama daerah asal penelitian tersebut.
Prosedur Pemurnian Dalam Rangka Pemutihan Varietas
1. Determinasi
Determinasi berarti penentuan, dalam hal ini kita menentukan
terhadap suatu varietas. Nama suatu varietas diusahakn tetap dan dipakai
walaupun nantinya akan dikembangan di daerah lain. Di samping itu apabila
varietas tersebut sama dengan lokal lain harap diteliti sejauh mungkin apakah
betul-betul sama, dan jika sama maka pemberian nama harus dipilih dari yang
terluas penyebarannya. Pemberian nama lain harus dihindarkan, dengan
konsekuensi perkembangan penyebaran varietas harus diikuti distribusi benihnya.
2. Deskripsi
Untuk melaksanakan determinasi diperlukan deskripsi varietas
yang bersangkutan. Deskripsi tersebut berguna untuk pengenalan/ identifikasi
varietas. Oleh karena itu deskripsi suatu varietas dari jenis tanaman apapun
harus meliputi pencatatan ciri-ciri atau sifat-sifat agronomi yang bersifat
kulitatif. Ciri/sifat tersebut dapat juga mengandung pengertian ekonomis
seperti halnya sifat ketahanan terhadap hama penyakit tertentu. Karena
pemurnian suatu varietas adalah suatu usaha pengembalian mutu sesuai dengan
varietas yang baku/asal, demikian juga dalam usaha pemutihan varietas, maka
uraian dalam deskripsi harus mencakup :
· Asal
varietas
· Penyebaran
varietas dimaksud
· Kapasitas
atau potensi hasil
· Golongan
varietas
· Ketahanan
terhadap hama penyakit
· Umur tanaman
Rincian tersebut di atas ditambahkan deskripsi ciri-ciri
yang biasa diperhatikan (sifat spesifik) dalam pengawasan mutu dan sertifikasi
benih atau dalam pemuliaan. Uraian ciri-ciri tersebut dilakukan untuk dapat
menuju deskripsi baku.
3. Seleksi/Rouging
Seleksi sangat penting artinya dalam pemuliaan, baik untuk
membuat/membentuk galur-galur yang akan menjadi varietas atau calon varietas
atau untuk mempertahankan suatu varietas.
Dalam perbenihan dikenal istilah roguing, yang tidak lain
adalah seleksi negatif, yaitu membuang tanaman-tanaman yang menyimpang.
Tanaman-tanaman yang menyimpang (off type) menunjukkan ciri-ciri dari apa yang
seharusnya dipunyai oleh suatu varietas yang kuta maksudkan. Hal ini dilakukan
untuk menjga kemurnian dari varietas tersebut dapat dipertahankan.
Varietas-varietas lokal pada umumnya merupakan populasi
campuran yang memerlukan pemurnian yang hanya dapat dilaksanakan dengan
seleksi, minimal seleksi negatif, tergantung dari besarnya populasi campuran.
Oleh karena itu cara pemurnian untuk memantapkan dapat juga dengan seleksi
positif, dalam hal ini diambil/dipungut tanaman-tanaman yang ciri-cirinya
sesuai dengan yang dicantumkan dalan deskripsi disamping memperhatikan pula
potensi hasilnya. Tanaman tersebut kemudian dibulk(disatukan) untuk benih
sumber pertanaman selanjutnya.
4. Pelaksanaan
Dengan pengertian yang telah ditengahkan dimuka, kita dapat
mulai dengan usaha pemurnian varietas.,baik dalam rangka persiapan benih maupun
dalam rangka pemutihan suatu varietas. Dalam rangka pemutihan varietas lokal,
perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Varietas yang
akan diputihkan adalah varietas yang dominan di suatu propinsi (varietas unggul
dan mempunyai penyebaran yang luas dari tahun ke tahun/musim ke musim).
b. Dalam
pelaksanaan pertanaman direncanakan untuk keperluan benih sumber atau keperluan
pemurnian varietas.
c. Amati
ciri-ciri tanam tersebut mulai tumbuh sampai menjadi benih. Karena varietas
tersebut belum murni, dalam penentuan kita harus mendasarkan pada ciri-ciri
dari komponen yang prosentasenya paling tinggi, seperti type pertumbuhan, warna
hypocotyl/bunga, warna bulu (untuk kacang-kacangan), warna daun, warna batang,
warna biji(padi-padian), umur panen, dan sifat-sifat agronomis penting lainnya.
d. Pertanaman
untuk benih dapat dilakukan seleksi negatif atau roguing kalau campuran hanya
sedikit, sehingga tidak menyulitkan akan keperluan untuk benih. Hal ini
terutama bila pertanaman adalah kepunyaan petani atau kelompok tani. Lebih-lebih
terhadap prosentase campuran yang banyak dilakukan /ditanam satu persatu
seleksi negatif pada waktu panen untuk pembelian/calon benih, hal ini untuk
menghindari adanya kerugian hasil persatuan luas.
e. Pertanaman
untuk seleksi/pemurnian lebih baik langsung seleksi positif, kalau memungkinkan
cara yang terbaik adalah dipilih tanaman yang baik dan mempunyai ciri-ciri yang
sesuai dan terus digalurkan/ditanam satu per satu setiap lubang
tanam.Galur-galur yang menunjukkan ciri-ciri yang mantap, disatukan kembali
sebagai “bulk” untuk benih selanjutnya. Cara ini adalah yang paling cepat untuk
mencapai kemurnian.
f. Setelah
mendapatkan yang murni, maka pekerjaan selanjutnya mempertahankan kemurnian
dengan cara seleksi negatif.
g. Dalam
pelaksanaan harus diperhatikan bahwa tidak boleh ada hambatan tanam supply
benih kepada pengembangan produksi, dengan kemurnian yang makin meningkat.
Karena itu untuk benih sendiri, yang nantinya akan menjadi cikal bakalnya nama
selalu diambil secara positif.
Pelaksanaan tersebut merupakan petunjuk untuk mendukung
terwujudnya penyaluran benih murni / bermutu secara berkesinambungan.
Sasaran Pelepasan Varietas
Sebagaimana telah diketahui bahwa potensi varietas merupakan
modal dasar pembangunan pertanian. Sesuai dengan keberadaan serta potensi
varietas tersebut, maka sasaran pelepasan varietas harus sejalan dengan program
nasional dalam upaya pelestarian swasembada beras serta peningkatan produksi
tanaman pangan lainnya. Setiap peningkatan produktivitas dari varietas yang
dilepas mempunyai dimensi pembaharuan yang sangat besar dalam peningkatan
produksi serta pendapatan petani.
Sehubungan dengan hal tersebut, penilaian varietas dalam
rangka pelepasan akan lebih kritis dan mengarah kepada kemajuan produktivitas
yang berdampak peningkatan kesejahteraan petani. Di samping itu kemantapan
kestabilan serta keragaman baik kualitas maupun sifat-sifat agronomis lainnya
sudah saatnya diperhitungkan. Demikian pula kepada instansi yang melakukan
pengujian adaptasi atau multilokasi akan dimintakan pertimbnagn khusus.
Berdasarkan hal tersebut di atas Dirjen Pertanian Tanaman Pangan mengajukan
beberapa sasaran sebagai bahan acuan dalam penilaian dan pelepasan suatu
varietas. Khusus untuk varietas lokal yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
perlu pemutihan dengan sistem pemurnian varietas, dengan syarat yang ditetapkan
tersendiri sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
Hasil-Hasil Varietas Unggul
Sejak tahun 1974 pemulia tanaman padi, palawija dan
Hortikultura di Indonesia telah melepas lebih dari 210 varietas unggul,
meliputi padi sebanyak +_83 varietas, palawija sebanyak +_ 69 varietas dan
Hortikultura lebih dari 58 varietas. Dari 210 varietas yang sudah dilepas
tersebut, 146 varietas merupakan hasil rekayasa genetika para pemulia di Indonesia,
21 varietas merupakan hasil introduksi dari IRRI dan sisanya merupakan hasil
pemutihan varietas lokal yang sudah dominan di beberapa daerah tertentu. Sedang
di sektor perkebunan khususnya komoditi tebu, sejak tahun 1978 hingga tahun
1992 telah dilepas oleh Mentan sebanyak 57 varietas unggul. Dua varietas
diantaranya adalah hasil introduksi dari Taiwan dan Mauritius sedang lainnya
merupakan hasil perakitan pemulia tanaman tebu dari Pasuruan.
SEJARAH PEMULIAAN
Kegiatan pemuliaan tanaman dapat dikatakan sebagai tekanan
evolusi yang sengaja dilakukan oleh manusia. Pada masa prasejarah, pemuliaan
tanaman telah dilakukan orang sejak dimulainya domestikasi tanaman, namun
dilakukan tanpa dasar ilmu yang jelas. Sisa-sisa biji-bijian dari situs-situs
peninggalan arkeologi membantu menyingkap masa prasejarah pemuliaan tanaman.
Catatan-catatan pertama dalam jumlah besar mengenai berbagai jenis tanaman
diperoleh dari karya penulis-penulisRomawi, terutama Plinius.
Para petani pada masa-masa awal pertanian selalu menyimpan
sebagian benihuntuk pertanaman berikutnya dan tanpa sengaja melakukan pemilihan
(seleksi) terhadap tanaman yang kuat karena hanya tanaman yang kuat mampu
bertahan hingga panenSifat pertama dalam budidaya tanaman serealia (bijirin)
yang termuliakan adalah ukuranbulir yang menjadi lebih besar dan menurunnya
tingkat kerontokan bulir pada tanaman budidaya apabila dibandingkan dengan
moyang liarnya.[7] Beberapa petunjuk untuk hal ini dapat diperkirakan dari temuan
sejumlah sisa bulir jelai dan einkorn di lembah Sungai Eufrat dan Sungai Tigris
(paling tua 9000 SM) serta padi di daerah aliran Sungai Yangtze. Temuan serupa
untuk biji polong-polongan berasal dari India utara dan kawasan Afrika
Sub-Sahara
Perkembangan seleksi lebih lanjut telah menunjukkan
kesengajaan dan terkait dengan tingkat kebudayaan masyarakat penanam. Bulir
jagung terseleksi dari teosinteyang bulirnya keras serta terbungkus sekam, lalu
menjadi jagung bertongkol namun bulirnya masih terbungkus sekam, dan akhirnya
bentuk yang berbulir tanpa sekam dan lebih mudah digiling menjadi semakin
banyak ditemukan. Beberapa petunjuk yang sama juga terlihat dari temuan-temuan
untuk bulir gandum roti dan jelai. Contoh lainnya adalah munculnya padi ketan
serta jagung ketan di Asia Timur dan Asia Tenggara. Hanya dari wilayah inilah
muncul jenis-jenis ketan dari delapan spesies dan menunjukkan preferensi akan
sifat ini.
Pemuliaan pada masa pramodern
Kebudayaan Romawi Kuna (abad ke-9 SM – abad ke-5 Masehi)
meninggalkan banyak tulisan mengenai keanekaragaman tanaman budidaya dan juga
menyebut berbagai variasi setiap jenis. Cato dengan De Agri Cultura[8] dan
Plinius yang Tua denganNaturalis Historia, misalnya, memberi banyak informasi
mengenai variasi tanaman dan khasiat masing-masing bagi kesehatan.
Kitab-kitab suci dari Asia Barat, seperti Al-Qur'an, juga
menyebut tentang variasi pada beberapa tanaman. Hal ini menunjukkan telah ada
kesadaran dalam memilih bahan tanam dan pemilihan kultivar tertentu dengan
target konsumen yang berbeda-beda.
Pada awal milenium pertama dan paruh pertama milenium kedua
telah terjadi pertukaran komoditi pertanian yang berakibat migrasi sejumlah
bahan pangan. Pisangmenyebar dari Asia Tenggara maritim ke arah barat hingga
pantai timur Afrika. Berbagai tanaman rempah, seperti merica dan ketumbar, dan
tanaman "suci", seperti randu alasdan beringin, menyebar dari India
ke Nusantara. Namun demikian, pertukaran tanaman yang intensif terjadi setelah
penjelajahan orang Eropa.
Meskipun penyebaran tanaman telah terjadi sebelum
kolonialisme, Zaman Penjelajahan (sejak abad ke-14) dan kolonialisme
(penjajahan) yang menyusulnya telah membawa pengaruh yang dramatis dalam
budidaya tanaman.
Segera setelah orang Spanyol dan Portugis menaklukkan
Amerika dan menemukan jalur laut ke Cina, terjadi pertukaran berbagai tanaman
dari Dunia Baru keDunia Lama, dan sebaliknya. Kopi yang berasal Afrika,
misalnya, dibawa ke Amerika dan Asia (dibawa ke Nusantara pada abad ke-18
awal).[10] Kelak (abad ke-18) tebu juga menyebar dari Asia Tenggara menuju
Amerika tropis, seperti Karibia dan Guyana. Namun demikian, yang lebih intensif
adalah penyebaran berbagai tanaman budidaya penduduk asli Amerika ke tempat
lain: jagung, kentang, tomat, cabai, kakao, para (karet), serta berbagai tanaman
buah dan hias.
Pada abad ke-18, terjadi gelombang rasionalisasi di Eropa
sebagai dampak Masa Pencerahan. Orang-orang kaya di Eropa (dan pada tingkat
tertentu juga di Cina dan Jepang) mulai meminati koleksi tanaman eksotik dan
kebun-kebun kastil mereka yang luas menjadi tempat koleksi berbagai tanaman
dari negeri asing. Pada abad ke-18 mulai berkembang perkebunan-perkebunan
monokultur (satu macam tanaman pada satu petak lahan). Berbagai tanaman
penghasil komoditi dagang utama dunia seperti tebu, teh, kopi,lada, dan tarum
dibudidayakan di berbagai tanah jajahan, termasuk Kepulauan Nusantara, tentu
saja dengan melibatkan perbudakan atau tanam paksa. Pada abad ini pula cengkeh
dan pala mulai ditanam di luar Maluku, sehingga harganya menurun dan tidak lagi
menjadi rempah-rempah yang eksklusif.
Pola pertanaman monokultur yang diterapkan pada abad ke-18
dan ke-19 di Eropa dan perkebunan-perkebunan di berbagai negeri jajahan memakan
korban dengan terjadinya dua wabah besar: serangan hawar kentang Phytophthora infestans
yang menyebabkan Wabah Kelaparan Besar di Irlandia, Skotlandia serta beberapa
wilayah Eropa lainnya sejak 1845 akibat dan hancurnya perkebunan kopi arabika
dan liberikaakibat serangan karat daun Hemileia vastatrix di perkebunan dataran
rendah Afrika dan Asia sejak 1861 sampai akhir abad ke-19. Pada tahun 1880-an
juga meluas wabahpenyakit sereh di berbagai perkebunan tebu dunia.
Para botaniwan dan ahli pertanian kemudian segera mengambil
pelajaran dari kasus-kasus ini untuk menyediakan bahan tanam yang tahan
terhadap serangan organisme pengganggu, sekaligus memberikan hasil yang lebih
baik. Usaha-usaha perbaikan mutu genetik tanaman perkebunan mulai dilakukan
pada akhir abad ke-19 di beberapa daerah koloni, termasuk Hindia-Belanda.
Kebun penelitian gula (tebu) pertama kali didirikan di
Semarang tahun 1885 (Proefstation Midden Java), setahun kemudian didirikan pula
di Kagok, Jawa Barat, dan menyusul di Pasuruan tanggal 8 Juli 1887
(Proefstation Oost Java, POJ). Salah satu misinya adalah mengatasi kerugian
akibat penyakit sereh. Pada tahun 1905 seluruh penelitian gula/tebu dipusatkan
di Pasuruan (sekarang menjadi P3GI). Berbagai klon tebu hasil lembaga
penelitian ini pernah termasuk sebagai kultivar tebu paling unggul di dunia di
paruh pertama abad ke-20, seperti POJ 2364, POJ 2878, dan POJ 3016 sehingga
menjadikan Jawa sebagai produsen gula terbesar di belahan timur bumi.
Pusat penelitian karet (sekarang menjadi Pusat Penelitian
Karet Indonesia) didirikan di Sungei Putih, Sumatera Utara, oleh AVROS, dan pemuliaan
para dimulai sejak 1910. AVROS juga mendirikan lembaga penelitian kelapa sawit
(sekarang populer sebagai PPKS) di Marihat, Sumatera Utara pada tahun 1911,
meskipun tanaman ini sudah sejak 1848 didatangkan ke Medan/Deli dan Bogor.
Abad ke-20: Pemuliaan berbasis ilmu
Awal abad ke-20 menjadi titik perkembangan pemuliaan tanaman
yang berbasis ilmu pengetahuan. Perkembangan pesat dalam botani, genetika,
agronomi, dan statistikatumbuh sebagai motor utama modernisasi pemuliaan
tanaman sejak awal abad ke-20 hingga 1980-an. Mekanisasi pertanian di dunia
yang meluas sejak 1950-an memungkinkan penanaman secara massal dengan tenaga
kerja minimal. Ketika biologi molekular tumbuh pesat sejak 1970-an, pemuliaan
tanaman juga mengambil manfaat darinya, dan mulailah perkembangan pemuliaan
tanaman yang didukung ilmu tersebut sejak 1980-an. Bioinformatika juga
perlahan-lahan mengambil peran statistika sebagai pendukung utama dalam
analisis data eksperimen.
Penemuan kembali Hukum Pewarisan Mendel pada tahun 1900,
eksperimen terhadap seleksi atas generasi hasil persilangan dan galur murni
oleh Wilhelm Johannsen (dekade pertama abad ke-20), peletakan dasar Hukum
Hardy-Weinberg (1908 dan 1909), dan penjelasan pewarisan kuantitatif berbasis
Hukum Mendel oleh Sir Ronald Fisher pada tahun 1916 memberikan banyak
dasar-dasar teoretik terhadap berbagai fenomena yang telah dikenal dalam
praktik dan menjadi dasar bagi aplikasi ilmu dan teknologi dalam perbaikan
kultivar.
Perkembangan yang paling revolusioner dalam genetika dan
pemuliaan tanaman adalah ditemukannya cara perakitan varietas hibrida pada
tahun 1910-an setelah serangkaian percobaan persilangan galur murni di Amerika
Serikat sejak akhir abad ke-19 oleh Edward M. East, George H. Shull dan Donald
F. Jones yang memanfaatkan gejalaheterosis. Ditemukannya teknologi mandul
jantan di tahun 1940-an semakin meningkatkan efisiensi perakitan varietas
hibrida.
Cara budidaya yang semakin efisien dan mendorong
intensifikasi dalam pertanian, dengan penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan mekanisasi
pertanian, memunculkan lahan pertanian dengan kebutuhan benih berjumlah besar
dan mulai menghasilkan "raksasa" dalam industri perbenihan. Tumbuhnya
industri perbenihan juga dimungkinkan sejak adanya varietas hibrida karena
benih yang harus dibeli petani memungkinkan industri perbenihan untuk tumbuh.
Dari sini mulai muncul pula isuperlindungan varietas tanaman. Di Amerika
Serikat muncul Dekalb dan Pioneer Hi-Bredsebagai pemain utama dalam industri
benih. Dari Eropa, wilayah yang telah memulai produksi benih setengah
industrial pada abad ke-19, muncul KWS Saat dan NPZ(Jerman), serta SW Seeds
(Swedia) sebagai pemain utama di bidang perbenihan tanaman serealia dan pakan
ternak hijauan. Di Taiwan dan Jepang juga berkembang perusahaan benih yang
menguasai pasar regional Asia, seperti Sakata (Jepang) dan Known You Seeds
(Taiwan).
Seusai Perang Dunia II (PD II) perbaikan genetik gandum yang
didukung Yayasan Rockefeller di lembaga penelitian yang didanainya di Meksiko
sebagai bagian dari paket teknologi untuk melipatgandakan hasil gandum
menunjukkan keberhasilan. Strategi ini, yang dikonsep oleh Norman Borlaug,
kemudian dicoba untuk diterapkan pada tanaman pokok lain, khususnya padi dan
beberapa serealia minor lainnya (seperti sorgum danmilet) dan didukung oleh
FAO. Revolusi dalam teknik bercocok tanam ini kelak dikenal secara iinformal
sebagai Revolusi Hijau. Untuk mendukung revolusi ini banyak dibentuk
lembaga-lembaga penelitian perbaikan tanaman bertaraf dunia seperti CIMMYT (di
Meksiko, 1957; sebagai kelanjutan dari lembaga milik Yayasan Rockefeller), IRRI
(diFilipina, 1960), ICRISAT (di Andhra Pradesh, India, 1972), dan CIP (di La
Molina, Peru). Lembaga-lembaga ini sekarang tergabung dalam CGIAR dan koleksi
serta hasil-hasil penelitiannya bersifat publik.
Akhir PD II juga menjadi awal berkembangnya teknik-teknik
baru dalam perluasan latar genetik tanaman. Mutasi buatan, yang tekniknya
dikenal sejak 1920-an, mulai luas dikembangkan pada tahun 1950-an sampai dengan
1970-an sebagai cara untuk menambahkan variabilitas genetik. Pemuliaan dengan
menggunakan teknik mutasi buatan ini dikenal sebagai pemuliaan mutasi. Selain
mutasi, teknik perluasan latar genetik juga menggunakan teknik poliploidisasi
buatan menggunakan kolkisin, yang dasar-dasarnya diperoleh dari berbagai
percobaan oleh Karpechenko pada tahun 1920-an. Tanaman poliploid biasanya
berukuran lebih besar dan dengan demikian memiliki hasil yang lebih tinggi.
Daun dari kacang tanah yang telah direkayasa dengan sisipan
gen cry dariBacillus thuringiensis (bawah) tidak disukai ulat penggerek.
Gelombang bioteknologi, yang memanfaatkan berbagai metode
biologi molekuler, yang mulai menguat pada tahun 1970-an mengimbas pemuliaan
tanaman. Tanaman transgenik pertama dilaporkan hampir bersamaan pada tahun
1983, yaitu tembakau,Petunia, dan bunga matahari. Selanjutnya muncul berbagai
tanaman transgenik dari berbagai spesies lain; yang paling populer dan
kontroversial adalah pada jagung, kapas,tomat, dan kedelai yang disisipkan
gen-gen toleran herbisida atau gen ketahananterhadap hama tertentu.
Perkembangan ini memunculkan wacana pemberian hak patenterhadap metode, gen,
serta tumbuhan terlibat dalam proses rekayasa ini. Kalangan aktivis lingkungan
dan sebagian filsuf menilai hal ini kontroversial dengan memunculkan kritik ideologis
dan etis terhadap praktik ini sebagai reaksinya, terutama karena teknologi ini
dikuasai oleh segelintir perusahaan multinasional. Isu politik, lingkungan, dan
etika, yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam khazanah pemuliaan tanaman,
mulai masuk sebagai pertimbangan baru.
Sebagai jawaban atas kritik terhadap tanaman transgenik,
pemuliaan tanaman sekarang mengembangkan teknik-teknik bioteknologi dengan
risiko lingkungan yang lebih rendah seperti SMART Breeding ("Pemuliaan
SMART") dan Breeding by Design, yang mendasarkan diri pada pemuliaan
dengan penanda, dan juga penggunaan
teknik-teknik pengendalian regulasi ekspresi gen seperti peredaman gen, dan
kebalikannya,pengaktifan gen.
Meskipun penggunaan teknik-teknik terbaru telah dilakukan
untuk memperluas keanekaragaman genetik tanaman, hampir semua produsen benih,
baik yang komersial maupun publik, masih mengandalkan pada pemuliaan tanaman
"konvensional" dalam berbagai programnya.
Di arah yang lain, gerakan pemuliaan tanaman
"gotong-royong" atau partisipatif (participatory plant breeding) juga
m
DASAR-DASAR TEORI DARI METODE
PEMULIAAN TANAMAN
Strategi Dasar Pemuliaan Tanaman.
3 strategi dasar pemuliaan tanaman antara lain:
1. Koleksi Plasma
Nuftah
Plasma nutfah adalah bahan baku dasar pemuliaan karena di
sini tersimpan berbagai keanekaragaman sifat yang dimiliki oleh masing-masing
nomor koleksi (aksesi). Tanpa keanekaragaman, perbaikan sifat tidak mungkin
dilakukan. Usaha pencarian plasma nutfah baru berarti eksplorasi ke
tempat-tempat yang secara tradisional menjadi pusat keanekaragaman hayati (atau
hutan) atau dengan melakukan pertukaran koleksi. Lembaga-lembaga publik seperti
IRRI dan CIMMYT menyediakan koleksi plasma nutfah bagi publik secara bebas bea,
namun untuk kepentingan bisnis diatur oleh perjanjian antara pihak-pihak yang
terkait.
2. Peningkatan
keragaman (variabilitas) genetik.
Apabila aksesi tidak ada satu pun yang memiliki suatu sifat
yang diinginkan, pemulia tanaman melakukan beberapa cara untuk merakit individu
yang memiliki sifat ini. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah introduksi
bahan koleksi, persilangan, manipulasi kromosom, mutasi dengan paparan
radioaktif atau bahan kimia tertentu, penggabungan (fusi) protoplas/inti sel, manipulasi
urutan gen, transfer gen, dan manipulasi regulasi gen.
Empat cara yang disebut terakhir kerap dianggap sebagai
bagian dari bioteknologi pertanian (green biotechnology). Tiga cara yang
terakhir adalah bagian dari rekayasa genetika dan dianggap sebagai
"pemuliaan tanaman molekular" karena menggunakan metode-metode
biologi molekular.
Peningkatan keragaman (variabilitas) genetik antara lain:
1. Introduksi
Intoduksi adalah mendatangkan bahan tanam dari tempat lain
(introduksi) merupakan cara paling sederhana untuk meningkatkan keragaman
(variabilitas) genetik. Seleksi penyaringan (screening) dilakukan terhadap
koleksi plasma nutfah yang didatangkan dari berbagai tempat dengan kondisi
lingkungan yang berbeda-beda. Pengetahuan tentang pusat keanekaragaman
(diversitas) tumbuhan penting untuk penerapan cara ini. Contoh pemuliaan yang
dilakukan dengan cara ini adalah pemuliaan untuk berbagai jenis tanaman buah
asli Indonesia, seperti durian dan rambutan, atau tanaman pohon lain yang mudah
diperbanyak secara vegetatif, seperti ketela pohon dan jarak pagar. Introduksi
dapat dikombinasi dengan persilangan. Introduksi tanaman selain menambah
keragaman tanaman mempunyai manfaat lain yaitu :
a. memajukan
bidang industri,dengan mendatangkan tanaman-tanaman industri seperti tanaman
kehutanan, tanaman obat-obatan dan tanaman industri lainnya.
b. Memenuhi
kebutuhan aestetik dengan mendatangkan tanaman-tanaman ornamental untuk
melengkapi koleksi kebun-kebun, taman-taman, gedung-gedung sehingga menciptakan
keindahan tersendiri.
c. Untuk
mempelajari asal, distribusi, klasifikasi dan evolusi dari tanaman dengan jalan
memelihara tanaman yang diintroduksi di tempat tertentu kenmudian dipelejari
data-datanya secara mendetail. Untuk peningkatan mutu tanaman.
2. Persilangan
Persilangan merupakan cara yang paling populer untuk
meningkatkan variabilitas genetik, bahkan sampai sekarang karena murah,
efektif, dan relatif mudah dilakukan. Walaupun secara teknis relatif mudah,
keberhasilan persilangan perlu mempertimbangkan ketepatan waktu berbunga
(sinkronisasi), keadaan lingkungan yang mendukung, kemungkinan
inkompatibilitas, dan sterilitas keturunan. Keterampilan teknis dari petugas
persilangan juga dapat berpengaruh pada keberhasilan persilangan. Pada sejumlah
tanaman, seperti jagung, padi, dan Brassica napus (rapa), penggunaan teknologi
mandul jantan dapat membantu mengurangi hambatan teknis karena persilangan
dapat dilakukan tanpa bantuan manusia.
Sesuai dengan hubungan kekeluargaan tanaman yang akan disilangkan
ada beberapa macam persilangan :
a. Intravarietal
: persilangan antara tanaman-tanaman yang varietasnya sama.
b. Intervarietal
: persilangan antara tanaman-tanaman yang berasala dari varietas yang berbeda
tetapi masih dalam spesies yang sama. Juga disebut persilangan Intraspesifik
c. Interspesifik
: persilangan dari tanaman-tanaman yang berbeda spesies tetapi masih dalam
genus yang sama. Juga disebut persilangan Intragenerik. Persilangan ini
dilakukan untuk maksud memindahkan daya ressistensi terhadap hama, penyakit dan
kekeringan dari suatu spesies ke lain spesies. Misal : tomat, tebu
d. Intergenerik:
persilangan antara tanaman-tanaman dari genera yang berbeda. Persilangan ini
dilakukan untuk menstransfer daya resisten hama,penyakit dan kekeringan dari
genera-genera yang masih liar ke genera-genera yang sudah dibudidayakan. Misal
tebu dan glagah lobak dan kubis.
e. Introgresive:
pada tipe persilangan ini salah satu spesies seolah-olah sifatnya mendominir
sifat-sifat spesies yang lain sehingga populasi hybrid yang terbentuk
seolah-olah hanya terdiri atas satu jenis spesies yang mendominir tersebut.
3. Pemuliaan
dengan bantuan mutasi
Pemuliaan tanaman dengan bantuan mutasi (dikenal pula
sebagai pemuliaan tanaman mutasi) adalah teknik yang pernah cukup populer untuk
menghasilkan variasi-variasi sifat baru. Teknik ini pertama kali diterapkan oleh
Stadler pada tahun 1924 tetapi prinsip-prinsip pemanfaatannya untuk pemuliaan
tanaman diletakkan oleh Åke Gustafsson dari Swedia. Tanaman dipaparkan pada
sinar radioaktif dari isotop tertentu (biasanya kobal-60) dengan dosis rendah
sehingga tidak mematikan tetapi mengubah sejumlah basa DNA-nya. Mutasi pada gen
akan dapat mengubah penampilan tanaman. Pada tanaman yang dapat diperbanyak
secara vegetatif, induksi jaringan kimera sudah cukup untuk menghasilkan
kultivar baru. Pada tanaman yang diperbanyak dengan biji, mutasi harus terbawa
oleh sel-sel reproduktif, dan generasi selanjutnya (biasa disebut M2, M3, dan
seterusnya) diseleksi.
Macam-macam Mutasi :
a. Mutasi gen :
Dapat terjadi baik pada jaringan vegetatif maupun generatif
dari tanaman. Gen letaknya teratur dalam kromosom, dengan pengaruh fisis/khemis
maka letak gen dalam kromosom secara spontan dapat berubah, sehingga menghadapi
mutasi gen. Mutasi gen bukan saja menyebabkan perubahan phenotype saja tetapi
juga menyebabkan terpengaruhnya pertumbuhan, pertukaran zat dan proses-proses
fisiologis lainnya.
b. Mutasi genom :
Pada peristiwa ini jumlah genome individu mengalami
perubahan dan mutasi genome selalu mengakibatkan gejala heteroploid/
amphidiploid/aneuploid yaitu gejala terbentuknya individu poliploid dimana
jumlah kromosomnya bukan merupakan kelipatan yang sempurna dari
genom/haploidnya.
Pada tanaman diploid normal mempunyai
formula.anggota-anggota heteroploidnya sebagai berikut :
Nama
Simbul Formula
Ø Nullisomic 2x – 2 (AB) (AB)
Ø Monososic 2x – 1 (ABC) (AB)
Ø Double
Monosomic 2x – 1 – 1 (AB) (AC)
Ø Trisomic 2x + 1 (ABC) (ABC)(C)
Ø Double
Trisomic 2x +1 + 1 (ABC) (ABC) (A) (B)
Ø Monosomic
trisomic 2x – 1 + 1 (ABC) (AB) (A)
c. Mutasi
Kromosom
Ada beberapa macam Mutasi Kromosom
1.
Fragmentasi : peristiwa
terpecahnya kromosom
2.
Translokasi :
pertukaran segmen / potongan kromosom
yang tidak
Homolog
3. Inversi : terputusnya bagian
kromosom & tersusun
kembali dengan arah
terbalik
4.
Defisiensi :
hilangnya bagian kromosom yang terletak
pada ujung
ujungnya
5. Delesi : hilangnya bagian kromosom
yang ditengah
6. Duplikasi : penggandaan bagian kromosom
d. Mutasi Plasmon
Dan Plastidom
Pada persilangan resiprok, hybrid yang terjadi seringkali
berbeda-beda. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa plasma dan plastida mengambil
bagian juga dalam proses keturunan. Suatu varietas tanaman apabila terjadi
mutasi plasmon, plasmanya akan berlainan>Warna blontang-blontang pada daun
disebabkan karena mutasi plastidom. Mutasi plasmon dan plastidom mempunyai
prospek yang menarik dalam bidang hortikultura, terutama tanaman hias yang
dikomersiilkan.
4. Transfer Gen
Dalam transfer gen, fragmen DNA dari organisme lain (baik
mikroba, hewan, atau tanaman), atau dapat pula gen sintetik, disisipkan ke
dalam tanaman penerima dengan harapan gen "baru" ini akan terekspresi
dan meningkatkan keunggulan tanaman tersebut. Strategi pemuliaan ini banyak
mendapat penentangan dari kelompok-kelompok lingkungan karena kultivar yang
dihasilkan dianggap membahayakan lingkungan jika dibudidayakan.
5. Manipulasi
kromosom
Yang termasuk dalam cara ini adalah semua manipulasi ploidi,
baikpoliploidisasi (penggandaan genom) maupun pengubahan jumlah kromosom.Gandum
roti dikembangkan dari penggabungan tiga genom spesies yang berbeda-beda.
Semangka tanpa biji dikembangkan dari persilangan semangka tetraploiddengan
semangka diploid. Pengubahan jumlah kromosom (seperti pembuatan galur trisomik
atau monosomik) biasanya dilakukan sebagai alat analisis genetik untuk
menentukan posisi gen-gen yang mengatur sifat tertentu. Galur dengan jumlah
kromosom yang tidak berimbang seperti itu mengalami hambatan dalam
pertumbuhannya. Teknik pemuliaan ini sebenarnya juga mengandalkan persilangan
dalam praktiknya.
6. Manipulasi gen
dan ekspresinya
Metode-metode yang melibatkan penerapan genetika molekular
masuk dalam kelompok ini, seperti teknologi antisense, peredaman gen
(termasukinterferensi RNA), rekayasa gen, dan overexpression. Meskipun
teknik-teknik ini telah diketahui berhasil diterapkan dalam skala percobaan,
belum ada kultivar komersial yang dirilis dengan cara-cara ini.
3. Identifikasi
dan Seleksi Terhadap Bahan Pemuliaan
Bahan atau materi pemuliaan dengan keanekaragaman yang luas
selanjutnya perlu diidentifikasi sifat-sifat khas yang dibawanya, diseleksi
berdasarkan hasil identifikasi sesuai dengan tujuan program pemuliaan, dan
dievaluasi kestabilan sifatnya sebelum dinyatakan layak dilepas kepada publik.
Dalam proses ini penguasaan berbagai metode percobaan, metode seleksi, dan juga
"naluri" oleh seorang pemulia sangat diperlukan.
a. Identifikasi
Keunggulan
Usaha perluasan keanekaragaman akan menghasilkan banyak
bahan yang harus diidentifikasi. Pertimbangan sumber daya menjadi faktor
pembatas dalam menguji banyak bahan pemuliaan. Di masa lalu identifikasi
dilakukan dengan pengamatan yang mengandalkan naluri seorang pemulia dalam
memilih beberapa individu unggulan. Program pemuliaan modern mengandalkan
rancangan percobaan yang diusahakan seekonomis tetapi seakurat mungkin.
Percobaan dapat dilakukan di laboratorium untuk pengujian genotipe/penanda
genetik atau biokimia, di rumah kaca untuk penyaringan ketahanan terhadap hama
atau penyakit, atau lingkungan di bawah optimal, serta di lapangan terbuka.
Tahap identifikasi dapat dilakukan terpisah maupun terintegrasi dengan tahap
seleksi.
b. Seleksi
Banyak metode seleksi yang dapat diterapkan, penggunaan
masing-masing ditentukan oleh berbagai hal, seperti moda reproduksi (klonal,
berpenyerbukan sendiri, atau silang), heritabilitas sifat yang menjadi target
pemuliaan, serta ketersediaan biaya dan fasilitas, serta jenis kultivar yang
akan dibuat. Tanaman yang dapat diperbanyak secara klonal merupakan tanaman
yang relatif mudah proses seleksinya. Keturunan pertama hasil persilangan dapat
langsung diseleksi dan dipilih yang menunjukkan sifa-sifat terbaik sesuai yang
diinginkan.
Penggunaan penanda genetik sangat membantu dalam mempercepat
proses seleksi. Apabila dalam pemuliaan konvensional seleksi dilakukan
berdasarkan pengamatan langsung terhadap sifat yang diamati, aplikasi pemuliaan
tanaman dengan penanda (genetik) dilakukan dengan melihat hubungan antara alel
penanda dan sifat yang diamati. Agar supaya teknik ini dapat dilakukan,
hubungan antara alel/genotipe penanda dengan sifat yang diamati harus
ditegakkan terlebih dahulu.
c. Evaluasi
Bahan-bahan pemuliaan yang telah terpilih harus dievaluasi
atau diuji terlebih dahulu dalam kondisi lapangan karena proses seleksi pada
umumnya dilakukan pada lingkungan terbatas dan dengan ukuran populasi kecil.
Evaluasi dilakukan untuk melihat apakah keunggulan yang ditunjukkan sewaktu
seleksi juga dipertahankan dalam kondisi lahan pertanian terbuka dan dalam
populasi besar. Selain itu, bahan pemuliaan terpilih juga akan dibandingkan
dengan kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis. Calon kultivar yang tidak
mampu mengungguli kultivar yang sudah lebih dahulu dirilis akan dicoret dalam
proses ini. Apabila bahan pemuliaan lolos tahap evaluasi, ia akan dipersiapkan
untuk dirilis sebagai kultivar baru.
Dalam praktek, biasanya ada tiga jenis evaluasi atau
pengujian yang diterapkan sebelum suatu kultivar dilepas, yaitu uji pendahuluan
(melibatkan 20-50 bahan pemuliaan terseleksi), uji daya hasil pendahuluan
(maksimum 20), dan uji multilingkungan/multilokasi (atau uji daya hasil
lanjutan, biasanya kurang dari 10). Semakin lanjut tahap pengujian, ukuran plot
percobaan semakin besar. Setiap negara memiliki aturan tersendiri mengenai
bakuan untuk masing-masing jenis pengujian dan jenis tanaman.
Calon kultivar yang akan dirilis/dilepas ke publik diajukan
kepada badan pencatat (registrasi) perbenihan untuk disetujui pelepasannya
setelah pihak yang akan merilis memberi informasi mengenai ketersediaan benih
yang akan diperdagangkan.
REPRODUKSI DAN PEMBIAKAN TANAMAN
A. Pengertian
Perkembangbiakan/ Reproduksi
Perkembangbiakan atau Reproduksi adalah suatu proses
biologis di mana individu organisme baru diproduksi. Reproduksi adalah cara
dasar mempertahankan diri yang dilakukan oleh semua bentuk kehidupan; setiap
individu organisme ada sebagai hasil dari suatu proses reproduksi oleh
pendahulunya. Cara reproduksi secara umum dibagi menjadi dua jenis yaitu
reproduksi generatif (seksual) dan reproduksi vegetatif (aseksual).
B. Jenis-Jenis
Perkembangbiakan/Reproduksi Tanaman
1. Reproduksi Generatif
(seksual).
Reproduksi generatif (seksual) adalah
reproduksi/perkembangbiakan yang didahului peleburan antara sel kelamin jantan
dan sel kelamin betina. Peristiwa ini disebut pembuahan. Pembuahan
(fertilisasi) pada tumbuhan berbiji akan terjadi kalau didahului adanya proses
penyerbukan (persarian/polenasi). Alat pembiakan generatif pada tumbuhan yaitu
bunga sebagai tempat terjadinya penyerbukan.
Sistem penyerbukan tanaman dapat ditentukan dengan
mempelajari struktur bunga, waktu masak putik atau benang sari, ada tidaknya
sterilitas dan kompatibilitas antara putik dan benang sari.
Berdasarkan strukturnya bunga dapat dikelompokkan menjadi:
- Bunga Lengkap
: bunga yang memiliki 2 organ seks(benang sari & putik) dan 2 perhiasan
bunga(klopak dan mahkota). Contoh tanaman yang memiliki bunga lengkapantara
lain: ubi jalar, Kacang tanah, Singkong karet, Cabai, Kembang sepatu,
Mangga,Jambu biji dan Kapas.
- Bunga Tidak
Lengkap: bunga yang tidak memiliki 1 dari bagian keempat bagian bunga lengkap.
Contoh tanaman yang memiliki bungan tidak lengkap antara lain: Padi,Sorgum dan
Pepaya betina.
Sedangkan berdasarkan kelengkapan organ seksualnya, bunga
dapat dikelompokkan menjadi:
- Bunga
Sempurna: bunga yang memiliki organ seksual lengkap(benang sari dan putik),
disebut juga bunga hermaprodit. Contoh tanaman yang memiliki bunga
sempurnaantara lain: Padi, Ubi jalar, Kacang tanah, Singkong karet, Cabai,
Kembang sepatu,Mangga, Jambu biji dan Kapas.
- Bunga Tidak
Sempurna: bunga yang tidak memiliki salah satu dari organ seksual.Contoh
tanaman yang memiliki bunga tidak sempurna yaitu Pepaya betina.
Tahap-tahap perkembangbiakan atau reproduksi tanaman yaitu :
Penyerbukan
Penyerbukan adalah sampainya serbuk sari pada tempat tujuan.
Pada tumbuhan Gymnospermae, tujuan serbuk sari adalah tetes penyerbukan,
sedangkan pada tumbuhan Angiospermae, tujuan serbuk sari adalah kepala putik.
a. Macam-Macam
Penyerbukan
1) Berdasarkan
penyebab sampainya serbuk sari pada tujuan
a) Anemogami:
penyerbukan yang disebabkan oleh angin.
Ciri-ciri tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh angin
ialah:
ü bunganya tidak bermahkota
ü serbuk sarinya bergantungan kedudukannya
ü serbuk sarinya banyak dan ringan
ü kepala putiknya besar.
ü Contohnya: rumput, tebu, dan alang-alang.
b) Zoidiogami:
penyerbukan yang dibantu oleh hewan.
Berdasarkan jenis hewannya dapat dibedakan lagi menjadi:
· Entomogami:
penyebabnya adalah serangga. Tumbuhan yang penyerbukannya memerlukan bantuan
serangga umumnya mempunyai ciri-ciri:
ü mahkota bunga berwarna mencolok
ü mengeluarkan bau yang khas.
ü mempunyai kelenjar madu
· Ornitogami:
penyerbukan karena bantuan burung, terjadi pada tumbuhan yang bunganya
mengandung madu atau air.
· Kiropterogami:
penyerbukan karena bantuan kelelawar, terjadi pada tumbuhan yang bunganya mekar
pada malam hari.
· Malakogami:
penyerbukan karena bantuan siput, terjadi pada tumbuhan yang banyak dilekati
siput.
c) Hidrogami:
penyerbukan karena bantuan air. Ini pada umumnya terjadi pada tumbuhan yang
hidup di dalam air, misalnya Hydrilla.
d) Antropogami:
disebut juga penyerbukan buatan atau sengaja, yaitu penyerbukan karena bantuan
manusia. Hal ini dilakukan oleh manusia karena tidak terdapatnya vektor yang
dapat membantu penyerbukan. Contohnya, tumbuhan vanili.
2) Berdasarkan asal
serbuk sari
a) Autogami atau
penyerbukan sendiri. Autogami dapat terjadi bila serbuk sari berasal dari bunga
yang sama. Autogami sering terjadi pada saat bunga belum mekar disebut
kleistogami. Contoh tanaman menyerbuk sendiri antara lain: Padi,Kacang tanah,
Sorgum, Jambu biji, Kapas dan Cabai.
b) Geitonogami atau
penyerbukan tetangga, yaitu penyerbukan di mana serbuk sari berasal dari bunga
yang berlainan tetapi masih dalam satu individu.
c) Alogami atau
penyerbukan silang, yaitu penyerbukan di mana serbuk sari berasal dari bunga
individu lain tetapi masih dalam satu species/jenis. Contoh tanaman menyerbuk
silang antara lain : Ubi jalar, Singkong
karet, Kembang sepatu, Mangga dan Papaya betina.
d) Bastar yaitu
penyerbukan di mana serbuk sari dan putik berasal dari spesies lain.
Terjadinya penyerbukan belum memberi jaminan akan terjadinya
pembuahan, karena buluh serbuk sari yang berasal dari serbuk sari dalam
perkembangan selanjutnya belum tentu dapat mencapai sel telur, yang letaknya di
dalam bakal buah jauh dari kepala putik. Pada beberapa jenis tumbuhan
penyerbukannyatidak mungkin terjadi secara autogami (penyerbukan mandiri). Hal
ini antara lain disebabkan oleh:
ü Dioseus (berumah dua), artinya alat kelamin jantan dan
alat kelamin betina terdapat pada individu yang berbeda. Misalnya: melinjo dan
salak.
ü Dikogami, bila putik dan serbuk sari suatu bunga masaknya
tidak bersamaan. Dikogami dapat dibedakan atas:
- Protandri,
bila serbuk sari suatu bunga masak lebih dulu dari pada putiknya. Contohnya:
bunga jagung, seledri, dan bawang Bombay.
- Protogini,
bila putik suatu bunga masak lebih dulu dari serbuk sarinya. Contohnya: bunga
kubis, bunga coklat, dan alpukat.
- Herkogami,
ialah bentuk bunga yang sedemikian rupa, sehingga serbuk sari dari bunga
tersebut tidak dapat jatuh pada kepala putiknya, kecuali dengan bantuan manusia
atau hewan. Contoh: Anggrek, Vanili, dan lain sebagainya.
- Heterostili,
ialah bunga yang mempunyai benang sari dan tangkai putik tidak sama panjang.
Contoh: tumbuhan familia Rubiaceae (kopi, kina, kaca piring, dan lain
sebagainya).
Pembuahan
Penyerbukan akan menghasilkan individu baru apabila diikuti
oleh pembuahan, yaitu peleburan antara sel kelamin jantan dengan sel kelamin
betina. Pada tumbuhan berbiji dikenal ada dua macam pembuahan, yaitu pembuahan
tunggal pada Gymnospermae, dan pembuahan ganda pada Angiospermae.
1. Pembuahan
Tunggal
Terjadi pada tumbuhan Gymnospermae atau tumbuhan berbiji
terbuka. Serbuk sari akan sampai pada tetes penyerbukan, kemudian dengan
mengeringnya tetes penyerbukan, serbuk sari yang telah jatuh di dalamnya akan
diserap masuk ke ruang serbuk sari melalui mikrofil. Serbuk sari ini
sesungguhnya terdiri atas dua sel, yaitu sel generatif atau yang kecil dan sel
vegetatif yang besar, hampir menyelubungi sel generatif. Serbuk sari ini
kemudian tumbuh membentuk buluh serbuk sari, yang kemudian bergerak ke ruang
arkegonium. Karena pembentukan buluh serbuk sari maka sel-sel yang terdapat di
antara ruang serbuk sari dan ruang arkegonium terdesak ke samping akan
terlarut. Sementara itu di dalam buluh ini sel generatif membelah menjadi dua
dan menghasilkan sel dinding atau sel dislokator, dan sel spermatogen atau
calon spermatozoid. Sel spermatogen kemudian membelah menjadi dua sel
permatozoid. Setelah sampai di ruang arkegonium, sel vegetatif lenyap, dan
kedua sel spermatozoid lepas ke dalam ruang arkegonium yang berisi cairan,
sehingga spermatozoid dapat berenang di dalamnya. Pada ruang arkegonium
terdapat sejumlah sel telur yang besar. Tiap sel telur bersatu dengan satu
spermatozoid, sehingga pembuahan pada Gymnospermae selalu mengasilkan zigot
yang kemudian tumbuh dan berkembang menjadi embrio. Pembuahan tunggal seperti
ini misalnya terjadi pada pohon Pinus.
2. Pembuahan Ganda
a. Perkembangan
serbuk sari
Serbuk sari yang jatuh di kepala putih terdiri atas satu sel
dengan dua dinding pembungkus, yaitu: eksin (selaput luar) dan intin (selaput
dalam). Eksin pecah, kemudian intin tumbuh memanjang membuat buluh serbuk sari.
Buluh serbuk sari ini akan tumbuh menuju ke ruang bakal biji. Bersamaan dengan
ini inti sel serbuk sari membelah menjadi 2, yang besar didepan adalah inti
vegetatif sebagai penunjuk jalan, dan yang kecil di belakang adalah inti
generatif. Inti generatif membelah lagi menjadi dua inti generatif atau
spermatozoid.
b. Pembentukan sel
telur
Bersamaan dengan perkembangan serbuk sari dalam buluh serbuk
sari, di dalam ruang bakal biji sel nuselus membelah menjadi 4 sel baru. Tiga
di antaranya mereduksi dan yang satu tumbuh menjadi calon inti kandung lembaga
primer. Inti calon kandung lembaga primer membelah menjadi dua, yang
selanjutnya masing-masing menuju ke kutub yang berlawanan, yang satu bergerak
ke kalaza yang lain mendekati mikrofil. Kemudian masing-masing membelah lagi
dua kali, sehingga terbentuklah 8 inti. Yang dekat kalaza 3 inti menempatkan
diri berdekatan disebut antipoda. Yang satu lagi bergerak ke tengah. Yang dekat
mikrofil 3 inti menempatkan diri berdekatan. Yang tengah adalah ovum, sedang
mengapitnya adalah sinergid, yang satu lagi juga menuju ke tengah. Dua inti
yang bergerak ke tengah bersatu membentuk inti kandung lembaga sekunder yang
diploid. Kemudian spermatozoid yang satu membuah ovum membentuk zigot, sedang
spermatozoid yang satu lagi membuahi inti kandung lembaga sekunder menghasilkan
calon endosperm yang triploid. Inilah yang dinamakan pembuahan ganda. Masuknya
inti generatif ke dalam ruang bakal biji ada beberapa cara, yaitu:
ü Porogami : bila dalam pembuahan masuknya spermatozoid
melalui mikrofil.
ü Aporogami : bila masuknya spermatozoid tidak melalui
mikrofil. Bila masuknya spermatozoid melalui kalaza, maka disebut kalazogami.
Embrio pada tumbuhan berbiji dapat terjadi karena:
· Amfiksis
(amfmiksis), yaitu terjadinya embrio melalui peleburan antara ovum dan sel
spermatozoid.
·
Apomiksis,embrio terjadi bukan dari peleburan sel telur dengan sel
spermatozoid. Apomiksis dapat terjadi karena:
-
Partenogenesis, yaitu pembentukan embrio dari sel telur tanpa adanya
pembuahan.
- Apogami, yaitu
embrio yang terjadi dari bagian lain dari kandung lembaga tanpa adanya
pembuahan, misalnya dari sinergid atau antipoda.
- Embrioni
adventif, yaitu embrio yang terjadi dari selain kandung lembaga. Misalnya, dari
sel nuselus.
Terjadinya amfimiksis dan apomiksis secara bersama-sama
menyebabkan terdapatnya lebih dari satu embrio dalam satu biji. Peristiwa ini
disebutpoliembrioni. Poliembrioni sering dijumpai pada jeruk, mangga, nangka,
dan sebagainya.
2. Reproduksi
Vegetatif (aseksual)
Reproduksi vegetatif (aseksual) adalah terjadinya individu
baru tanpa didahului peleburan dua sel gamet. Perkembangbiakan atau reproduksi
vegetative dibedakan atas dua, antara lain:
a. Reproduksi
Vegetatif Alami
Vegetatif alami Yaitu terjadi individu baru tanpa adanya
campur tangan manusia. Reproduksi seperti ini terjadi dengan beberapa cara,
yaitu:
1) Dengan
pembelahan sel, terjadi pada tumbuhan bersel satu, misalnya alga bersel satu
Chlorella,Chlamydomonas, dll.
2) Dengan
menghasilkan spora vegetatif, misalnya pada tumbuhan paku, fungi, dan ganggang
3) Dengan
rhizoma atau akar tinggal: pada irut, bunga tasbih, lengkuas, temulawak, dan
kunyit.
4) Dengan
stolon atau geragih, misalnya pada pegagan (Sentela asiatica), rumput teki
(Cyperus rotundus), arbei, dan lain sebagainya.
5) Dengan umbi
batang, misalnya pada kentang (Solanum tuberosum).
6) Dengan umbi
lapis, misalnya pada bawang merah (Allium cepa).
7) Dengan umbi
akar, misalnya pada ketela pohon
8) Dengan
tunas, misalnya pada bambu (Gigantochloa sp).
9) Dengan tunas
adventif, misalnya pada cocor bebek
b. Reproduksi Vegetatif
Buatan
Selain itu tumbuhan dapat juga berkembang biak dengan cara
tak kawin dan dengan bantuan manusia, biasa disebut reproduksi secara vegetatif
buatan, misalnya: mencangkok, stek, okulasi, mengenten, dan merunduk.
a) Stek
Stek adalah perbanyakan tanaman dengan cara pemisahan atau
pemotongan bagian tanaman seperti batang, daun, pucuk, dan akar. Jenis tanaman
yang dapat diperbanyak dengan cara ini adalah
tanaman berkayu dan beberapa tanaman stek tak berkayu.Contohnya
:kedondong, jambu air, markisa, delima, cermai, anggur ,bugenvil, mawar, melati
dan soka.
Cara menyetek:
· Memilih jenis
tanaman yang tahan hama dan penyakit, umur batang kurang lebih satu tahun,
batang dan akar sehat, serta tidak kekurangan gizi.
· Batang yang
cukup tua atau batabg yang memiliki mata tunas dipotong kira-kira 10-30 cm.
Batang tersebut dapat ditanam dan akan
menjadi individu baru.
b) Mencangkok
Jenis tanaman yang dapat dicangkok misalnya pohon
mangga.Berbagai jenis jeruk, berbagai jenis jambu, belimbing, serta kelengkeng.
Kelompok tanaman hias yang dapat dicangkok antara lain soka, bugenvil, dan
puring.
Cara mencangkok:
· Terlebih dahulu
memilih pohon induk yang cukup umurnya, tidak
terlalu tua juga tidak terlalu muda, telah berbuah sebanyak tiga kali, pohon tumbuh subur, kuat dan serial,
serta percabangannya cukup banyak.
· Membungkus
bagian-bagian batang yang telah diikuti
dengan tanah yang mengandung hormone dan pupuk NPK. Kemudian dibungkus
dengan plastic bening atau sabut dan selanjutnya diikat dengan tali
· Akar akan mulai
tumbuh setelah 1-3 bulan sejak batang dicangkok, kemudian dilakukan pemotongan
pertumbuhan akar cangkokan dan hasilnya dapat ditanam.
c) Merunduk
Merunduk dapat dilakukan pada batang beberapa jenis tanaman
yang secara normal berdiri tegak kemudian dibengkokkan hingga menyentuh tanah
sehingga akan segera berakar pada mawar .
· Merunduk biasa
Cabang tanaman dirundukkan dan ditimbun dengan tanah, kecuali ujung cabangnya. Setelah membentuk akar,
cabang atau batangnya dipotong, sehingga diperoleh tanaman baru.. Cara ini
dapat dikerjakan pada mawar, jambu air,
dan arbel
· Merunduk
majemuk
Seluruh batang dirundukkan kemudian ditimbuni tanah pada
beberapa tempat atau seluruh tempat.
Cara ini dapat dikerjakan pada tanaman soka dan anggur.
d) Mengenten
(menyambung/kopulasi)
Pada dasarnya menyambung sama dengan menempel. Cara ini
banyak dilakukan pada singkong dan buah-buahan. Mula-mula biji disemaikan.
Setelah tumbuh lalu disambung dengan ranting/cabang dari pohon sejenis yang
buahnya baik. Kemiringan potongan ± 45°. Diameter batang atas harus sesuai
dengan diameter batang bawah. Kedua sambungan itu diikat dengan kuat.
Diusahakan agar tidak terjadi infeksi. Buah yang dihasilkannya akan sama dengan
buah yang dihasilkan pohon asalnya.
Keuntungan dan kerugian reproduksi vegetatif buatan
Banyak petani yang mengembangkan cara reproduksi pada
tanaman buah-buah, tanaman liar, dan lain-lain dengan cara mencangkok, stek,
merunduk, okulasi, mengenten dan lain-lain. Cara ini memberikan beberapa
keuntungan antara lain:
· Sifat tanaman
baru akan sama persis dengan sifat tanaman induk.
· Cepat
menghasilkan buah.
Disamping itu ada pula beberapa kerugian, antara lain:
· Tanaman yang
berasal dari stek ataupun mencangkok umumnya mempunyai sistem perakaran yang
kurang kuat.
·
Perkembangbiakan secara vegetatif dapat menghasilkan sedikit keturunan.
· Bila tanaman
hasil reproduksi vegetatif dipotong ranting-rantingnya maka dapat menyebabkan
menurun pertumbuhannya.
EFEKTIFITAS DARI BERBAGAI CARA
PROGRAM SELEKSI
Seleksi
Seleksi sangat penting artinya dalam pemuliaan, baik untuk
membuat/membentuk galur-galur yang akan menjadi varietas atau calon varietas
atau untuk mempertahankan suatu varietas.
Dalam perbenihan dikenal istilah roguing, yang tidak lain
adalah seleksi negatif, yaitu membuang tanaman-tanaman yang menyimpang.
Tanaman-tanaman yang menyimpang (off type) menunjukkan ciri-ciri dari apa yang
seharusnya dipunyai oleh suatu varietas yang kita maksudkan. Hal ini dilakukan
untuk menjga kemurnian dari varietas tersebut dapat dipertahankan.
Varietas-varietas lokal pada umumnya merupakan populasi
campuran yang memerlukan pemurnian yang hanya dapat dilaksanakan dengan
seleksi, minimal seleksi negatif, tergantung dari besarnya populasi campuran.
Oleh karena itu cara pemurnian untuk memantapkan dapat juga dengan seleksi
positif, dalam hal ini diambil/dipungut tanaman-tanaman yang ciri-cirinya sesuai
dengan yang dicantumkan dalan deskripsi disamping memperhatikan pula potensi
hasilnya. Tanaman tersebut kemudian dibulk(disatukan) untuk benih sumber
pertanaman selanjutnya.
Banyak metode seleksi yang dapat diterapkan, penggunaan
masing-masing ditentukan oleh berbagai hal, seperti moda reproduksi (klonal,
berpenyerbukan sendiri, atau silang), heritabilitas sifat yang menjadi target
pemuliaan, serta ketersediaan biaya dan fasilitas, serta jenis kultivar yang
akan dibuat.
Tanaman yang dapat diperbanyak secara klonal merupakan
tanaman yang relatif mudah proses seleksinya. Keturunan pertama hasil
persilangan dapat langsung diseleksi dan dipilih yang menunjukkan sifa-sifat
terbaik sesuai yang diinginkan.
Seleksi massa dan seleksi galur murni dapat diterapkan
terhadap tanaman dengan semua moda reproduksi. Hasil persilangan tanaman
berpenyerbukan sendiri yang tidak menunjukkan depresi silang-dalam seperti padi
dan gandum dapat pula diseleksi secara curah (bulk). Teknik modifikasi seleksi
galur murni yang sekarang banyak dipakai adalah keturunan biji tunggal (single
seed descent, SSD) karena dapat menghemat tempat dan tenaga kerja.
Terhadap tanaman berpenyerbukan silang atau mudah bersilang,
seleksi berbasis nilai pemuliaan (breeding value) dianggap yang paling efektif.
Berbagai metode, seperti seleksi "tongkol-ke-baris" (beserta
modifikasinya), seleksi saudara tiri, seleksi saudara kandung, dan seleksi
saudara kandung timbal-balik (reciprocal selection), diterapkan apabila tanaman
memenuhi syarat perbanyakan seperti ini. Metode seleksi timbal-balik yang
berulang (recurrent reciprocal selection) adalah program seleksi jangka panjang
yang banyak diterapkan perusahaan-perusahaan besar benih untuk memperbaiki lungkang
gen (gene pool) yang mereka miliki. Dua atau lebih lungkang gen perlu dimiliki
dalam suatu program pembuatan varietas hibrida.
Penggunaan penanda genetik sangat membantu dalam mempercepat
proses seleksi. Apabila dalam pemuliaan konvensional seleksi dilakukan
berdasarkan pengamatan langsung terhadap sifat yang diamati, aplikasi pemuliaan
tanaman dengan penanda (genetik) dilakukan dengan melihat hubungan antara alel
penanda dan sifat yang diamati. Agar supaya teknik ini dapat dilakukan,
hubungan antara alel/genotipe penanda dengan sifat yang diamati harus
ditegakkan terlebih dahulu.
Dalam pemuliaan tanaman dikenal ada dua seleksi menurut cara
penyerbukannya, antara lain:
1. Seleksi Untuk
Pemuliaan Tanaman Menyerbuk Sendiri
a. Seleksi lini
murni
b. Seleksi massa
c. Seleksi bulk
d. Seleksi Single
Seed Descent
e. Seleksi
pedigri/silsilah
Seleksi Lini Murni
Kebaikan dari seleksi lini murni
· Untuk
memperoleh individu homosigot.
· Bahan
seleksi adalah populasi yang mempunyai tanaman homosigot
· Sehingga
pekerjaan seleksi memilih individu yang homosigot tadi.
· Pemilihan
berdasar Fenotipe tanaman.
Kekurangan dari seleksi lini murni.
1. Seleksi lini
murni dapat untuk mendapatkan varietas baru untuk tanaman SPC dan tidak CPC
sebab :
· Untuk
tanaman CPC perlu banyak tenaga dalam pelaksanaan penyerbukan sendiri.
· Menghasilkan
lini – lini murni bersifat inbred yaitu bersifat lemah antara lain tanaman
albino, kerdil, produksi rendah.
2. Tak ada
kemungkinan memperbaharui sifat karakteristik yang baru secara genetis.
3. Varietas yang
dihasilkan bersifat homosigot, oleh karena itu kurang beradaptasi diberbagai
macam kondisi ( sifat adaptasinya tak begitu luas ).
Populasi campuran sebagai bahan seleksi berupa :
· Varietas
lokal / land race : varietas yang telah beradaptasi baik pada suatu daerah dan
merupakan campuran berbagai galur.
· Populasi
tanaman bersegregasi : keturunan dari persilangan yang melakukan penyerbukan
sendiri beberapa generasi.
Keuntungan / kebaikan campuran berbagai galur :
· >
Adaptasi pada lingkungan beragam / perubahan lingkungan yang cukup besar
sehingga produksi > baik.
· Produksi
> stabil bila lingkungan berubah / beragam.
· Ketahanan
> baik terutama penyakit.
Kekurangan campuran berbagai galur :
· Kurang
menarik, pertumbuhan tanaman tak seragam.
· > sulit
diidentifikasi benih dalam pembuatan sertifikasi benih.
· Produksi
> rendah dibanding produksi galur terbaik dari campuran tersebut.
Populasi homosigot
Varetas yang dihasilkan :
· Tidak
seseragam varietas hasil seleksi galur murni.
· Mempunyai
ketahanan terhadap perubahan lingkungan / lingkungan ekstrimperubahan genotipe.
Seleksi Massa
Tujuan Seleksi Massa :
Memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan
mencampur genotipe – genotipe superior.
Kelemahan :
· Tanaman yang
dipilih mungkin tidak homosigot dan akan segregrasi pada generasi berikutnya.
· Hanya
berguna untuk sifat – sifat dengan hertabilitas tinggi. Umumnya tidak efisien
apabila “ ALELE “ yang akan dihilangkan frekuensinya rendah.
· Lebih
efektif untuk sifat – sifat yang terlihat sebelum pembuangan dari sifat – sifat
yang terlihat setelah pembuangan. Contoh tanaman kedelai, gandum, tembakau
telah berhasil dengan menggunakan seleksi massa.
Kebaikan Seleksi Massa :
a. Sederhana,
mudah pelaksanaannya dan cepat untuk memperbaiki mutu tanaman, oleh karena :
· Tanpa ada
pengujian untuk generasi berikutnya.
· Tanpa ada
pengawasan persilangan untuk produksi keturunan selanjutnya.
· Lebih
bersifat ART dari pada SCIENC
b. Merupakan cara
untuk memperbaiki mutu varietas lokal dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan
petani dan merupakan langkah pertama dalam memperbaiki mutu tanaman.
Seleksi Massa Sering Digunakan Untuk Memurnikan Suatu Varietas Campuran.
Seleksi Massa dapat dibedakan menjadi 2 :
1. Seleksi Massa
Positif
Dilakukan dengan jalan memilih tanaman yang baik fenotipenya
dari suatu populasi tanaman yang ada. Biji tanaman terpilih untuk ditanam pada
generasi / tahun berikutnya. Tanaman yang tidak terpilih biasanya dipanen untuk
konsumsi.
2. Seleksi Massa
Negatif
Dilakukan dengan menghilangkan semua tanaman yang tipenya
menyimpang dari tujuan seleksi.
Misal : -
Tanaman sakit
- Tanaman rebah
Apabila Seleksi Massa digunakan sebagai metode seleksi untuk
tanaman penyerbuk sendiri maka mempunyai kelemahan antara lain :
a. Tidak
meungkin dapat mengetahui apakah tanaman yang dikelompokkan homosigot /
heterosigot untuk suatu karakter dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus
dilanjutkan untuk generasi berikut.
b. Lingkungan
luar mempengaruhi penampilan tanaman sehingga sulit untuk mengetahui apakah
tanaman yang superior menurut fenotipenya disebabkan faktor genetik atau
lingkungan.
Perbedaan Antara Seleksi
Massa Dan Seleksi Lini Murni.
SELEKSI MASSA
SELEKSI GALUR MURNI
· Sudah sangat
tua atau dapat dikatakan setua orang mulai bercocok tanam.
· Selalu
dipraktekan oleh petani walaupun tak disadarinya.
· Biasa
dilakukan pada tanaman C. P. C (allogam).
· Jumlah
tanaman yang terpilih banyak.
· Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi yang luas.
· Seleksi Massa
mudah dilakukan dan amat sederhana.
· Tidak perlu
tenaga, biaya dan waktu yang banyak.
· Hasil yang
diperoleh heterodigot / tidak uniform.
· Tidak
dilakukan pengujian keturunan.
· Tidak perlu
adanya control persilangan.
· Pemilihan
hasil panen tercampur
· Belum begitu
tua.
· Tak pernah
dilakukan oleh petani pada tanaman mereka.
· Dilakukan pada
tanaman S. P. C (autogam )
· Jumlah tanaman
yang terpilih sediki.
· Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi tidak begitu luas dan hanya dapat beradaptasi pada
kondisi / tanaman tertentu saja.
· Sulit dilakukan
karena perlu ketrampilan khusus.
· Butuh tenaga,
biaya dan waktu yang banyak.
· Hasil yang
diperoleh homosigot (uniform)
· Perludilakukan
pengujian keturunan dan masing – masing perbedaan kenampakan secara individu
diuji kemurnian.
· Persarian selalu
diawasi
· Terpisah
Seleksi Bulk (penggabungan)
· Keturunan F2
sampai F5 tidak mengalami seleksi. Baru pada F6 dilakukan seleksi.
· Pemilihan
secara bulk lebih sederhana, mudah, tidak mahal.
· Perlu areal yg
luas
Seleksi SSD
Seleksi Single Seed Descent, yaitu satu keturunan satu biji.
Pada prinsipnya, individu tanaman terpilih dari hasil suatu persilangan pada F2
dan selanjutnya ditanam cukup satu biji satu keturunan. Cara ini dilakukan sampai
generasi yang ke-5 atau ke-6 (F5 atau F6). Bila pada generasi tersebut sudah
diperoleh tingkat keseragaman yang diinginkan maka pada generasi berikutnya
pertanaman tidak dilakukan satu biji satu keturunan tetapi ditingkatkan menjadi
satu baris satu populasi keturunan, kemudian meningkat lagi menjadi satu plot
satu populasi keturunan.
Prosedur Single Seed Descent (SSD) mempunyai tujuan
mempertahankan keturunan dari sejumlah
besar tanaman F2, dengan mengurangi hilangnya genotip selama generasi segregasi.
Hanya satu biji yang dipanen dari masing-masing tanaman, perkembangan tanaman
optimum dari generasi F2 sampai dengan F4.. Metode seleksi Single Seed Descent
(SSD) banyak dilakukan dalam pemuliaan tanaman kedelai di Amerika Serikat
(Fehr, 1978). Metode SSD Descent mempunyai beberapakeuntungan, sebagi berikut :
- karena yang
ditanam setiap generasi satu biji satu keturunan, dengan sendirinya luas lahan
yang diperlukan jauh lebih sempit.
- waktu dan
tenaga yang diperlukan pada saat panen lebih sedikit, karena populasinya lebih
kecil.
- pencatatan dan
pengamatan lebih mudah dan sederhana.
- seleksi untuk
karakter-karakter yang heritabilitasnya tinggi, misalnya tinggi tanaman, umur,
penyakit dan beberapa aspek kualitas dapat dikerjakan dengan efektif
berdasarkan satu tanaman tunggal.
- tiap tahun
dapat ditanam beberapa generasi, bila keadaan lingkungan dapat dikuasai.
- hanya
diperlukan sedikit usaha dalam memperoleh tipe homozigot untuk
karakter-karakter yang pewarisannya sederhana. Keadaan homozigot cepat
tercapai.
- penanganan
persilangan dapat lebih banyak.
Adapun kekurangan dari metode SSD, yaitu pada generasi F2
kemungkinan lebih banyak tanaman yang superior tidak teramati atau hilang,
karena setiap genotip disini hanya mewakili satu tanaman pada F3 sehingga tidak
diketahui identitasnya. Pada metode SSD, setiap tanaman mulai generasi F2
sampai generasi F6. diambil satu biji dari satu tanaman pada setiap generasi
untuk ditanam pada generasi selanjutnya. Jumlah tanaman dalam populasi F2
sampai F6 akan tetap atau bisa berkurang karena adanya daya tumbuh benih yang
kurang baik. Ciri lain dari metode SSD, adalah adanya kemungkinan untuk
menghasilkan sejumlah besar galur murni pada areal yang sempit dan tenaga kerja
yang terbatas (Fehr, 1987, dikutip dari Ai Komariah).Dengan cara ini, ia dapat
mencapai generasi F6 2 tahun, sebagai lawan 5 tahun sebagai dengan metode
silsilah. Setelah tingkat yang diinginkan homozigositas dicapai, garis kemudian
bisa diuji untuk karakteristik yang diinginkan. Benih tunggal Prosedur Ini
adalah prosedur klasik memiliki benih tunggal dari setiap tanaman, bulking
benih individu, dan penanaman keluar generasi berikutnya.
- Musim 1: F 2
tanaman tumbuh. Satu F 3 biji per tanaman dipanen dan semua benih bulked.
Kumpulkan sampel cadangan 1 benih / tanaman. Penuh disarankan panen kedelai pod
2-3 seeded dan menggunakan 1 benih untuk masa tanam dan 1-2 untuk cadangan.
- Musim 2:
Massal dari F 3 biji ditanam. Satu F 4 biji per tanaman dipanen dan semua benih
bulked. Kumpulkan sampel cadangan 1 benih / tanaman.
- Musim 3:
Ulangi.
- Musim 4:
Tumbuh besar dari F 5 benih dan panen tanaman individu secara terpisah.
- Musim 5:
Tumbuh F 5: 6 baris dalam baris, pilih baris antara baris dan panen yang
dipilih secara massal.
- Musim 6:
Mulailah pengujian ekstensif dari F 5 baris berasal.
Seleksi Pedigri/Silsilah
Penggunaan
metode seleksi silsilah
massa (mass pedigree selection)
pada Generasi Seleksi
F3 dan F4 (Dasumiati, 2003)
ternyata belum dapat
mereduksi keragaman genetik non
aditif, khususnya gen overdominansi, dari
dalam keragaman fenotipe. Akibatnya adalah
seleksi yang dilakukan
cenderung mempertahankan
famili-famili dengan keragaan
terbaik yang didominasi oleh
genotipe-genotipe heterozigot
pada lokus-lokus yang
mengendalikan keragaman itu.
Oleh sebab itu,
dikembangkan metode seleksi silsilah berbasis informasi
kekerabatan (information from relatives), yaitu
informasi mengenai gugus
individu yang berasal dari suatu
ansestor tunggal, untuk kegiatan seleksi
pada Generasi Seleksi
F5 (Jambormias et
al., 2004). Harapannya
adalah dapat dihasilkannya
famili-famili dengan keragaan
tinggi dan keragaman
genetik yang rendah untuk
sifat produksi biji
dan ukuran biji pada Generasi Seleksi F6.
Penggunaan
rancangan genetik yang
tepat untuk menguraikan keragaman
fenotipe suatu sifat
tanaman atas komponen keragaman
genotipe dan keragaman lingkungan dalam
suatu struktur hierarkis
kekerabatan famili-famili, diharapkan dapat
memaksimumkan pemanfaatan
informasi kekerabatan dalam
seleksi. Analisis berbasis informasi
kekerabatan ini dapat menguraikan keragaman
fenotipe atas komponen keragaman antarfamili
dan intrafamili, dan
dengan menggunakan korelasi nilai pemuliaan sebesar 1 untuk hasil kawin sendiri
(selfing), dapat diduga ragam aditif antarfamili dan
intrafamili (Jain, 1982;
Falconer dan Mackay, 1996).
Berpadanan dengan metode pendugaan ragam
antarfamili dan ragam
intrafamili, analisis
berbasis informasi kekerabatan juga dapat memberikan informasi nilai
heritabilitas antarfamili dan
intrafamili (Falconer dan
Mackay, 1996). Kontribusi
heritabilitas antarfamili
yang tinggi dapat
meningkatkan keragaan sifat
kuantitatif yang diatur oleh gen aditif.
2. Seleksi Untuk
Pemuliaan Tanaman Menyerbuk Silang
Seleksi dengan intensitas tertentu akan lebih efektif bila
sifat yang diseleksi banyak terdapat dalam populasi dan tidak efektif bila
sifat tersebut jarang. Sering dikatakan bahwa kemajuan seleksi mula – mula
tepat tetapi kemudian menurun pada generasi yang lebih lanjut. Ternyata hal ini
tidak demikian. Apabila suatu sikap yang disukai jarang terdapat dalam populasi
(frekuensi rendah), kemudian diseleksi dengan intensitas yang tetap dari
generasi ke generasi maka generasi permulaan kemajuan seleksi amat lambat.
Tetapi pada generasi yang lebih lanjut frekuensi gen yang diseleksi dalam
populasi bertambah sehingga kemajuan seleksi dalam populasi bertambah sehingga
kemajuan seleksi makin cepat sampai mencapai maksimum kemudian menurun lagi.
Metode Seleksi Tanaman Menyerbuk Silang
Dasar–dasar yang dapat membedakan diantara metode :
a. Cara
pemotongan populasi dasar
b. Ada tidaknya
kontrol terhadap persilangan
c. Model
perangen pada populasi bersangkutan
d. Tipe uji
keturunan
e. Macam dari
varietas komersiil yang akan dibentuk.
Seleksi tanaman menyerbuk silang, antara lain:
1. Seleksi Massa
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Tanpa kontrol
persilangan atau sebagian
c. Peran gen
aditif
d. Tanpa uji
keturunan
e. Varietas
berserbuk bebas
2. Seleksi
Berulang Fenotopik
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Kontrol penuh
atas persilangannya
c. Peran gen
aditif
d. Tanpa uji
keturunan
e. Varietas
berserbuk terbuka
3. Seleksi
Tongkol ke Baris
a. Berdasarkan
fenotipe individu tanaman
b. Tanpa atau
sebagian control
c. Peran gen
aditif
d. Uji keturunan
berserbuk terbuka
e. Varietas
berserbuk terbuka
4. Seleksi
Berulang untuk Daya Gabung Umum
a. Berdasarkan
keturunan dari tanaman
b. Kontrol penuh
terhadap persilangan
c. Terutama
aditif
d. Uji daya
gabung umum
e. Varietas
sintetik, dsb
5. Seleksi
Berulang untuk Daya Gabung Khusus
a. Berdasarkan
keturunan dari tanaman
b. Kontrol penuh
terhadap persilangannya
c. Dominan dan
aditif
d. Uji daya
gabung khusus
e. Hibrida
tunggal/ganda
6. Seleksi
Berulang Timbal Balik
a. Keturunan
dari tanaman
b. Kontrol penuh
atas persilangan
c. Lewat
dominan, dominan, aditif
d. Uji daya gabung
umum, daya gabung khusus
e. Perbaikan
hibrida (populasi hasil persilangan)
Pemuliaan tanaman adalah usaha manusia untuk mengubah susunan genetik tanaman. Pemuliaan
tanaman mengubah susunan genetik tanaman secara tetap sehingga sifat ataupun morfologinya
sesuai dengan keinginan manusia. Orang yang melakukan pemuliaan tanaman disebut pemulia tanaman. Ilmu
Pemuliaan Tanaman disebut Ilmu Penjenisan/Ilmu Seleksi.
Ilmu terpakai yang bertujuan untuk mendapatkan jenis–jenis
baru yang bersifat unggul yang mempunyai sifat ekonomis yang lebih berharga.
Bertugas memelihara jenis–jenis unggul yang telah ada serta
mempertahankan sifat–sifat keunggulan yang dimiliki
Tujuan akhir setiap program pemuliaan tanaman adalah untuk
mendapatkan tanaman dengan sifat yang lebih baik (lebih unggul) dalam hal ini
adalah sifat – sifat tertentu yang diinginkan.
Sasaran yang hendak dicapai pada Pemuliaan Tanaman Menyerbuk
Sendiri yaitu sifat unggul pada homosigot.
PEMULIAAN TANAMAN MENYERBUK SENDIRI
A. Pemuliaan Tanaman
Menyerbuk Sendiri
Sasaran yang hendak dicapai : sifat unggul pada homosigot.
Ciri khusus varietas tanaman menyerbuk sendiri yang
dikembangkan melalui biji adalah susunan genetiknya homosigot, kecuali varietas
hibrida. Untuk memperoleh tanaman homosigot dari hasil hibridisasi atau dari
populasi heterogen, peranan seleksi amat penting artinya.
Hibridisasi :
Penyerbukan antara tanaman homosigot
Crossing :
Penyerbukan antara tanaman homosigot dengan heterosigot atau
heterosigot dengan heterosigot
Selfing :
penyerbukan pada tanaman berumah satu.
Autogami
· Butuh pengujian
dibanyak lingkungan
· Pada tranaman
homosigot (peka terhadap kondisi lingkungan dibanding heterosigot). Makin
heterosigot makin bagus, selfing seringkali menyebabkan degenerasi.
Dasar Genetik
Tanaman menyerbuk sendiri yang disilangkan heterosigot makin
kurang keragaman genetiknya terjadi penyerbukan sendiri terus menerus,
perubahan susunan genetika pada masing–masing pasangan. Alel mengarah ke
homosigositas, sehingga susunan genetik dalam tanaman semua / sebagian besar
homosigot.
B. Metode Pemuliaan
Tanaman Menyerbuk Sendiri
· Pasangan gen
homosigot akan tetap homosigot dengan adanya penyerbukan sendiri.
· Pasangan gen –
gen heterosigot akan terjadi segresi apabila diserbuki sendiri dan menghasilkan
genotipe homosigot dan heterosigot dengan perbandingan yang sama.
Apabila terjadi penyerbukan sendiri secara terus menerus
maka genotipe yang terbentuk adalah cenderung homosigot atau genotip homosigot
makin lama makin besar proporsinya.
Macam Varietas Menyerbuk Sendiri :
1. Bersari bebas
Hasil seleksi massa, cirinya :
Tidak selalu diketahui induk jantan dan betinanya. Jika
ingin meningkatkan hasil harus tahu peranan gen aditif sehingga perlu tahu
salah satu tetuanya.
2. Komposit
Populasi dasar merupakan
: campuran varietas unggul, hibrida dan galur (untuk galur boleh ada
boleh tidak) Setiap dicampur terjadi persilangan terbuka kemudian diseleksi
melalui seleksi massa.
3. Hibrida
Masalah : persilangan dan saat mencari galur penghasil
benihnya.
Benih yang dihasilkan sedikit, usaha – usaha persilangan
galur dengan varietas.
4. Sintetis (Ideal
Type)
Sama dengan campuran galur merupakan peluang dengan
melakukan penyerbukan silang galur dicampur terjadi persilangan biji berubah seleksi
massa varietas sintetis.
C. Prosedur Pemuliaan
Tanaman Menyerbuk Sendiri
1. Introduksi
Masalah yang dihadapi pada tanaman introduksi baik sebagai
sumber keragaman maupun sebagai calon varietas baru adalah penanganan dalam
mempertahankan sebagai koleksi dan evaluasinya.
Koleksi tanaman introduksi dibagi 3 kelompok :
a. tanaman yang
telah dimuliakan.
b. Tanaman asli.
c. Tanaman liar.
Masing – masing kelompok mempunyai manfaat khusus pada
program pemuliaan.
Tanaman introduksi dibutuhkan untuk memperbaiki sifat
varietas unggul yang ada dengan melengkapi sifat yang dianggap kurang melalui
hibridisasi / silang baik.
2. Seleksi
f. Seleksi galur
murni
g. Seleksi massa
Seleksi Galur Murni
· Untuk
memperoleh individu homosigot.
· Bahan seleksi
adalah populasi yang mempunyai tanaman homosigot
· Sehingga
pekerjaan seleksi memilih individu yang homosigot tadi.
· Pemilihan
berdasar Fenotipe tanaman.
Kekurangan dari seleksi lini murni:
4. Seleksi lini
murni dapat untuk mendapatkan varietas baru untuk tanaman SPC dan tidak CPC
sebab :
· Untuk tanaman
CPC perlu banyak tenaga dalam pelaksanaan penyerbukan sendiri.
· Menghasilkan
lini – lini murni bersifat inbred yaitu bersifat lemah antara lain tanaman
albino, kerdil, produksi rendah.
5. Tak ada
kemungkinan memperbaharui sifat karakteristik yang baru secara genetis.
6. Varietas yang
dihasilkan bersifat homosigot, oleh karena itu kurang beradaptasi diberbagai
macam kondisi (sifat adaptasinya tak begitu luas ).
Galur Murni
Populasi campuran sebagai bahan seleksi berupa :
· Varietas lokal
/ land race : varietas yang telah beradaptasi baik pada suatu daerah dan
merupakan campuran berbagai galur.
· Populasi
tanaman bersegregasi : keturunan dari persilangan yang melakukan penyerbukan
sendiri beberapa generasi.
Keuntungan / kebaikan campuran berbagai galur :
· > Adaptasi
pada lingkungan beragam / perubahan lingkungan yang cukup besar sehingga
produksi > baik.
· Produksi >
stabil bila lingkungan berubah / beragam.
· Ketahanan >
baik terutama penyakit.
Kekurangan campuran berbagai galur :
· Kurang menarik,
pertumbuhan tanaman tak seragam.
· > sulit
diidentifikasi benih dalam pembuatan sertifikasi benih.
· Produksi >
rendah dibanding produksi galur terbaik dari campuran tersebut.
Populasi homosigot
Varetas yang dihasilkan :
· Tidak seseragam
varietas hasil seleksi galur murni.
· Mempunyai
ketahanan terhadap perubahan lingkungan / lingkungan ekstrim terjadi perubahan
genotipe.
Seleksi Massa
Tujuan Seleksi Massa :
Memperbaiki populasi secara umum dengan memilih dan
mencampur genotipe – genotipe superior.
Kelemahan :
· Tanaman yang dipilih mungkin tidak homosigot
dan akan segregrasi pada generasi berikutnya.
· Hanya berguna
untuk sifat – sifat dengan hertabilitas tinggi. Umumnya tidak efisien apabila “
ALELE “ yang akan dihilangkan frekuensinya rendah.
· Lebih efektif
untuk sifat – sifat yang terlihat sebelum pembuangan dari sifat – sifat yang
terlihat setelah pembuangan. Contoh tanaman kedelai, gandum, tembakau telah
berhasil dengan menggunakan seleksi massa.
Kebaikan Seleksi Massa :
c. Sederhana, mudah
pelaksanaannya dan cepat untuk memperbaiki mutu tanaman, oleh karena :
· Tanpa ada
pengujian untuk generasi berikutnya.
· Tanpa ada
pengawasan persilangan untuk produksi keturunan selanjutnya.
· Lebih bersifat
ART dari pada SCIENC.
d. Merupakan cara
untuk memperbaiki mutu varietas lokal dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan
petani dan merupakan langkah pertama dalam memperbaiki mutu tanaman.
Seleksi Massa Sering Digunakan Untuk Memurnikan Suatu Varietas Campuran.
SELEKSI MASSA dapat dibedakan menjadi 2 :
3. Seleksi Massa
Positif
Dilakukan dengan jalan memilih tanaman yang baik fenotipenya
dari suatu populasi tanaman yang ada. Biji tanaman terpilih untuk ditanam pada
generasi / tahun berikutnya. Tanaman yang tidak terpilih biasanya dipanen untuk
konsumsi.
4. Seleksi Massa
Negatip
Dilakukan dengan menghilangkan semua tanaman yang tipenya
menyimpang dari tujuan seleksi.
Misal : - Tanaman sakit
-
Tanaman rebah
Apabila Seleksi Massa digunakan sebagai metode seleksi untuk
tanaman penyerbuk sendiri maka mempunyai kelemahan antara lain :
1. Tidak meungkin
dapat mengetahui apakah tanaman yang dikelompokkan homosigot / heterosigot
untuk suatu karakter dominan tertentu, jadi seleksi fenotipe harus dilanjutkan
untuk generasi berikut.
2. Lingkungan luar
mempengaruhi penampilan tanaman sehingga sulit untuk mengetahui apakah tanaman
yang superior menurut fenotipenya disebabkan faktor genetik atau lingkungan.
Perbedaan Antara Seleksi
Massa Dan Seleksi Lini Murni.
SELEKSI MASSA
SELEKSI LINI MURNI
1. Sudah
sangat tua atau dapat dikatakan setua orang mulai bercocok tanam.
2. Selalu
dipraktekan oleh petani walaupun tak disadarinya.
3. Biasa
dilakukan pada tanaman C. P. C (allogam).
4. Jumlah tanaman yang terpilih banyak.
5. Tanaman
yang terpilih mempunyai adaptasi yang luas.
6. Seleksi
Massa mudah dilakukan dan amat sederhana.
7. Tidak
perlu tenaga, biaya dan waktu yang
banyak.
8. Hasil yang diperoleh heterodigot / tidak
uniform.
9. Tidak
dilakukan pengujian keturunan .
10. Tidak
perlu adanya control persilangan.
11. Pemilihan
hasil panen tercampur
1. Belum begitu
tua.
2. Tak pernah
dilakukan oleh petani pada tanaman mereka.
3. Dilakukan
pada tanaman S. P. C (autogam )
4. Jumlah
tanaman yang terpilih sediki.
5. Tanaman yang
terpilih mempunyai adaptasi tidak begitu luas dan hanya dapat beradaptasi pada
kondisi / tanaman tertentu saja.
6. Sulit
dilakukan karena perlu ketrampilan khusus.
7. Butuh
tenaga, biaya dan waktu yang banyak.
8. Hasil yang
diperoleh homosigot (uniform)
9.
Perludilakukan pengujian keturunan dan masing – masing perbedaan
kenampakan secara individu diuji
kemurnian.
10. Persarian
selalu diawasi
11. Terpisah
D. Hibridisasi Dan
Seleksi Setelah Hibridisasi
Setelah dilakukan persilangan (hibridisasi) maka hibrid yang
diperoleh yang diperkirakan memiliki sifat–sifat superior (unggul) dari tetua
yang dipersilangkan diuji keturunannya sehingga diperoleh keturunan yang
mantap.
Pengujian dapat dilakukan dengan cara PEDIGREE atau BULK.
1. Seleksi PEDIGREE
2. Seleksi BULK
3. Seleksi BACK
CROSS
PERBANYAKAN DAN PENYEBARAN VARIETAS BARU
A. Perbanyakan
Varietas Baru
Jenis unggul yang baik harus memiliki keunggulan sesara
genetis maupun physik.Keunggulan genetis meliputi antara lain :
1. Produksi
tinggi
2. Daya adaptasi
luas
3. Masak secara
normal pada waktu yang tepat
4. Resisten
terhadap hama dan penyakit
5. Respon tinggi
pada pemupukan
6. Nilai nutrisi
tinggi dengan rasa enak
Keunggulan phisik antara lain :
1. Jenisnya murni
2. Daya kecambah
tinggi
3. Kadar air
optimum
4. Bentuknya
uniform
5. Bebas hama dan
penyakit
Jenis baru yang bersifat unggul yang ditemukan seleksionis
sebelum disebarluaskan kepada para petani masih perlu diperbanyak sambil diuji
kemantapannya secara ber-Tingkat.Biji yang masih sedikit yang dihasilkan
breeder/Seleksionis ini disebut NUCLEUS SEED.
Biji-biji nucleus seed masih murni baik secara genetis
maupun physic,jumlahnya sangat terbatas dihasilkan di stasiun percobaan dimana
seleksionis berada. Bila nucleus seed ditanam menghasilkan benih yang disebut
BREEDER’S STOCK SEED
BREEDER’S STOCK SEED di produksi dibawah pengamatan dan
pengawasan seleksionis di stasiun percobaan dimana dihasilkan, mempunyai
kemurnian yang tinggi dan bersifat unggul baik secara genetic maupun
physic.BREEDER’S STOCK SEED biasanya disebarkan kedinas-dinas pertanian untuk
diperbanyak. Biji yang dihasilkan dari tanaman Breeder Stock Seed disebut :
FOUNDATION SEED atau
BENIH DASAR.
Benih dasar selain yang dihasilkan dinas-dinas pertanian
juga balai penelitian yang menanam BREEDER’S STOCK SEED dan NUCLEUS
SEED.Kemurnian benih dasar bermutu tinggi. Hasilnya disebut REGISTERED SEED.
Registeret Seed biji
dihasilkan dari tiga biji terdahulu ditangkarkan oleh para petani penagkar
benih,petani maju yang dipercaya untuk
memperbanyak.Mereka menanam dan memperbanyak dibawah
petunjuk dan supervisi dari staf ahli perbenihan yang telah ditunjuk oleh
pemerintah/dinas tertentu yang bergerak dibidang perbenihan.Jika peraturan
pertanaman memenuhi syarat, biji-biji dibeli pemerintah di registrasi/dicatat
sebagai benih yang memenuhi persyaratan Sebagai benih bermutu untuk dijual
kepada petani umum.
CERTIFIED SEED yaitu benih yang dihasilkan oleh badan-badan
tertentu untuk diperdagangkan dan tidak perlu berasal dari Nucleus seed maupun
Breeder’s Seed,tetapi cukup memnuhi syarat genetis maupun pyisik. Certified
seed dapat diproduksi oleh petani sendiri tetapi harus dengan rekomendasi dari
dinas tertentu untuk disebut certified seed yang diperdagangkan.
Dibeberapa negara dan negara maju benih yang dijual adalah
benih-benih yang telah mengalami “penangkaran” seperti diatas,dan diberi label
yang memberi keterangan singkat tentang benih tersebut.Dalam label disebtkan
tentang: jenis, varietas, klas (misal Foundation seed atau yang lain),sumber
(pemerintah/ badan tertentu), alamat, % perkecambahan, kemurnian,kadar air dan
berat 1000 biji.
Di Indonesia penanganan sertifikasi benih dilakukan oleh
Balai Pengawasan dan Serifikasi Benih yang mempunyai tugas dibidang penilaian
kultivar,pengujian benih laboratories dan pengawasan pemasaran benih untuk
menunjang Dinas Pertanian Tanaman Pangan dalam pembinaan produksi dan pemasaran
benih guna memenuhi kebutuhan intensifikasi.
Sertifikasi benih yang dilakukan BPSB bertujuan untuk
menjamin kemurnian genetik dengan cara menilai kemurnian pertanaman di lapangan
maupun kemurnian benih hasil pengujian benih labortories.
Sertifikasi benih dilaksanakan dengan urutan prioritas
sebagai berikut:
a. Serifikasi
Benih Dasar (F.S.) biasa dilakukan di LPP Sukamandi.
b. Sertifikasi
Benih Pokok (S.S.) dilakukan oleh Balai Benih Induk.
c. Sertifikasi
Benih Sebar (E.S.) dengan label biru (produsen) oleh BAP.
Bila benih yang diuji tidak memenuhi standar untuk kelas
benih yang ditentukan tetapi masih memenuhi standar untuk kelas benih yang
lebih rendah,maka kelas benihnya dapat disesuaikan dengan standar yang tercapai
dengan syarat:
a. Benih
tersebut benar-benar dibutuhkan
b. Produsen benih
mengajukan permohonan penyesuaian kelas benih
c. Disetujui
oleh bagian sertifikasi
Biasanya permohonan sertifikasi pemeriksaan lapangan,
pengambilan contoh benih dan permintaan label disampaikan kepada BPSB .
Dalam pelaksanaan sertifikasi benih jagung dan palawija
umumnya ada suatu pedoman khusus yang harus diikuti.
B. Penyebaran
Varietas Baru
Konsumsi bahan pangan setiap tahun cenderung meningkat.
Keadaan ini disebabkan antara lain karena bertambahnya jumlah penduduk dan
makin meningkatnya pendapatan masyarakat. Untuk mengantisipasi kebutuhan
tersebut salah satu usaha di bidang tanaman adalah mengoptimalkan teknologi
budidaya tanaman pertanian, khususnya dengan pemakaian varietas unggul.
Penggunaan varietas merupakan teknologi yang dapat diandalkan, tidak hanya
dalam hal meningkatkan produksi pertanian, tetapi dampaknya juga meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan petani. Oleh karena itu varietas unggul yang
memiliki berbagai sifat yang diinginkan memegang peranan penting untuk tujuan
dimaksud. Varietas unggul pada umumnya memiliki sifat-sifat yang menonjol dalam
hal potensi hasil tinggi. Tahan terhadap organisme pengganggu tertentu dan
memiliki keunggulan pada ekolokasi tertentu serta mempunyai sifat-sifat
agronomis penting lainnya. Dengan menggunakan varietas unggul tahan hama dan
penyakit adalah merupakan cara paling murah untuk menekan pengganggu tanaman
tanpa adanya kekhawatiran akan dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam upaya
untuk terus meningkatkan produksi pertanian, para pemulia tanaman senantiasa
berusaha menciptakan varietas unggul modern yang memiliki sifat-sifat yang
dinginkan dan cocok untuk kondisi lingkungan tertentu. Penelitian di bidang
pemuliaan tanaman dikatakan berhasil, apabila diperoleh produk akhir, yaitu
adanya pelepasan varietas unggul baru. Sejak tahun 1971 Pemerintah telah
mengambil kebijaksanaan mengenai kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
masalah perbenihan yakni dengan dibentuknya Badan Benih Nasional atau BBN yang
berada dalam lingkup Departemen Pertanian dan bertanggung jawab kepada Menteri
Pertanian. Dalam susunan organisasi BBN ini antara lain dibentuk Tim Penilai
dan Pelepas Varietas. Dalam kaitan ini pada tahun 1992 diberlakukan Undang
Undang Nomor 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman di mana pengaturan
pelaksanaannya tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1995. Di sini
antara lain ditegaskan bahwa dalam pelepasan varietas diperlukan berbagai
kebutuhan kelembagaan, syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam
tulisan ini akan disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur
dan syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas. Dalam tulisan ini akan
disampaikan kepada para pemulia suatu kajian tentang prosedur dan syarat-syarat
pelepasan varietas untuk dapat dipenuhi pada waktu pengajuan usulan dan
pembahasan oleh Tim Penilai dan Pelepas Varietas, sehingga apa yang menjadi
tujuan dapat berjalan lancar.
Syarat-Syarat Pelepasan Varietas
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 476/Kpts/Um 8/1977
menetapkan syarat-syarat dan prosedur pelepasan varietas:
1. Untuk
Varietas yang akan dilepas harus diberikan silsilah bahan asal dan cara
mendapatkannnya.
2. Metode
seleksi yang digunakan harus disebutkan
3. Untuk
varietas yang akan dilepas harus diadakan percobaan adaptasi, dibandingkan
dengan varietas baku, di beberapa tempat yang mewakili daerah, di mana varietas
tersebut akan dianjurkan.
4. Percobaan
adaptasi dilaksanakan sedemikian rupa sehingga data yang diperoleh dapat
dipercaya.
5. Rancangan
percobaan dan cara analisa data percobaan harus memenuhi kaidah statistik.
6. Untuk
varietas yang akan dilepas harus tersedia cukup benih.
Prosedur Pelepasan Varietas
1. Permohonan
pelepasan varietas diajukan secara tertulis kepada Menteri Pertanian melalui
Ketua Badan Benih Nasional.
2. Permohonan
pelepasan varietas tersebut harus dilampiri keterangan-keterangan mengenai
hal-hal yang disebutkan dalam syarat-syarat pelepasan varietas, hasil percobaan
dan deskripsi varietas.
3. Deskripsi
varietas meliputi sifat-sifat morfologi, fisiologi, agronomi daya adaptasi,
ketahanan terhadap hama/penyakit dan sifat-sifat yang dianggap perlu.
4. Setelah
mendengarkan pendapat Ketua BBN, Menteri Pertanian dapat menyetujui atau
menolak permohonan pelepasan varietas tersebut.
5. Keputusan
tentang pelepasan varietas ditetapkan oleh Menteri Pertanian dengan Surat
Keputusan.
6. Penyimpangan
dari ketentuan-ketentuan dimaksud dalam Surat Keputusan ini dapat
dipertimbangkan oleh Menteri Pertanian atas saran Ketua Badan Benih Nasional.
Pengaturan pelaksanaan pengujian didasarkan dan dikembangkan
berdasarkankebijaksanaan yang ditentukan oleh Badan Litbang Pertanian dan
Ditjentan yang kemudian diperkuat oleh Surat Sekjen Deptan No. LB
110/1279/B/VII/1987 tentang Tata Laksana dan Pengujian Adaptasi.
Dalam rangka mempercepat proses komunikasi hasil penelitian dan
alih teknologi varietas unggul baru, hendaknya evaluasi daya hasil dan
pengujian adaptasi pada berbagai agroekosistem dilaksanakan berjalan paralel
yang saling mendukung dan terkait satu sama lain.
Evaluasi/Pengujian : Informasi Tentang Varietas
Pemerintah, penangkar benih dan petani perlu mengetahui
penampilan potensi varietas, baik yang dihasilkan di dalam negeri, maupun
introduksi dari luar.
Langkah pertama dalam evaluasi dimulai oleh para ahli
pemulia tanaman atau peneliti. Selain dari percobaan/evaluasi yang dilakukan
oleh peneliti untuk mengidentifikasikasi calon varietas unggul, pengujian
dilakukan juga oleh unit kerja Direktorat Jenderal untuk mengethui calon
varietas yang cocok untuk dilepas. Prosedur dan mekanisme kerja evaluasi dan
pengujian varietas perlu disusun untuk menghindari konflik kepentingan
disamping untuk mempercepat prose alih teknologi.
Assessemen yang paling umum dilakukan dalam evaluasi dan
pengujian varietas mencakup daya hasil, ketahanan terhadap serangan hama dan
penyakit, umur, sifat yang diinginkan dan ketahanan terhadap cekaman
lingkungan.
Evaluasi terhadap penampilan dapat dilakukan berbagai cara
namun tiga prinsip dasar perlu diperhatikan ,yaitu:
1. Agroekosistem
di mana evaluasi/pengujian dilakukan perlu dikarakterisasi secara tepat.
2. Calon varietas
tanaman yang paling sesuai dialokasikan pada setiap agroekosistem dan
3. Pengelompokan
varietas mempunyai umur dan sifat tumbuh hampir sama.
Tata Cara Memberikan Nama Varietas
1. Usulan nama
diajukan oleh peneliti/pemulia tanaman bersamaan dengan usulan pelepasan
varietas.
2. Penetapan
pemberian nama suatu varietas adalah wewenang Menteri Pertanian atas dasar
usulan dari Badan Benih Nasional cq Tim Penilai dan Pelepas Varietas.
3. Nomenklatur
nama-nama varietas unggul ditetapkan atas dasar sebagai berikut:
Padi:
· Padi sawah:
nama sungai di Indonesia
· Padi gogo:
nama danau di Indonesia
· Padi sawah
pasang surut; nama sungai di daerah pasang surut.
· Padi gogo
rancah: nama sungai di daerah potensi gogo rancah.
Palawija:
· Jagung :
nama wayang
· Kedelai :
nama gunung di Indonesia.
· Kacang hijau
: nama burung di Indonesia.
· Kacang tanah
: nama binatang di Indosia.
· Sorgum :
nama senjata tradisional daerah di Indonesia.
· Ubi jalar,
nama candi di Indonesia.
· Ubi kayu :
Adira:-rasa pahit untuk pabrik dengan nomor ganjil.
· Rasa manis
untuk dikonsumsi dengan nomor genap.
Hortikultura :
Khusus untuk varietas/klon hortikultura yang dilepas, baik
melalui cara pemuliaan maupun pemutihan. Sampai saat ini pada umumnya
menggunakan nama asli dari asal varietas lokal tersebut (untuk
pemutihan).Sedangkan varietas klon dari hasil pemuliaan, pemberian nama
berdasarkan kode-kode penelitian atau nama daerah asal penelitian tersebut.
Prosedur Pemurnian Dalam Rangka Pemutihan Varietas
1. Determinasi
Determinasi berarti penentuan, dalam hal ini kita menentukan
terhadap suatu varietas. Nama suatu varietas diusahakn tetap dan dipakai
walaupun nantinya akan dikembangan di daerah lain. Di samping itu apabila
varietas tersebut sama dengan lokal lain harap diteliti sejauh mungkin apakah
betul-betul sama, dan jika sama maka pemberian nama harus dipilih dari yang
terluas penyebarannya. Pemberian nama lain harus dihindarkan, dengan
konsekuensi perkembangan penyebaran varietas harus diikuti distribusi benihnya.
2. Deskripsi
Untuk melaksanakan determinasi diperlukan deskripsi varietas
yang bersangkutan. Deskripsi tersebut berguna untuk pengenalan/ identifikasi
varietas. Oleh karena itu deskripsi suatu varietas dari jenis tanaman apapun
harus meliputi pencatatan ciri-ciri atau sifat-sifat agronomi yang bersifat
kulitatif. Ciri/sifat tersebut dapat juga mengandung pengertian ekonomis
seperti halnya sifat ketahanan terhadap hama penyakit tertentu. Karena
pemurnian suatu varietas adalah suatu usaha pengembalian mutu sesuai dengan
varietas yang baku/asal, demikian juga dalam usaha pemutihan varietas, maka
uraian dalam deskripsi harus mencakup :
· Asal
varietas
· Penyebaran
varietas dimaksud
· Kapasitas
atau potensi hasil
· Golongan
varietas
· Ketahanan
terhadap hama penyakit
· Umur tanaman
Rincian tersebut di atas ditambahkan deskripsi ciri-ciri
yang biasa diperhatikan (sifat spesifik) dalam pengawasan mutu dan sertifikasi
benih atau dalam pemuliaan. Uraian ciri-ciri tersebut dilakukan untuk dapat
menuju deskripsi baku.
3. Seleksi/Rouging
Seleksi sangat penting artinya dalam pemuliaan, baik untuk
membuat/membentuk galur-galur yang akan menjadi varietas atau calon varietas
atau untuk mempertahankan suatu varietas.
Dalam perbenihan dikenal istilah roguing, yang tidak lain
adalah seleksi negatif, yaitu membuang tanaman-tanaman yang menyimpang.
Tanaman-tanaman yang menyimpang (off type) menunjukkan ciri-ciri dari apa yang
seharusnya dipunyai oleh suatu varietas yang kuta maksudkan. Hal ini dilakukan
untuk menjga kemurnian dari varietas tersebut dapat dipertahankan.
Varietas-varietas lokal pada umumnya merupakan populasi
campuran yang memerlukan pemurnian yang hanya dapat dilaksanakan dengan
seleksi, minimal seleksi negatif, tergantung dari besarnya populasi campuran.
Oleh karena itu cara pemurnian untuk memantapkan dapat juga dengan seleksi
positif, dalam hal ini diambil/dipungut tanaman-tanaman yang ciri-cirinya
sesuai dengan yang dicantumkan dalan deskripsi disamping memperhatikan pula
potensi hasilnya. Tanaman tersebut kemudian dibulk(disatukan) untuk benih
sumber pertanaman selanjutnya.
4. Pelaksanaan
Dengan pengertian yang telah ditengahkan dimuka, kita dapat
mulai dengan usaha pemurnian varietas.,baik dalam rangka persiapan benih maupun
dalam rangka pemutihan suatu varietas. Dalam rangka pemutihan varietas lokal,
perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Varietas yang
akan diputihkan adalah varietas yang dominan di suatu propinsi (varietas unggul
dan mempunyai penyebaran yang luas dari tahun ke tahun/musim ke musim).
b. Dalam
pelaksanaan pertanaman direncanakan untuk keperluan benih sumber atau keperluan
pemurnian varietas.
c. Amati
ciri-ciri tanam tersebut mulai tumbuh sampai menjadi benih. Karena varietas
tersebut belum murni, dalam penentuan kita harus mendasarkan pada ciri-ciri
dari komponen yang prosentasenya paling tinggi, seperti type pertumbuhan, warna
hypocotyl/bunga, warna bulu (untuk kacang-kacangan), warna daun, warna batang,
warna biji(padi-padian), umur panen, dan sifat-sifat agronomis penting lainnya.
d. Pertanaman
untuk benih dapat dilakukan seleksi negatif atau roguing kalau campuran hanya
sedikit, sehingga tidak menyulitkan akan keperluan untuk benih. Hal ini
terutama bila pertanaman adalah kepunyaan petani atau kelompok tani. Lebih-lebih
terhadap prosentase campuran yang banyak dilakukan /ditanam satu persatu
seleksi negatif pada waktu panen untuk pembelian/calon benih, hal ini untuk
menghindari adanya kerugian hasil persatuan luas.
e. Pertanaman
untuk seleksi/pemurnian lebih baik langsung seleksi positif, kalau memungkinkan
cara yang terbaik adalah dipilih tanaman yang baik dan mempunyai ciri-ciri yang
sesuai dan terus digalurkan/ditanam satu per satu setiap lubang
tanam.Galur-galur yang menunjukkan ciri-ciri yang mantap, disatukan kembali
sebagai “bulk” untuk benih selanjutnya. Cara ini adalah yang paling cepat untuk
mencapai kemurnian.
f. Setelah
mendapatkan yang murni, maka pekerjaan selanjutnya mempertahankan kemurnian
dengan cara seleksi negatif.
g. Dalam
pelaksanaan harus diperhatikan bahwa tidak boleh ada hambatan tanam supply
benih kepada pengembangan produksi, dengan kemurnian yang makin meningkat.
Karena itu untuk benih sendiri, yang nantinya akan menjadi cikal bakalnya nama
selalu diambil secara positif.
Pelaksanaan tersebut merupakan petunjuk untuk mendukung
terwujudnya penyaluran benih murni / bermutu secara berkesinambungan.
Sasaran Pelepasan Varietas
Sebagaimana telah diketahui bahwa potensi varietas merupakan
modal dasar pembangunan pertanian. Sesuai dengan keberadaan serta potensi
varietas tersebut, maka sasaran pelepasan varietas harus sejalan dengan program
nasional dalam upaya pelestarian swasembada beras serta peningkatan produksi
tanaman pangan lainnya. Setiap peningkatan produktivitas dari varietas yang
dilepas mempunyai dimensi pembaharuan yang sangat besar dalam peningkatan
produksi serta pendapatan petani.
Sehubungan dengan hal tersebut, penilaian varietas dalam
rangka pelepasan akan lebih kritis dan mengarah kepada kemajuan produktivitas
yang berdampak peningkatan kesejahteraan petani. Di samping itu kemantapan
kestabilan serta keragaman baik kualitas maupun sifat-sifat agronomis lainnya
sudah saatnya diperhitungkan. Demikian pula kepada instansi yang melakukan
pengujian adaptasi atau multilokasi akan dimintakan pertimbnagn khusus.
Berdasarkan hal tersebut di atas Dirjen Pertanian Tanaman Pangan mengajukan
beberapa sasaran sebagai bahan acuan dalam penilaian dan pelepasan suatu
varietas. Khusus untuk varietas lokal yang mempunyai nilai ekonomis tinggi
perlu pemutihan dengan sistem pemurnian varietas, dengan syarat yang ditetapkan
tersendiri sesuai dengan situasi dan kondisi setempat.
Hasil-Hasil Varietas Unggul
Sejak tahun 1974 pemulia tanaman padi, palawija dan
Hortikultura di Indonesia telah melepas lebih dari 210 varietas unggul,
meliputi padi sebanyak +_83 varietas, palawija sebanyak +_ 69 varietas dan
Hortikultura lebih dari 58 varietas. Dari 210 varietas yang sudah dilepas
tersebut, 146 varietas merupakan hasil rekayasa genetika para pemulia di Indonesia,
21 varietas merupakan hasil introduksi dari IRRI dan sisanya merupakan hasil
pemutihan varietas lokal yang sudah dominan di beberapa daerah tertentu. Sedang
di sektor perkebunan khususnya komoditi tebu, sejak tahun 1978 hingga tahun
1992 telah dilepas oleh Mentan sebanyak 57 varietas unggul. Dua varietas
diantaranya adalah hasil introduksi dari Taiwan dan Mauritius sedang lainnya
merupakan hasil perakitan pemulia tanaman tebu dari Pasuruan.
SEJARAH PEMULIAAN
Kegiatan pemuliaan tanaman dapat dikatakan sebagai tekanan
evolusi yang sengaja dilakukan oleh manusia. Pada masa prasejarah, pemuliaan
tanaman telah dilakukan orang sejak dimulainya domestikasi tanaman, namun
dilakukan tanpa dasar ilmu yang jelas. Sisa-sisa biji-bijian dari situs-situs
peninggalan arkeologi membantu menyingkap masa prasejarah pemuliaan tanaman.
Catatan-catatan pertama dalam jumlah besar mengenai berbagai jenis tanaman
diperoleh dari karya penulis-penulisRomawi, terutama Plinius.
Para petani pada masa-masa awal pertanian selalu menyimpan
sebagian benihuntuk pertanaman berikutnya dan tanpa sengaja melakukan pemilihan
(seleksi) terhadap tanaman yang kuat karena hanya tanaman yang kuat mampu
bertahan hingga panenSifat pertama dalam budidaya tanaman serealia (bijirin)
yang termuliakan adalah ukuranbulir yang menjadi lebih besar dan menurunnya
tingkat kerontokan bulir pada tanaman budidaya apabila dibandingkan dengan
moyang liarnya.[7] Beberapa petunjuk untuk hal ini dapat diperkirakan dari temuan
sejumlah sisa bulir jelai dan einkorn di lembah Sungai Eufrat dan Sungai Tigris
(paling tua 9000 SM) serta padi di daerah aliran Sungai Yangtze. Temuan serupa
untuk biji polong-polongan berasal dari India utara dan kawasan Afrika
Sub-Sahara
Perkembangan seleksi lebih lanjut telah menunjukkan
kesengajaan dan terkait dengan tingkat kebudayaan masyarakat penanam. Bulir
jagung terseleksi dari teosinteyang bulirnya keras serta terbungkus sekam, lalu
menjadi jagung bertongkol namun bulirnya masih terbungkus sekam, dan akhirnya
bentuk yang berbulir tanpa sekam dan lebih mudah digiling menjadi semakin
banyak ditemukan. Beberapa petunjuk yang sama juga terlihat dari temuan-temuan
untuk bulir gandum roti dan jelai. Contoh lainnya adalah munculnya padi ketan
serta jagung ketan di Asia Timur dan Asia Tenggara. Hanya dari wilayah inilah
muncul jenis-jenis ketan dari delapan spesies dan menunjukkan preferensi akan
sifat ini.
Pemuliaan pada masa pramodern
Kebudayaan Romawi Kuna (abad ke-9 SM – abad ke-5 Masehi)
meninggalkan banyak tulisan mengenai keanekaragaman tanaman budidaya dan juga
menyebut berbagai variasi setiap jenis. Cato dengan De Agri Cultura[8] dan
Plinius yang Tua denganNaturalis Historia, misalnya, memberi banyak informasi
mengenai variasi tanaman dan khasiat masing-masing bagi kesehatan.
Kitab-kitab suci dari Asia Barat, seperti Al-Qur'an, juga
menyebut tentang variasi pada beberapa tanaman. Hal ini menunjukkan telah ada
kesadaran dalam memilih bahan tanam dan pemilihan kultivar tertentu dengan
target konsumen yang berbeda-beda.
Pada awal milenium pertama dan paruh pertama milenium kedua
telah terjadi pertukaran komoditi pertanian yang berakibat migrasi sejumlah
bahan pangan. Pisangmenyebar dari Asia Tenggara maritim ke arah barat hingga
pantai timur Afrika. Berbagai tanaman rempah, seperti merica dan ketumbar, dan
tanaman "suci", seperti randu alasdan beringin, menyebar dari India
ke Nusantara. Namun demikian, pertukaran tanaman yang intensif terjadi setelah
penjelajahan orang Eropa.
Meskipun penyebaran tanaman telah terjadi sebelum
kolonialisme, Zaman Penjelajahan (sejak abad ke-14) dan kolonialisme
(penjajahan) yang menyusulnya telah membawa pengaruh yang dramatis dalam
budidaya tanaman.
Segera setelah orang Spanyol dan Portugis menaklukkan
Amerika dan menemukan jalur laut ke Cina, terjadi pertukaran berbagai tanaman
dari Dunia Baru keDunia Lama, dan sebaliknya. Kopi yang berasal Afrika,
misalnya, dibawa ke Amerika dan Asia (dibawa ke Nusantara pada abad ke-18
awal).[10] Kelak (abad ke-18) tebu juga menyebar dari Asia Tenggara menuju
Amerika tropis, seperti Karibia dan Guyana. Namun demikian, yang lebih intensif
adalah penyebaran berbagai tanaman budidaya penduduk asli Amerika ke tempat
lain: jagung, kentang, tomat, cabai, kakao, para (karet), serta berbagai tanaman
buah dan hias.
Pada abad ke-18, terjadi gelombang rasionalisasi di Eropa
sebagai dampak Masa Pencerahan. Orang-orang kaya di Eropa (dan pada tingkat
tertentu juga di Cina dan Jepang) mulai meminati koleksi tanaman eksotik dan
kebun-kebun kastil mereka yang luas menjadi tempat koleksi berbagai tanaman
dari negeri asing. Pada abad ke-18 mulai berkembang perkebunan-perkebunan
monokultur (satu macam tanaman pada satu petak lahan). Berbagai tanaman
penghasil komoditi dagang utama dunia seperti tebu, teh, kopi,lada, dan tarum
dibudidayakan di berbagai tanah jajahan, termasuk Kepulauan Nusantara, tentu
saja dengan melibatkan perbudakan atau tanam paksa. Pada abad ini pula cengkeh
dan pala mulai ditanam di luar Maluku, sehingga harganya menurun dan tidak lagi
menjadi rempah-rempah yang eksklusif.
Pola pertanaman monokultur yang diterapkan pada abad ke-18
dan ke-19 di Eropa dan perkebunan-perkebunan di berbagai negeri jajahan memakan
korban dengan terjadinya dua wabah besar: serangan hawar kentang Phytophthora infestans
yang menyebabkan Wabah Kelaparan Besar di Irlandia, Skotlandia serta beberapa
wilayah Eropa lainnya sejak 1845 akibat dan hancurnya perkebunan kopi arabika
dan liberikaakibat serangan karat daun Hemileia vastatrix di perkebunan dataran
rendah Afrika dan Asia sejak 1861 sampai akhir abad ke-19. Pada tahun 1880-an
juga meluas wabahpenyakit sereh di berbagai perkebunan tebu dunia.
Para botaniwan dan ahli pertanian kemudian segera mengambil
pelajaran dari kasus-kasus ini untuk menyediakan bahan tanam yang tahan
terhadap serangan organisme pengganggu, sekaligus memberikan hasil yang lebih
baik. Usaha-usaha perbaikan mutu genetik tanaman perkebunan mulai dilakukan
pada akhir abad ke-19 di beberapa daerah koloni, termasuk Hindia-Belanda.
Kebun penelitian gula (tebu) pertama kali didirikan di
Semarang tahun 1885 (Proefstation Midden Java), setahun kemudian didirikan pula
di Kagok, Jawa Barat, dan menyusul di Pasuruan tanggal 8 Juli 1887
(Proefstation Oost Java, POJ). Salah satu misinya adalah mengatasi kerugian
akibat penyakit sereh. Pada tahun 1905 seluruh penelitian gula/tebu dipusatkan
di Pasuruan (sekarang menjadi P3GI). Berbagai klon tebu hasil lembaga
penelitian ini pernah termasuk sebagai kultivar tebu paling unggul di dunia di
paruh pertama abad ke-20, seperti POJ 2364, POJ 2878, dan POJ 3016 sehingga
menjadikan Jawa sebagai produsen gula terbesar di belahan timur bumi.
Pusat penelitian karet (sekarang menjadi Pusat Penelitian
Karet Indonesia) didirikan di Sungei Putih, Sumatera Utara, oleh AVROS, dan pemuliaan
para dimulai sejak 1910. AVROS juga mendirikan lembaga penelitian kelapa sawit
(sekarang populer sebagai PPKS) di Marihat, Sumatera Utara pada tahun 1911,
meskipun tanaman ini sudah sejak 1848 didatangkan ke Medan/Deli dan Bogor.
Abad ke-20: Pemuliaan berbasis ilmu
Awal abad ke-20 menjadi titik perkembangan pemuliaan tanaman
yang berbasis ilmu pengetahuan. Perkembangan pesat dalam botani, genetika,
agronomi, dan statistikatumbuh sebagai motor utama modernisasi pemuliaan
tanaman sejak awal abad ke-20 hingga 1980-an. Mekanisasi pertanian di dunia
yang meluas sejak 1950-an memungkinkan penanaman secara massal dengan tenaga
kerja minimal. Ketika biologi molekular tumbuh pesat sejak 1970-an, pemuliaan
tanaman juga mengambil manfaat darinya, dan mulailah perkembangan pemuliaan
tanaman yang didukung ilmu tersebut sejak 1980-an. Bioinformatika juga
perlahan-lahan mengambil peran statistika sebagai pendukung utama dalam
analisis data eksperimen.
Penemuan kembali Hukum Pewarisan Mendel pada tahun 1900,
eksperimen terhadap seleksi atas generasi hasil persilangan dan galur murni
oleh Wilhelm Johannsen (dekade pertama abad ke-20), peletakan dasar Hukum
Hardy-Weinberg (1908 dan 1909), dan penjelasan pewarisan kuantitatif berbasis
Hukum Mendel oleh Sir Ronald Fisher pada tahun 1916 memberikan banyak
dasar-dasar teoretik terhadap berbagai fenomena yang telah dikenal dalam
praktik dan menjadi dasar bagi aplikasi ilmu dan teknologi dalam perbaikan
kultivar.
Perkembangan yang paling revolusioner dalam genetika dan
pemuliaan tanaman adalah ditemukannya cara perakitan varietas hibrida pada
tahun 1910-an setelah serangkaian percobaan persilangan galur murni di Amerika
Serikat sejak akhir abad ke-19 oleh Edward M. East, George H. Shull dan Donald
F. Jones yang memanfaatkan gejalaheterosis. Ditemukannya teknologi mandul
jantan di tahun 1940-an semakin meningkatkan efisiensi perakitan varietas
hibrida.
Cara budidaya yang semakin efisien dan mendorong
intensifikasi dalam pertanian, dengan penggunaan pupuk kimia, pestisida, dan mekanisasi
pertanian, memunculkan lahan pertanian dengan kebutuhan benih berjumlah besar
dan mulai menghasilkan "raksasa" dalam industri perbenihan. Tumbuhnya
industri perbenihan juga dimungkinkan sejak adanya varietas hibrida karena
benih yang harus dibeli petani memungkinkan industri perbenihan untuk tumbuh.
Dari sini mulai muncul pula isuperlindungan varietas tanaman. Di Amerika
Serikat muncul Dekalb dan Pioneer Hi-Bredsebagai pemain utama dalam industri
benih. Dari Eropa, wilayah yang telah memulai produksi benih setengah
industrial pada abad ke-19, muncul KWS Saat dan NPZ(Jerman), serta SW Seeds
(Swedia) sebagai pemain utama di bidang perbenihan tanaman serealia dan pakan
ternak hijauan. Di Taiwan dan Jepang juga berkembang perusahaan benih yang
menguasai pasar regional Asia, seperti Sakata (Jepang) dan Known You Seeds
(Taiwan).
Seusai Perang Dunia II (PD II) perbaikan genetik gandum yang
didukung Yayasan Rockefeller di lembaga penelitian yang didanainya di Meksiko
sebagai bagian dari paket teknologi untuk melipatgandakan hasil gandum
menunjukkan keberhasilan. Strategi ini, yang dikonsep oleh Norman Borlaug,
kemudian dicoba untuk diterapkan pada tanaman pokok lain, khususnya padi dan
beberapa serealia minor lainnya (seperti sorgum danmilet) dan didukung oleh
FAO. Revolusi dalam teknik bercocok tanam ini kelak dikenal secara iinformal
sebagai Revolusi Hijau. Untuk mendukung revolusi ini banyak dibentuk
lembaga-lembaga penelitian perbaikan tanaman bertaraf dunia seperti CIMMYT (di
Meksiko, 1957; sebagai kelanjutan dari lembaga milik Yayasan Rockefeller), IRRI
(diFilipina, 1960), ICRISAT (di Andhra Pradesh, India, 1972), dan CIP (di La
Molina, Peru). Lembaga-lembaga ini sekarang tergabung dalam CGIAR dan koleksi
serta hasil-hasil penelitiannya bersifat publik.
Akhir PD II juga menjadi awal berkembangnya teknik-teknik
baru dalam perluasan latar genetik tanaman. Mutasi buatan, yang tekniknya
dikenal sejak 1920-an, mulai luas dikembangkan pada tahun 1950-an sampai dengan
1970-an sebagai cara untuk menambahkan variabilitas genetik. Pemuliaan dengan
menggunakan teknik mutasi buatan ini dikenal sebagai pemuliaan mutasi. Selain
mutasi, teknik perluasan latar genetik juga menggunakan teknik poliploidisasi
buatan menggunakan kolkisin, yang dasar-dasarnya diperoleh dari berbagai
percobaan oleh Karpechenko pada tahun 1920-an. Tanaman poliploid biasanya
berukuran lebih besar dan dengan demikian memiliki hasil yang lebih tinggi.
Daun dari kacang tanah yang telah direkayasa dengan sisipan
gen cry dariBacillus thuringiensis (bawah) tidak disukai ulat penggerek.
Gelombang bioteknologi, yang memanfaatkan berbagai metode
biologi molekuler, yang mulai menguat pada tahun 1970-an mengimbas pemuliaan
tanaman. Tanaman transgenik pertama dilaporkan hampir bersamaan pada tahun
1983, yaitu tembakau,Petunia, dan bunga matahari. Selanjutnya muncul berbagai
tanaman transgenik dari berbagai spesies lain; yang paling populer dan
kontroversial adalah pada jagung, kapas,tomat, dan kedelai yang disisipkan
gen-gen toleran herbisida atau gen ketahananterhadap hama tertentu.
Perkembangan ini memunculkan wacana pemberian hak patenterhadap metode, gen,
serta tumbuhan terlibat dalam proses rekayasa ini. Kalangan aktivis lingkungan
dan sebagian filsuf menilai hal ini kontroversial dengan memunculkan kritik ideologis
dan etis terhadap praktik ini sebagai reaksinya, terutama karena teknologi ini
dikuasai oleh segelintir perusahaan multinasional. Isu politik, lingkungan, dan
etika, yang sebelumnya tidak pernah masuk dalam khazanah pemuliaan tanaman,
mulai masuk sebagai pertimbangan baru.
Sebagai jawaban atas kritik terhadap tanaman transgenik,
pemuliaan tanaman sekarang mengembangkan teknik-teknik bioteknologi dengan
risiko lingkungan yang lebih rendah seperti SMART Breeding ("Pemuliaan
SMART") dan Breeding by Design, yang mendasarkan diri pada pemuliaan
dengan penanda, dan juga penggunaan
teknik-teknik pengendalian regulasi ekspresi gen seperti peredaman gen, dan
kebalikannya,pengaktifan gen.
Meskipun penggunaan teknik-teknik terbaru telah dilakukan
untuk memperluas keanekaragaman genetik tanaman, hampir semua produsen benih,
baik yang komersial maupun publik, masih mengandalkan pada pemuliaan tanaman
"konvensional" dalam berbagai programnya.
Di arah yang lain, gerakan pemuliaan tanaman
"gotong-royong" atau partisipatif (participatory plant breeding) juga
menjadi jawaban atas kritik hilangnya kekuasaan petani atas benih. Gerakan ini
tidak mengarah pada perbaikan hasil secara massal, tetapi lebih mengarahkan
petani, khususnya yang masih tradisional, untuk tetap menguasai benih yang
telah mereka tanam secara turun-temurun sambil memperbaiki mutu genetiknya.
Perbaikan mutu genetik tanaman ditentukan sendiri arahnya oleh petani dan
pemulia membantu mereka dalam melakukan programnya sendiri. Istilah
"gotong-royong" (participatory) digunakan untuk menggambarkan
keterlibatan semua pihak (petani, LSM, pemulia, dan pedagang benih) dalam
kegiatan produksi benih dan pemasarannya. Gerakan ini sangat memerlukan
dorongan dari organisasi non-pemerintah (LSM), khususnya pada masyarakat tidak
berorientasi komersial.
Template Picture Window. Diberdayakan oleh Blogg
enjadi jawaban atas kritik hilangnya kekuasaan petani atas benih. Gerakan ini
tidak mengarah pada perbaikan hasil secara massal, tetapi lebih mengarahkan
petani, khususnya yang masih tradisional, untuk tetap menguasai benih yang
telah mereka tanam secara turun-temurun sambil memperbaiki mutu genetiknya.
Perbaikan mutu genetik tanaman ditentukan sendiri arahnya oleh petani dan
pemulia membantu mereka dalam melakukan programnya sendiri. Istilah
"gotong-royong" (participatory) digunakan untuk menggambarkan
keterlibatan semua pihak (petani, LSM, pemulia, dan pedagang benih) dalam
kegiatan produksi benih dan pemasarannya. Gerakan ini sangat memerlukan
dorongan dari organisasi non-pemerintah (LSM), khususnya pada masyarakat tidak
berorientasi komersial.sumber : blogismailputramanimpaho.blogspot.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar